Oleh: Mahros Darsin

mahros_unej

Dosen Fakultas Teknik Universitas Jember dan PhD Student in Mechanical Engineering at AUT University, Auckland, New Zealand

Adalah menjadi tuntutan Undang-Undang seorang dosen meraih jenjang minimal S-2. Ya begitulah seharusnya. Kurang keren jika seorang sarjana S-1 dihasilkan oleh dosen dengan kualifikasi S-1 juga. Jeruk kok makan jeruk! Begitu kira-kira istilah kesehariannya menirukan iklan Joshua. Sedangkan panggilan seorang dosen harus mencapai minimal S-3 adalah tuntutan global. Maknanya, di mana-mana di negeri yang tergolong maju tidak akan dapat menjadi dosen jika belum doktor.

Menjadi dosen, bagi saya, bukanlah pilihan hati atau cita-cita. Namun barangkali guratan takdir saya harus melakoni hidup sebagai dosen. Walau demikian, saya berusaha profesional dalam menjalani karir. Tahun-tahun pertama, saya tertinggal jauh dari teman seangkatan, dalam hal jenjang kepangkatan. Perolehan jabatan Asisten Ahli Madya saya peroleh setelah hampir empat tahun berkarir. Seiring waktu saya berusaha mengejar dan Alhamdulillah dapat menyamai mereka kembali. Bahkan termasuk kelompok awal dari Universitas Jember yang dapat lolos sertifikasi.

Dalam hal studi lanjut S-3, walau terlambat saya tetap harus mengejar. Memanfaatkan aji mumpung! Pada saat PNS lain hanya dapat berangkat S-3 jika belum 40 tahun, toleransi bagi dosen boleh sampai usia 50 tahun sampai tahun 2015. Maka tekad pun menggelora ditambah dukungan penuh dari istri tercinta.

Di saat harus memilih

Pada usia 38 tahun saya dipercaya menjabat Pembantu Dekan I, sebuah jabatan yang cukup bergengsi. Namun tekad saya untuk berangkat studi lanjut tak surut. Bahkan ketika pak Dekan mau menggandeng, saya sudah memberi syarat kalau saya diterima S-3, maka posisi jabatan akan saya tinggalkan. Pak Dekan mengerti dan mengiyakan. Di saat menjabat sempat saya minta ijin mengikuti pelatihan Bahasa Inggris di ITB (bridging program). Hasil ujian IELTS tidak mengecewakan, dapat 6.5! Nilai minimal untuk dapat daftar S-3 di luar Negeri. Alhamdulillah! Usai pelatihan kemudian menyusul berakhir masa jabatan sebagai PD I. Lamaran kedua datang dari pak Dekan untuk mendampingi kembali pencalonan. Untuk kali ini, saya harus menolak, karena usia sudah 42, kapan lagi mau berangkat sekolah kalau harus sibuk menjabat?

Keberangkatan yang tertunda

Pada saat bridging, saya memang konsentrasi belajar Bahasa Inggris. Sementara banyak kolega sambil mencari dan mendaftar dan pendekatan sana-sini. Hasilnya, memang berbeda. Banyak dari kolega seangkatan sudah berangkat dengan LoA conditional (harus mengambil kursus Bahasa di univertas yang dituju). Saya melakukan pendekatan ke banyak professor setelah kembali ke kampus asal. Tiap malam kerjanya browsing topik riset, beasiswa, kirim email ke professor. Ada yang menanggapi tapi sedang penuh bimbingannya, banyak juga yang tak terbalas. Ada yang siap membimbing tapi harus cari beasiswa sendiri. Saat itu, dengan sering mendengar berita keterlambatan pencairannya, Beasiswa DIKTI hanyalah menjadi alternatif terakhir jika terpaksa.

Yah, akhirnya Beasiswa DIKTI yang harus saya pilih. Karena yang lain banyak yang memberi syarat umur. Tidak mudah juga mendapat Beasiswa DIKTI ini. Setelah segala syarat dikirim, tinggal menunggu panggilan wawancara. Panggilan pertama, missed call. Panggilan mendadak pada saat saya menghadiri sebuah international conference di Lombok. Kata teman-teman memang begitu, sering pengumunan panggilan sehari sebelum acara wawancara. Setelah diurus akhirnya dapat kesempatan wawancara pada panggilan kedua. Hasilnya tidak lulus gara-gara yang saya dapat dari AUT University adalah LoO (Letter of Offer) bukan LoA (Letter of Acceptance). Menghubungi DIKTI bukanlah hal mudah. Untung dapat nomor kontak Pak John Pariwono salah seorang pengurus Beasiswa DIKTI yang dapat diajak komunikasi dan memahami bahwa di kawasan Australasia memang bernama LoO bukan LoA. Beliau berjanji akan mengevaluasi hasil kelulusan dan jika layak akan dinyatakan dalam pengumuman susulan. Harap cemas masih menyelimuti sampai beberapa bulan sampai benar dinyatakan lolos Beasiswa DIKTI dan mengikuti pembekalan pra keberangkatan pada akhir tahun 2013.

Saat pembekalan juga mendapatkan saran untuk berangkat bulan April, karena bulan tersebut biasanya dana baru cair. Ya sudah, nurut. Akhirnya meminta ke universitas tujuan untuk memberi tangguh saat mulai studi.

Seakarang tinggal urus passport, visa, tugas belajar dan tetek bengek yang berkaitan dengan administrasi dan persuratan yang cukup rumit. Bayangkan sebuah surat pengantar dari Ditjen Sumber Daya untuk ke BKLN (Biro Kerjasama Luar Negeri) yang masih dalam naungan DIKTI perlu waktu 40 hari. Itu pun kita ditelpon untuk mengambil surat tersebut dan mengantarkannya sendiri ke BKLN yang hanya beda gedung di komplek Kemendikbud Senayan. Seruwet apa pun tahap ini harus saya lewati. Kalau mau agak mudah ya harus “mengerti” dengan mereka para petugas itu. Dengan sedikit “kemengertian” ini paspor dinas, surat ijin, exit permit, dll. dikirim ke alamat rumah.

Memboyong keluarga

Hidup sendiri di luar negeri bagi yang sudah berkeluarga bukanlah hal yang mudah. Acara memboyong keluarga dipersiapkan sejak sebelum berangkat, mulai dari mengajari keluarga bagaimana naik pesawat. Maklum kami bukan dari kalangan atas yang biasa terbang. Di sela studi, mencari rumah atau apartment untuk persiapan keluarga datang. Melihat di internet, viewing, melamar rumah yang kira-kira cocok. Lima atau enam kali lamaran ditolak. Untung (sebagai orang Jawa yang selalu untung) ada teman jamaah masjid yang bekerja sebagai pengelola apartment dan dapat apartment di Railway  Campus yang terkenal murah meriah, langganan para pelajar Indonesia yang membawa keluarga di Auckland.

Kerja paruh waktu

Kerja jadi kitchen hand pada waktu weekend pun aku jalani demi menopang kelangsungan hidup di Auckland yang sangat mahal. Dalam kalkulasi, Beasiswa $1900/bulan (x12 bulan : 52 minggu) = $438.5 per minggu. Padahal, untuk sewa apartment saja sudah $360/per week. Sisa $78.5 jelas tak akan cukup untuk makan seminggu. Untung (lagi-lagi orang Jawa selalu untung) ada Om Deddy, orang Indonesia yang sudah menjadi permanent resident di New Zealand, yang membantu saya dan menempatkan saya menjadi tukang cuci piring di restoran. Hasil kerja dua hari sekitar $180 cukup buat makan keluarga seminggu. Kerja paruh waktu sempat berhenti setahun karena harus menyiapkan proposal kandidasi dan mendapat tunjangan keluarga dari beasiswa. Kembali bekerja! Itulah keputusan yang kami ambil, ketika dapat warning dari land lord kalau tariff sewa apartment mau dinaikkan menjadi $400/week.

Lolos kandidasi

Usia 40 tahun adalah usia kematangan. Bahkan ada pepatah live start at 40. Nabi Muhammad mendapat wahyu ketika usia 40. Namun saya merasakan cukup berat belajar di atas usia ini. Yang sudah didapat mulai menghilang lupa, yang baru susah masuk mengendap, apalagi harus mencari kabaharuan (novelty). Pada jenjang S-3, yang paling utama untuk disajikan adalah novelty atau kebaharuan. Proposal yang kami susun sebagai syarat pendaftaran S-3 dan sudah disetujui calon supervisor, harus diubah total. Persis seperti yang dikatakan para kolega yang sudah mendapat gelar doktor, bahwa kita harus menyusun proposal baru yang mungkin sangat berbeda dari proposal awal kita. Sidang kandidasi tertunda tiga bulan untuk mencapai kematangan proposal. Hasilnya lolos walau harus banyak revisi. Semua hasil tak lepas dari dukungan moral, semangat dan doa orang-orang dekat. Istri, anak, ibu dan saudara serta teman.

Publikasi

Dua setengah tahun telah berlalu. Eksperimen mulai menunjukkan hasil. Analisis tajam dan telilti pun disusun. Supervisor minta kita menyusun paper untuk publikasi. Ada satu international conference saya usulkan, namun waktu yang terlalu mepet tidak cukup untuk membuat artikel yang bagus. Satu paper harus bolak balik ke supervisor untuk penyempurnaan. Hasilnya alhamdulillah satu gol untuk international conference on processing and fabrication of advanced materials di univeritas tetangga, Auckland University. Paper kedua sedang dalam perbaikan dan secara formal draft sudah diterima di conference yang lain yang diselenggarakan oleh Hong Kong Society of Mechanical Engineer yang penyelengaraannya nunut di AUT, tempat kami belajar. Supervisor memberi tantangan untuk menyusun satu lagi paper untuk conference. Baru kelar saya kirim draft abstract-nya. Semoga lolos gol ketiga. Artikel untuk publikasi di jurnal bereputasi sedang dalam penggodokan. Supervisor sudah menyentil kalau hasil experiment yang kami peroleh sudah cukup banyak, tinggal bagaimana kami mampu meracik dan menyajikannya menjadi menu yang siap dikonsumsi masyarakat ilmiah.

Sukses studi, sukses keluarga, sukses sebagai manusia

Dalam grup riset kami, sayalah yang paling tua secara umur; hanya terpaut beberapa tahun dengan supervisor utama. Dalam kumpulan orang Indonesia yang studi S-3 di Auckland, saya ranking kedua secara umur. Tidak heran jika teman-teman memanggil Pak De ke saya dan Bu De ke istri saya untuk membiasakan cara memanggil anak-anak mereka kepada kami. Sebagai manusia yang utuh kita punya keluarga, punya masyarakat. Bagi saya tidak cukup hanya sukses studi. Harus sukses sebagai manusia normal. Studi, riset, laboratorium dan computer adalah teman seharian di kampus. Malam hari untuk keluarga, berbincang canda makan malam bersama.  Hari Minggu khusus untuk keluarga, walau sekedar jalan-jalan dan tak lupa membawa makan (picnic) di taman-taman yang banyak disediakan oleh pemerintah kota Auckland. Di sela break padatnya acara kampus, sempatkan sholat berjamaah di masjid kampus dan bersosialisasi dengan komunitas muslim yang multi etnik, mendengarkan nasihat agama berupa cerdum (ceramah dua menit) dari Imam masjid AUT. Selain itu ada berbagai kegiatan dari komunitas warga Indonesia di Auckland yang diorganisir oleh PPIA (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Auckland), HUMIA (Himpunan Umat Muslim Indonesia di Auckland), KIA (Komunitas Indonesia di Auckland) dan lain-lain. Khusus untuk warga Indonesia di apartment Railway Campus kita ada grup eRTeRelWe. Keterlibatan kita dengan komunitas yang ada akan menjadikan hidup kita lebih seimbang dan mengurangi rasa home sick.

Pesan moral

Tulisan kami dengan gaya penulisan kronologis dan bahasa populer ini semoga mampu memberi dorongan rekan dosen yang ingin studi lanjut. Tua usia bukanlah kendala untuk terus belajar. Apalagi dosen yang masih muda. Di tahun kedua saya studi, anak bungsu saya juga masuk universitas. Semoga keputusanku melanjutkan studi disertai kemudahan untuk sukses lulus. Juga mampu menginspirasi yang lain (terutama anak-anakku) untuk tetap terus giat belajar.