Jember, 16 Maret 2026
Inovasi berkelanjutan mahasiswa Teknik Pertambangan Universitas Jember (UNEJ) terus menunjukkan tajinya di panggung kompetisi.
Setelah sebelumnya sukses menyabet gelar juara di tingkat nasional pada tahun 2025, riset bertajuk TERAS-MINE ini kini melompat lebih jauh dengan meraih gelar International 1st Runner-Up dalam ajang Indonesian Students Mining Competition (ISMC) XV yang diselenggarakan di Institut Teknologi Bandung (ITB).Sektor pertambangan masa depan dihadapkan pada tantangan besar: rendahnya efisiensi energi terbarukan dan beban lingkungan akibat limbah. Di tengah urgensi global untuk mencari solusi Thermal Energy Storage (TES) yang efektif, tiga mahasiswa UNEJ—Ostwald Padang, Mario Zaky Ramadhan, dan Gaizka Rabbani Riady—berhasil menciptakan terobosan yang mengintegrasikan prinsip good mining practice dan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG).
Lahirnya riset ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap efisiensi panel surya yang saat ini masih tergolong rendah, yakni hanya berkisar antara 18 hingga 25 persen. “Kami mengikuti lomba ISMC XV di ITB yang diselenggarakan dua tahun sekali. Cabang yang kami ikuti adalah paper contest, di mana tema utamanya terkait lingkungan dan K3 pertambangan,” ungkap Ostwald.

Melalui riset mendalam, mereka menyusun sebuah paper mengenai media penyimpanan panas yang memanfaatkan Air Asam Tambang (AAT). Fokus utamanya adalah mengatasi kelemahan energi surya melalui sistem penyimpanan panas yang stabil. Inovasi yang diberi nama TERAS-MINE ini bekerja dengan mengintegrasikan konsep water energy nexus melalui pendekatan circular economy. Sistem ini mengubah Air Asam Tambang yang semula dianggap sebagai liabilitas lingkungan menjadi sumber daya bernilai tinggi.
Proses dimulai dengan metode pre-treatment menggunakan MgO-CaO untuk mendapatkan sedimen yang murni dan kaya akan silika, besi, serta alumina. Sedimen ini terbukti memiliki konduktivitas termal yang tinggi dan stabilitas ekstrem pada suhu tinggi, menjadikannya material TES yang unggul. Secara operasional, sedimen tersebut menyimpan energi panas matahari yang kemudian memanaskan air hingga menghasilkan uap untuk menggerakkan turbin. Hasilnya adalah dua output sekaligus: air bersih dan energi bersih (double energy).
Keunggulan sistem ini tidak hanya terletak pada kemampuannya menghasilkan suhu hingga 358,74°C dan meningkatkan efisiensi daya listrik, tetapi juga pada performa remediasinya. TERAS-MINE menunjukkan hasil yang luar biasa dalam memperbaiki kualitas lingkungan dengan meningkatkan pH air dari kondisi sangat asam menjadi netral, serta menurunkan kandungan Fe, Al, dan sulfat secara signifikan. Inovasi ini merevolusi paradigma pengelolaan limbah menjadi solusi energi berkelanjutan yang aplikatif dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Prestasi yang diraih pada 15 Februari 2026 sebagai 1st Runner-Up ini diraih setelah melalui persaingan sengit dengan mahasiswa teknik pertambangan dari berbagai perguruan tinggi ternama, baik dari Indonesia maupun Australia. Menghadapi kompetitor dari universitas kelas dunia sempat memicu rasa rendah diri bagi tim.
“Sebelumnya terbesit rasa nervous dengan team lawan yang berasal dari ITB, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) dan kampus internasional (Australia). Namun, dengan persiapan yang cukup matang, ketiganya mampu menguasai topik dan tampil dengan baik,” jelas perwakilan tim.
Tantangan terbesar yang mereka hadapi justru datang dari faktor internal, yakni perjuangan menjaga konsistensi, ketelitian, dan penguatan literasi riset. Namun, kerja keras tersebut terbayar dengan pengakuan internasional atas inovasi mereka yang berkontribusi nyata pada pencapaian SDGs dan masa depan industri pertambangan rendah karbon.
Sebagai pesan motivasi bagi mahasiswa lain, Ostwald menekankan pentingnya daya tahan dalam berproses, “Jangan pernah ragu dan menyerah. Tetap melangkah dan nikmati segala proses yang dilewati,” pungkasnya. (dil/rb)
#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #Prestasi

