Berita Universitas Jember

Limbah Keramik Ternyata Bisa Menjadi Bahan Baku Beton Berkualitas

Jember, 31 Mei 2019

Indonesia di bawah pemerintahanan Presiden Joko Widodo mencanangkan pembangunan infrastruktur di segala bidang. Pembangunan infrastruktur yang masif ini tentunya memerlukan pendukung di segala sektor. Contohnya pembangunan jalan, gedung, dan jembatan memerlukan beton, dan beton memerlukan semen. Makin banyak pembangunan infrastruktur artinya makin banyak beton dan semen yang dibutuhkan dengan kualitas yang baik. Dan ternyata, beton berkualitas baik bisa dibuat dari limbah keramik, seperti temuan trio mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Jember angkatan 2018, Mochammad Miftahis Surur, Cierio Yuhanata dan Cahyani Wulandari.

“Setiap pembangunan infrastruktur pasti butuh beton yang bahan baku utamanya dari semen. Makin banyak pembangunan infrastruktur maka artinya butuh makin banyak semen, padahal produksi semen juga punya dampak negatif mulai dari kerusakan alam hingga polusi udara. Di lain sisi pembangunan infrastruktur terkadang juga membongkar atau merenovasi bangunan lama yang menghasilkan limbah, salah satunya limbah keramik untuk lantai. Nah limbah keramik ini sulit diurai di alam. Untuk itu kami berusaha memberikan alternatif pembuatan beton berkualitas dengan bahan limbah keramik untuk mengurangi bahan semen yang dibutuhkan, sekaligus mengurangi dampak pencemaran lingkungan,” tutur Cahyani Wulandari yang didapuk sebagai ketua tim yang mereka beri nama ID Logawa 2019.

Ditemui di Kampus Fakultas Teknik (31/5) ketiganya lantas melanjutkan penjelasannya.  “Dari kajian pustaka yang kami lakukan, keramik banyak mengandung silika, bahan yang memiliki daya rekat yang tinggi, tahan panas dan memiliki kekerasan yang baik sehingga cocok sebagai subsitusi semen dalam pembuatan beton bermutu baik,” ujar Miftahis Surur. Untuk diketahui, beton bermutu baik atau Self Compacting Concrete (SCC) dicirikan dengan salah satunya mampu mengalir memenuhi seluruh ruangan cetakan padat tanpa ada bantuan pemadatan manual, serta tahan mendapatkan tekanan atau tidak mudah retak.

Dalam proses pembuatannya, ketiganya mencampurkan limbah keramik yang sudah dihaluskan ke campuran pembuatan beton SCC yang terdiri dari semen, pasir, kerikil, air dan zat adiktif. “Dalam skala laboratorium kami membuat penelitian dengan menambahkan limbah keramik secara bervariasi pada bahan pembuatan SCC. Dari pengujian, ternyata campuran limbah keramik seberat 200 gram dengan semen tiga kilogram yang paling cocok dalam pembuatan SCC. Ini artinya mampu mensubstitusi atau mengurangi semen sebanyak sembilan persen,” kata Cierio Yuhananta.

Beton buatan ketiganya ternyata memenuhi kriteria beton bermutu baik atau SCC. Hal ini terbukti saat uji slump, beton dengan tambahan limbah keramik tadi ketika dituang di plat,  hanya meluber seluas 62 centimeter persegi hingga 64 centimeter persegi. Padahal batasan luber maksimal untuk SCC adalah 80 centimeter persegi, ini membuktikan beton yang mereka  kembangkan memenuhi syarat. Biaya pembuatan beton SCC menggunakan limbah keramik juga lebih murah. Jika umumnya pembuatan beton SCC untuk per meter perseginya mencapai 782 ribu rupiah, maka beton SSC dengan limbah keramik hanya butuh biaya 751 ribu rupiah.

Kreativitas ketiganya mendapatkan apresiasi, terbukti karya tim ID Logawa 2019 berhasil menjadi juara video favorit dalam National Concrete Competition (Nacoco) 2019 yang digelar oleh Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purwokerto bulan Maret 2019 lalu. Ajang Nacoco tahun ini mengambil tema inovasi beton yang ramah lingkungan. “Tentu perlu penelitian lanjutan agar dihasilkan berapa komposisi limbah keramik yang paling pas dan paling ekonomis untuk menggantikan semen dalam pembuatan beton SCC, sehingga temuan kami bisa diaplikasikan di skala industri. Harapannya, limbah keramik yang ada dapat dimanfaatkan dengan baik,” pungkas Mochammad Miftahis Surur yang diiyakan kedua koleganya. (iim)