Jember, 27 Februari 2026
Universitas Jember (UNEJ) terus memperkokoh posisinya sebagai pionir riset berbasis pertanian di Indonesia melalui penguatan sumber daya manusia akademiknya.
Langkah strategis ini kembali ditegaskan dengan lahirnya pakar baru di bidang Ekonomi Sumber Daya Manusia (SDM) Pertanian, Prof. Dr. Ir. Evita Soliha Hani, M.P.. Kehadirannya tidak hanya menambah deretan guru besar berkualitas, tetapi juga membawa perspektif baru dalam menjawab tantangan krisis petani di era bonus demografi.Pencapaian Prof. Evita di puncak karier akademik ini merupakan buah dari pendidikan karakter yang kuat di lingkungan keluarga. Tumbuh besar sebagai putri dari seorang Guru Besar di Fakultas Hukum UNEJ, Prof. Evita mewarisi nilai-nilai kedisiplinan dan kecintaan yang mendalam pada ilmu pengetahuan.
“Ayah saya adalah sosok yang tidak pernah lepas dari buku, baik di rumah maupun di area umum. Beliau mengajarkan bahwa dosen harus produktif menjalankan Tridarma Perguruan Tinggi dan wajib meraih gelar guru besar sebagai wujud nyata kepakaran ilmu,” ungkap Prof. Evita. Baginya, gelar profesor ini adalah wujud penunaian amanah sang ayah untuk terus berkontribusi bagi dunia pendidikan.
Dalam kajian kepakarannya, Prof. Evita menyoroti paradoks yang dihadapi Indonesia saat ini melalui orasi ilmiah berjudul “Bonus Demografi atau Krisis Petani? Telaah Ekonomi Sumber Daya Manusia dalam Ketahanan Pangan Indonesia.” Ia menekankan bahwa meskipun Indonesia memiliki kelimpahan penduduk usia produktif, sektor pertanian justru terancam oleh penuaan populasi petani dan rendahnya minat generasi muda.
Prof. Evita memaparkan bahwa ia kagum dengan manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan yang paling sempurna. Dengan memanfaatkan akal dan ide yang dimiliki, manusia mampu menciptakan dan mengoperasionalkan teknologi pertanian. Oleh karena itu, manusia disebut sebagai faktor utama pembangunan nasional, sehingga petani menjadi penentu keberhasilan tahan pangan.
“Sejak kecil, saya kagum dengan manusia sebagai ciptaan Allah yang paling sempurna. Kesempurnaan manusia dibanding dengan ciptaan Allah yang lainnya adalah manusia memiliki akal. Dengan adanya “akal” ini menjadikan manusia sebagai sumber daya terpenting. Dengan akalnya, manusia memiliki ide untuk terus menerus menghasilkan teknologi dan manusia juga yang mengoperasionalkan teknologi tersebut.” jelasnya.
Pada saat ini, Indonesia berada pada fase demographic dividend (bonus demografi) yang ditandai oleh kondisi dimana proporsi penduduk usia produktif melebihi jumlah penduduk usia non-produktif. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, maka akan menjadi beban ekonomi baru, pengangguran massal dan masalah sosial.

Berdasarkan hasil penelitiannya, Prof. Evita mengungkapkan seorang petani dapat berkontribusi secara signifikan di sektor pendidikan dan penelitian melalui inovasi pertanian berkelanjutan, adopsi teknologi digital seperti smart farming dan pembaharuan metode budidaya dapat menjembatani teori akademik melalui praktik lapangan, menyediakan data empiris untuk penelitian lanjutan, serta meningkatkan efisiensi sumber daya.
“Hasil penelitian petani, khususnya pemuda tani berkontribusi signifikan pada dunia pendidikan dan penelitian melalui inovasi pertanian berkelanjutan, adopsi teknologi digital (smart farming) dan pembaruan metode budidaya. Mereka menjembatani teori akademik dengan praktik lapangan, menyediakan data empiris untuk penelitian lanjutan, serta meningkatkan efisiensi sumber daya,” ucapnya.
Dalam menelaah ekonomi sumber daya manusia dalam dunia pertanian, Prof. Evita mengakui dihadapi oleh beberapa tantangan. Mulai dari krisis regenerasi, penuaan populasi petani serta keterbatasan kompetensi teknologi digital dan manajerial.
“Tantangan utama dalam ekonomi sumber daya manusia (SDM) pertanian meliputi krisis regenerasi akibat rendahnya minat generasi muda, penuaan populasi petani, serta keterbatasan kompetensi teknologi digital dan manajerial,” imbuhnya.
Selain aktif dalam riset, Prof. Evita dikenal sebagai akademisi yang memiliki rekam jejak kepemimpinan yang kuat di UNEJ. Beberapa poin penting dalam perjalanan kariernya meliputi kepemimpinan akademik dengan menjabat sebagai KPS Agribisnis, Wakil Dekan II, hingga Wakil Dekan I. Prestasi internasional dengan meraih predikat Presenter Terbaik dalam seminar internasional di Universiti Putra Malaysia. Dedikasi pengabdian sebagai penerima Satyalancana Karya Satya (30 tahun) dan penulis 4 buku teks utama di bidang ekonomi pertanian.
Sementara itu, dukungan keluarga selalu menyertai proses Prof. Evita dalam meraih gelar doktor. Baik dalam bentuk materi maupun non materi, sehingga semua itu dapat lebih menguatkan. “Suami dan anak-anak sangat mendukung saya untuk meraih gelar profesor. Supporting mereka dalam bentuk material maupun non material. Semangat mereka membarakan semangat saya. Doa mereka menguatkan doa saya,” pungkasnya. (dil/rb)
#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #Profil


