Jember, 28 Januari 2026
Rendahnya produktivitas tebu nasional yang berdampak langsung pada ketahanan gula Indonesia menjadi pijakan riset doktoral yang dikembangkan Dr.
Intan Ria Neliana, S.Pd., M.Biotek di Universitas Jember (UNEJ). Berangkat dari tantangan tersebut, riset doktoral pertama di bidang Bioteknologi UNEJ lahir dan berkembang menjadi penelitian mendalam yang mengungkap kompleksitas infeksi virus mosaik pada tanaman tebu di Jawa Timur.Melalui riset yang dijalaninya selama 3,5 tahun, Intan, lulusan pertama Program Doktor Bioteknologi UNEJ, berhasil membuktikan bahwa penyakit mosaik pada tebu tidak selalu disebabkan oleh satu jenis virus. Penelitiannya menunjukkan adanya infeksi ganda hingga triple virus mosaik, sebuah temuan yang menjadi laporan pertama di Indonesia dan menjelaskan mengapa upaya pengendalian selama ini kerap belum memberikan hasil optimal.
“Hal yang paling menarik bagi saya adalah ketika berhasil membuktikan adanya infeksi double dan triple virus mosaik pada tanaman tebu di perkebunan Jawa Timur,” ungkap Intan. “Temuan ini penting karena membuka pemahaman baru tentang kompleksitas penyakit mosaik dan langkah strategis yang perlu dilakukan untuk menanganinya.”

Dalam disertasinya, Intan mengidentifikasi keberadaan _Sugarcane Mosaic Virus_ (SCMV), _Sugarcane Streak Mosaic Virus_ (SCSMV), dan _Sorghum Mosaic Virus_ (SrMV) pada sejumlah varietas tebu yang ditanam di empat lokasi berbeda di Jawa Timur. Dari 61 sampel yang dianalisis secara molekuler, sebagian besar terkonfirmasi terinfeksi SCMV dan SCSMV, bahkan ditemukan tanaman dengan infeksi ganda dan triple virus yang memperparah penurunan fungsi fotosintesis.
Berangkat dari temuan tersebut, riset ini tidak berhenti pada pemetaan masalah. Intan juga mengembangkan antibodi poliklonal berbasis protein rekombinan yang mampu mendeteksi virus mosaik secara sensitif dan spesifik melalui metode imunoblotting, _Immuno-Capture RT-PCR_, dan ELISA. Inovasi ini membuka peluang deteksi dini penyakit mosaik di lapangan, sehingga petani dapat mengambil langkah pencegahan lebih cepat.
Di sisi lain, sebagai solusi jangka panjang, penelitian Intan juga mengarah pada pengembangan ketahanan genetik tanaman. Melalui pendekatan RNA interference (RNAi), Intan berhasil mengonstruksi plasmid RNAi untuk gen _coat protein_ SCMV dan SCSMV sebagai dasar pengembangan tanaman tebu dengan ketahanan ganda terhadap virus mosaik. Varietas tebu NX-04 yang rentan terhadap virus mosaik telah berhasil diperbanyak dan digunakan sebagai eksplan dalam tahap awal transformasi genetik.

Di balik capaian riset tersebut, perjalanan akademik Intan tidak selalu berjalan mulus. Tantangan manajemen waktu, tuntutan kualitas data penelitian, hingga proses eksperimen yang panjang menjadi bagian dari dinamika studi doktoralnya.
“Penelitian ini membutuhkan ketelitian dan kesabaran tinggi. Ada banyak tahapan yang harus diulang agar hasilnya benar-benar valid,” tuturnya. Di tengah proses tersebut, dukungan keluarga menjadi kekuatan utama yang membuatnya tetap bertahan. “Keluarga selalu mendukung melalui doa dan semangat agar saya tetap berkomitmen menyelesaikan studi ini.”
Keberhasilan menyelesaikan studi doktoral, disertai capaian publikasi ilmiah, menjadikan Intan sebagai tonggak penting dalam pengembangan Program Doktor Bioteknologi UNEJ. Ia berharap riset bioteknologi dapat terus dikembangkan sebagai solusi berbasis sains untuk menjawab tantangan pertanian dan ketahanan pangan nasional.

“Jika memiliki kesiapan ilmu dan komitmen, studi doktoral bukanlah hal yang menakutkan. Justru di sanalah kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa dapat dimulai,” pungkasnya. (qf/ajf)
#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #Profil

