Jember, 26 Februari 2026
Di tengah percepatan revolusi kecerdasan buatan dan otomasi global, Universitas Jember (UNEJ) kembali menegaskan komitmennya dalam menghasilkan inovasi teknologi yang berdampak sosial tinggi.
Hal ini tercermin dari kiprah Prof. Khairul Anam, Guru Besar bidang Instrumentasi dan Kontrol, yang dikukuhkan pada 12 Februari 2026 lalu. Ia mengembangkan sistem kendali cerdas berbasis kecerdasan buatan yang memanfaatkan sinyal biologis manusia seperti suara, sinyal otot (EMG), dan sinyal otak (EEG) untuk teknologi asistif bagi penyandang disabilitas.Melalui orasi ilmiahnya yang bertajuk “Niat, Kecerdasan Buatan, dan Teknologi Asistif: Menuju Integrasi Manusia dan Mesin”, Prof. Anam menegaskan bahwa masa depan teknologi tidak hanya berbicara tentang presisi teknis, tetapi juga tentang bagaimana mesin mampu memahami niat manusia dan memperluas kapasitas hidup penggunanya.
Penelitian yang dikembangkan Prof. Anam berfokus pada sistem kendali berbasis niat manusia (human intention-based control system), di mana kecerdasan buatan berperan menerjemahkan sinyal biologis menjadi perintah yang dapat dijalankan mesin. Pendekatan ini membuka peluang besar bagi penyandang disabilitas untuk mengendalikan perangkat bantu secara lebih alami dan adaptif.
Ketertarikan Prof. Anam pada teknologi asistif tidak semata-mata lahir dari ruang laboratorium, melainkan dari interaksi langsung dengan masyarakat. Salah satu momen paling membekas adalah perjumpaannya dengan seorang penyandang disabilitas bernama Pak Kusbandono.
“Beliau menyampaikan rasa haru karena merasa masih ada pihak yang peduli dan memikirkan kebutuhan mereka. Pengalaman itu menyadarkan saya bahwa riset ini bukan sekedar persoalan teknis, melainkan menyangkut martabat dan harapan manusia,” ungkap Prof. Anam. Ia memegang teguh prinsip inklusivitas agar tidak ada satupun kelompok masyarakat yang tertinggal (no one left behind).
Selain pengembangan sistem kendali cerdas untuk teknologi asistif, Prof. Anam juga memperluas risetnya pada pengembangan robot terapi pascastroke untuk rehabilitasi tangan atas, serta sistem pengering kopi portabel berbasis AI dan Internet of Things (IoT) sebagai bagian dari penguatan teknologi tepat guna berbasis Industri 4.0.
Tantangan terbesar dalam bidang ini, menurutnya, adalah kompleksitas manusia itu sendiri. Sinyal biologis sangat dinamis dan dipengaruhi berbagai faktor fisik maupun emosional. Di sisi lain, riset ini menuntut integrasi lintas disiplin, mulai dari teknik kontrol, kecerdasan buatan, ilmu saraf, kedokteran, keperawatan, hingga sosial humaniora dan etika.
Keunikan lain dari sosok Prof. Anam adalah rekam jejak akademik dan spiritualnya. Meski merupakan seorang pakar teknik, ia adalah seorang Hafidz Qur’an yang juga menempuh pendidikan Magister Studi Islam. Ia meyakini bahwa teknologi seharusnya tidak hanya mempermudah kehidupan fisik, tetapi juga menguatkan nilai-nilai keagamaan.
Kegelisahannya dalam menjaga hafalan Al-Qur’an, khususnya bagi orang dewasa dengan keterbatasan waktu dan pendamping murojaah, mendorongnya melakukan riset yang tak biasa.
“Melalui kajian Magister Studi Islam, saya meneliti pemanfaatan kecerdasan buatan sebagai pendamping pembelajaran tahfidz. AI ini dirancang untuk memprediksi kesalahan bacaan, memberikan umpan balik objektif, dan menjadi teman murojaah yang konsisten. Pengalaman ini memperkuat pandangan saya bahwa teknologi dan agama, ketika dikembangkan dengan niat yang benar, bukanlah dua hal yang berseberangan,” jelasnya.
Dalam perjalanan akademiknya, Prof. Anam membangun rekam jejak riset yang kuat melalui publikasi bereputasi internasional, perolehan paten dan hak kekayaan intelektual, serta berbagai penghargaan akademik nasional dan internasional. Ia juga aktif memperluas kolaborasi global, termasuk sebagai Global Research Fellow di Universiti Kuala Lumpur pada 2026.
Meski deretan prestasinya gemilang, Prof. Anam menegaskan bahwa gelar profesor ini bukanlah hasil usaha pribadinya semata. Doa, pengorbanan, dan kesabaran dari istri, anak-anak, serta kedua orang tuanya adalah fondasi utamanya. “Sejak awal, mereka senantiasa menanamkan nilai keikhlasan dan keyakinan bahwa ilmu harus diabdikan untuk kemaslahatan,” pungkasnya.
Pengukuhan ini semakin menegaskan posisi Universitas Jember sebagai kampus riset berdampak yang mengembangkan inovasi teknologi inklusif dan berorientasi pada kemaslahatan manusia. (qf)



