Peringatan Isra Mikraj Jadi Momentum Menata Hati dan Iman Sivitas Akademika UNEJ

Jember, 19 Januari 2026

Universitas Jember (UNEJ) memanfaatkan peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad S.A.W.

1447 Hijriah/2026 Masehi sebagai momentum penting bagi seluruh sivitas akademika untuk kembali menata hati dan menguatkan keimanan. Bertempat di Masjid Al-Hikmah, (19/1), acara ini menghadirkan K.H. Badrus Shodiq, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hidayah Bangsalsari sekaligus Wakil Rais Syuriah PCNU Jember, untuk memberikan pencerahan rohani baik kepada para dosen, tenaga kependidikan dan juga mahasiswa yang turut hadir.

Mewakili Rektor Universitas Jember, Wakil Rektor I Bidang Akademik, Prof. Drs. Slamin, M.Comp.Sc., Ph.D., membuka acara tersebut secara resmi. Dalam sambutannya, Prof. Slamin mengapresiasi kehadiran peserta yang memadati masjid, sembari mengingatkan bahwa esensi “Isra” bagi warga kampus adalah perjalanan dari ruang kerja menuju masjid untuk beribadah.

Prof. Drs. Slamin, M.Comp.Sc., Ph.D., Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Jember, menyampaikan sambutan sekaligus membuka secara resmi peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW di Masjid Al-Hikmah UNEJ.

“Peringatan Isra Mikraj ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa perjalanan spiritual bukan hanya soal peristiwa. Datang ke masjid adalah bentuk ‘isra’, sementara membersihkan hati dan meneguhkan iman itulah ‘mikraj’ yang harus terus kita upayakan bersama,” ujar Prof. Slamin.

Sementara itu, K.H. Badrus Soddiq dalam ceramahnya menekankan pentingnya keseimbangan antara hubungan vertikal dengan Tuhan (Hablum Minallah) dan hubungan horizontal sesama manusia (Hablum Minannas). Dalam konteks kekinian, beliau memaknai Isra sebagai simbol relasi sosial, sementara Mikraj sebagai simbol hubungan spiritual dengan Tuhan.

K.H. Badrus Shodiq, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hidayah Bangsalsari saat memberikan tausiah.

“Ada orang yang ‘mikraj’-nya bagus, rajin salat tahajud, khatam Al-Qur’an, dan berkali-kali umrah, tetapi ‘isra’-nya bermasalah. Misalnya, dadanya terasa sesak atau muncul rasa iri ketika melihat tetangganya membeli mobil baru. Ini menjadi tantangan kita agar ibadah ritual benar-benar tercermin dalam perilaku sosial,” tutur Kiai Badrus.

Dalam tausiahnya, Kiai Badrus juga memberikan peringatan keras mengenai dampak dosa-dosa besar, seperti meninggalkan salat dan perbuatan zina, sekaligus menghimbau setiap individu untuk selalu menumbuhkan rasa syukur, saling menghargai, serta menjaga akhlak dan tanggung jawab moral dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan peringatan Isra Mikraj tersebut ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh K.H. Badrus Soddiq, sebagai ikhtiar memohon keberkahan, keteguhan iman, serta kemudahan dalam menjalankan amanah dan pengabdian. Doa bersama ini menjadi penanda harapan agar nilai-nilai spiritual yang disampaikan dapat terinternalisasi dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari. (qf)

#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #Lain-lain