Berita Universitas Jember

UNEJ Menuju Kampus Ramah Gender

Jember, 22 Mei 2019

Terjadinya kasus pelecehan seksual terhadap mahasiswi di lingkungan kampus di Indonesia menimbulkan respon beragam dari berbagai pihak. Termasuk dari kalangan pegiat gender di lingkungan Universitas Jember. Karena kampus yang seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi semua kalangan justeru tercoreng dengan terjadinya berbagai pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab.

Oleh karena itu Universitas Jember bertekad akan membangun lingkungan kampus yang menjamin nuansa aman dan nyaman bagi perempuan. Tekat ini disampaikan langsung oleh Rektor Universitas Jember dalam acara whorkshop “Mewujudkan Unej Sebagai Kampus Modern, Aman dan Ramah Gender” di aula lantai III kantor pusat Univesitas Jember, (22/5).

“Sehingga saat mahasiswi berada di mana saja dan kapan saja di wilayah UNEJ tidak perlu kawatir terjadinya tindakan pelecehan. Oleh karena itu kami butuh peran serta semua pihak khususnya mahasiswa dalam menciptakan suasana akademis yang betul-betul ramah terhadap perempuan,” ujar Rektor.

Dalam acara yang di selenggarakan oleh The Centre for Human Rights, Multiculturalism and Migration (CHRM2) Rektor mengatakan, selama ini Universitas Jember sebetulnya telah menyediakan pusat layanan konseling bagi mahasiswa. Sehingga menurutnya, bagi mahasiswa yang merasa mendapatkan perlakukan tidak patut dari siapapun dapat menyampaikan keluhannya pada pusat layanan tersebut.

“Kami sepakat bahwa penanganan pelecehan seksual yang terjadi pada mahasiswi tidak hanya berbicara sanksi terhadap pelaku. Tetapi yang perlu diperhatikan juga dampak terhadap psikologis korban. Mungkin korban takut nilainya jelek, tidak lulus ataupun ketakutan lainnya terkait proses akademiknya di kampus,” jelas Rektor.

Sementara itu Dina Tsalist Wildana dosen Universitas Jember yang aktif dalam penelitian terkait isu-isu gender mengatakan, Universitas Jember perlu membuat regulasi yang jelas terkait pencegahan dan penanganan terhadap segala tindakan kekerasan seksual yang berpotensi terjadi. Karena menurut Dina, pelecehan seksual yang terjadi dilingkungan pendidikan bisa dipicu oleh banyak faktor. Salah satunya adanya relasi kuasa antara dosen dengan mahasiswa.

“Terkadang mahasiswi itu takut. Takut nilainya jelek, takut tidak luluslah atau ketakutan lainnya yang kemudian menyebabkan mereka bungkam saat dosen melakukan tindakan asusila terhadap dirinya. Bisa jadi mereka tidak berani menolak saat diancam dengan nilai,” kata Dina.

Untuk itu Dina mengatakan akan memberikan rekomendasi kebijakan yang bisa dijadikan pertimbangan untuk membangun sistem akademik yang ramah perempuan.

“Diakhir whorkshop kami bersama bersama Pelayanan Bantuan Hukum UNEJ, Kelompok Riset Perlindungan Perempuan, Serikat Pengajar HAM Indonesia, LBH Jenthera, dan Aliansi Mahasiswa Peduli Penghapusan Kekerasan Seksual akan memberikan rekomendasi kebijakan agar UNEJ menjadi kampus pelopor dalam memberikan perlindungan terhadap perempuan,” pungkas Dina.