Jember, 4 Mei 2026
Kemenangan sejati tidak lahir dari riuh sorak-sorai yang instan.
Ia tumbuh dari konsistensi yang terjaga di balik layar serta perpaduan antara tekad dan doa yang menjadi kekuatan tak kasat mata.Itulah esensi perjalanan Muhammad Husein Shodiq, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Program Studi Fisika Universitas Jember (UNEJ). Di balik gelarnya sebagai Juara 1 Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) UNEJ, tersimpan sebuah kisah perjuangan yang tidak sederhana.
Sejak sang ayah berpulang lebih dulu, Husein menyadari bahwa dunia tidak akan lagi sama. Perubahan itu membentuk cara pandangnya dalam menjalani setiap langkah. Di tengah proses tersebut, sosok Ibu menjadi poros kekuatannya.

“Ibu adalah alasan saya bisa bertahan. Setelah Ayah nggak ada, Ibu jadi motivasi terbesar untuk terus melangkah,” tutur Husein.
Setiap usaha yang ia lakukan adalah bentuk terima kasih yang tak terucap kepada Ibu yang selalu menjadi alasan baginya untuk tetap berdiri meski keadaan sedang sulit.
Namun, jika Ibu adalah sumber doa, maka saudara kembarnya, Abdulloh Hasan Shodiq, yang menempuh pendidikan di fakultas dan program studi yang sama, adalah sosok yang memegang tangannya di sepanjang jalan terjal. Bagi Husein, Hasan bukan sekadar saudara sedarah, melainkan teman tumbuh sekaligus penopang dalam proses yang ia jalani.
“Sebenarnya yang paling berperan dalam proses saya itu saudara kembar saya. Kami tumbuh bersama, melewati hari bersama. Dia selalu membantu, menjadi teman diskusi yang jujur, dan pemberi masukan saat saya buntu,” ungkapnya.

Hubungan mereka melampaui kedekatan saudara biasa. Hasan akan selalu menjadi tempat Husein kembali saat dunia terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Keduanya saling menguatkan dan menjaga satu sama lain agar tetap bertahan dalam proses yang dijalani.
“Kita hebat kalau kita bersama, san. Jadi, ayo kita lihat dunia bareng-bareng.”
Kalimat sederhana yang diucapkan Husein kepada Hasan itu bukan sekadar ajakan, melainkan janji bahwa mereka akan terus melangkah dan berjuang bersama.
Berbekal kekuatan inilah, Husein memberanikan diri terjun ke ajang Pilmapres. Langkah yang dimulai dari seleksi fakultas itu awalnya penuh dengan keraguan. Husein sempat bertanya-tanya, apakah ia mampu bersaing dengan mahasiswa terbaik lainnya. Namun, rasa gugup itu justru diubahnya menjadi bahan bakar untuk melaju lebih jauh, hingga akhirnya bisa menyabet gelar juara 1.

Di sisi lain, Husein juga sukses menapaki dunia akademik dengan serius. Beberapa karya ilmiahnya berhasil dipublikasikan dalam jurnal bereputasi, terindeks dalam Scopus sebagai co-author serta SINTA 3. Husein bahkan pernah meraih predikat best presenter dalam konferensi internasional, berbicara di hadapan para akademisi dari berbagai institusi hebat seperti UI, UGM, UNHAS dan lain-lain.
Meski begitu, jalannya tidak selalu mulus. Dahulu, ia pernah dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa dirinya tidak bisa melanjutkan studi di luar kota Jember. “Hampir menyerah sih nggak pernah. Tapi itu salah satu momen yang paling berat,” ungkapnya.
Alih-alih berhenti, ia memilih untuk mengubah arah dan tujuannya. Ia percaya bahwa tempat bukanlah penentu, melainkan bagaimana seseorang memanfaatkan kesempatan yang ada. Hari-harinya diisi dengan kerja keras. Ia belajar mengatur skala prioritas, memetakan gambaran besar agenda-agenda mana yang perlu dikerjakan lebih dahulu.
Lebih dari sekadar strategi, yang membuatnya bertahan adalah prinsip yang ia pegang sejak awal.
“Kalau ingin maju, jangan menunggu orang lain. Majulah dulu, nanti orang lain akan mengikuti. Berani itu bukan berdefinisi tidak takut. Berani bermakna kalian takut, tapi tetap maju.”
Pada akhir kisahnya, ia menyampaikan pesan yang lahir dari perjalanan panjangnya.
“Jadilah berlian dan emas dimanapun kalian berada. Jangan pernah berhenti untuk maju. The moment you give up, it’s game over. Jangan dengarkan orang lain bilang apa tentang kalian, lakuin aja sesuai dengan visi kalian,” pungkasnya. (dil/ajf)
#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #IKU3
