Konsistensi Berbuah Prestasi: Mahasiswi PBSI UNEJ Raih Medali Perak di Olimpiade Sains Seluruh Indonesia (OSSI) 2026

Jember, 17 Maret 2026

Prestasi membanggakan berhasil ditorehkan Rifda Indah Safitri, mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) dalam ajang Olimpiade Sains Seluruh Indonesia (OSSI) 2026.

Pada kompetisi tingkat nasional tersebut, ia berhasil meraih Medali Perak cabang Bahasa Indonesia tingkat Perguruan Tinggi.

Ia mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya atas capaian tersebut. “Tentu saya sangat senang, bersyukur, dan bangga pada diri saya sendiri. Namun bagi saya, memenangkan perlombaan bukan semata tentang menjadi juara dan menerima medali, melainkan sebagai motivasi untuk terus mengasah dan mengembangkan kemampuan,” ujarnya.

Perjalanan tersebut tidaklah instan. Ia mengaku pernah mengikuti olimpiade serupa yang diselenggarakan oleh Pusat Kejuaraan Sains Nasional (Puskanas) pada tahun 2022. Berbekal pengalaman tersebut, ia kembali mengikuti berbagai kompetisi di bidang Bahasa Indonesia yang informasinya diperoleh melalui media sosial Puskanas, termasuk OSSI 2026.

Kompetisi tingkat perguruan tinggi yang dilaksanakan pada 22 Februari 2026 itu diikuti oleh peserta dari berbagai kampus di Indonesia, termasuk sejumlah perguruan tinggi ternama seperti STAN, Unnes, UM, dan perguruan tinggi lainnya. Dengan total 50 soal dan durasi pengerjaan hanya satu jam, peserta dituntut mampu berpikir cepat sekaligus cermat.

Rifda Indah Safitri, mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP Universitas Jember, periah Medali Perak cabang Bahasa Indonesia tingkat Perguruan Tinggi Olimpiade Sains Seluruh Indonesia (OSSI) 2026

 

“Tantangan terbesar saya adalah memaksimalkan waktu pengerjaan. Waktu yang terbatas membuat saya harus benar-benar menyeimbangkan antara kecepatan dan ketelitian dalam menjawab soal,” jelasnya.

Salah satu materi yang cukup menguji kemampuannya adalah cabang linguistik yakni fonologi, khususnya fonem yang membahas tentang bunyi bahasa. Ia mengakui sempat merasa kebingungan dalam menentukan jawaban yang menurutnya hampir serupa, terlebih dengan tekanan waktu yang ada.

Dalam mempersiapkan diri, ia menerapkan strategi belajar intensif satu minggu sebelum lomba. Setiap hari ia mengulang materi yang telah dipelajari sekaligus menambah pemahaman terhadap materi baru yang belum dikuasai. “Saya harus mengorbankan cukup banyak waktu untuk belajar. Tapi saya yakin, setiap proses dan pengorbanan adalah bagian dari perjalanan menjadi versi terbaik dari diri kita,” tuturnya.

Keberhasilan ini juga tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua orang tuanya yang senantiasa memberikan semangat dan nasihat, serta kepada sahabat dan teman-teman yang selalu mendukung proses belajarnya.

Menurutnya, kunci utama untuk berprestasi di cabang Bahasa Indonesia tingkat nasional adalah konsistensi. “Posisi saya sekarang ini adalah mimpi saya belasan tahun yang lalu, tapi karena tekad dan mimpi inilah saya merasa harus konsisten untuk terus belajar dan terus mengasah pengetahuan saya tanpa henti,” ungkapnya.

Setelah meraih penghargaan ini, ia tidak ingin berhenti sampai di sini. Ia bertekad menjadikan pencapaian ini sebagai batu loncatan untuk meraih prestasi yang lebih tinggi melalui berbagai kompetisi selanjutnya.

Sebagai penutup, ia menyampaikan pesan kepada mahasiswa lain agar terus mengasah kemampuan dan tidak takut mencoba. Ia mengutip pernyataan Sergey Brin, Co-Founder Google, bahwa fokus dan intensitas dapat mengalahkan kecerdasan. Kebanyakan orang melebihkan apa yang dapat dicapai dalam satu tahun dan meremehkan apa yang dapat dicapai dalam sepuluh tahun. Ia menilai kutipan tersebut relevan dengan proses yang ia jalani selama ini.

“Jangan berhenti mencoba meskipun hasilnya belum sesuai harapan. Kemampuan yang tidak diasah akan semakin tumpul dan perlahan menghilang. Jadi, mari berani mencoba hal baru untuk mendapatkan pengalaman dan pencapaian yang lebih besar,” pungkasnya. (dil/ajf)

#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #Prestasi