Jember, 19 Mei 2026
Fakultas Keperawatan Universitas Jember kembali mengadakan prosesi Sumpah Ners yang diselenggarakan di Gedung Soetardjo, Selasa (19/05/2026).
Sebanyak 89 perawat baru lulus dalam prosesi yang berlangsung secara khidmat. Acara ini menjadi momentum penting yang menandai lahirnya perawat-perawat baru yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, empati, dan tanggung jawab sosial dalam pelayanan kesehatan.Dalam sambutannya, Rektor Dr. Ir. Iwan Taruna, M.Eng., IPM., ASEAN Eng., menegaskan bahwa sumpah profesi yang diucapkan bukan sekadar seremonial, melainkan janji moral kepada masyarakat, bangsa, dan Tuhan Yang Maha Esa. Menurutnya, profesi perawat memiliki tanggung jawab besar untuk tetap menjunjung nilai kemanusiaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi kesehatan, kecerdasan buatan, dan digitalisasi layanan medis.

“Jagalah nama baik almamater kita. Bukan hanya melalui ilmu yang dimiliki, tetapi juga dengan hati dan dedikasi dalam memberikan pelayanan. Apa pun jalan karier yang nantinya ditempuh, jalankan setiap amanah dengan sebaik-baiknya dan jangan pernah menurunkan kualitas pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Jember, Dr. Ns. Rondhianto, S.Kep., M.Kep. juga menyampaikan rasa bangga dan harunya kepada seluruh lulusan yang akhirnya resmi menyandang profesi Ners setelah melalui perjalanan panjang penuh perjuangan, pengorbanan, dan kerja keras. Para lulusan diharapkan mampu menjadi perawat yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga terampil secara klinis, beretika, serta memiliki empati dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Saya berharap para lulusan mampu menunjukkan bahwa alumni Fakultas Keperawatan memiliki kompetensi dan daya saing, baik di tingkat nasional maupun internasional. Jadilah tenaga kesehatan yang amanah, profesional, dan mampu memberikan manfaat bagi nusa, bangsa, serta masyarakat luas,” tuturnya.
Di tengah prosesi khidmat Sumpah Ners Fakultas Keperawatan Universitas Jember, sosok Nabila Amelia berhasil mencuri perhatian. Bukan hanya karena pencapaiannya sebagai mahasiswa profesi Ners angkatan 35, tetapi juga rekam jejak organisasi, pengalaman klinik, serta komitmennya terhadap pelayanan kemanusiaan yang telah ia bangun sejak masa perkuliahan.
Nabila memiliki pengalaman klinik di bidang keperawatan medikal bedah, maternitas, gerontik, jiwa, komunitas, serta critical care melalui praktik profesi Ners di berbagai rumah sakit dan puskesmas Jawa Timur dan Bali. Semasa kuliah ia juga aktif mengikuti organisasi seperti BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa), UKM Nutrixart, UKM NPC, UKM Kandaga, bahkan tergabung dalam kelompok penelitian dan pengabdian masyarakat.

Namun, di balik seluruh capaian tersebut, terdapat proses panjang yang tidak selalu mudah. Jadwal praktik yang padat, tuntutan akademik, hingga tekanan selama menghadapi kondisi pasien menjadi pengalaman yang perlahan membentuk ketangguhan dan empatinya sebagai calon perawat.
“Menghadapi berbagai karakter pasien dan situasi klinis yang berbeda menjadi tantangan tersendiri. Saya selalu berusaha menjaga motivasi dengan mengingat tujuan awal saya menjadi seorang perawat, yaitu membantu dan memberikan pelayanan terbaik kepada pasien,” tutur Nabila.
Bagi Nabila, profesi perawat bukan hanya pekerjaan, tetapi bentuk pengabdian kepada sesama. Ia mengaku tertarik menempuh pendidikan profesi keperawatan karena ingin menjadi tenaga kesehatan yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Menjadi perawat bukan hanya tentang memberikan tindakan medis, tetapi juga bagaimana kita hadir untuk mendengarkan, mendampingi, dan memberikan dukungan emosional kepada pasien supaya mereka tidak merasa sendirian,” ungkapnya.

Pengalaman praktik klinik menjadi salah satu proses yang paling membentuk dirinya selama pendidikan profesi. Melalui interaksi langsung dengan pasien dan keluarga pasien, Nabila belajar mengenai pentingnya empati, komunikasi terapeutik, serta tanggung jawab dalam pelayanan keperawatan. Ia percaya bahwa seorang perawat harus mampu memberikan pelayanan tanpa membedakan latar belakang pasien serta menjunjung tinggi etika profesi.
Di balik keberhasilannya hingga tahap Sumpah Ners ini, ada banyak doa dan perjuangan yang mengiringi langkahnya. Bagi Nabila, orang tahu dan keluarga menjadi sosok paling berarti yang selalu hadir memberikan dukungan, semangat, dan keyakinan di tengah lelahnya proses pendidikan profesi. Ia juga mengungkapkan rasa terima kasih mendalam kepada sang mama yang selama ini berjuang sendiri sebagai single parent, selalu kuat, serta tak pernah berhenti mendoakan setiap proses perjalanan kuliahnya. Setiap pengorbanan, doa, dan kata-kata sederhana untuk tetap bertahan menjadi kekuatan terbesar yang membawanya mampu melewati berbagai tantangan selama menempuh pendidikan keperawatan.
Di akhir ceritanya, Nabila meninggalkan pesan bagi mahasiswa keperawatan yang masih berjuang menyelesaikan pendidikan.

“Pendidikan keperawatan memang penuh tantangan dan membutuhkan perjuangan yang tidak mudah, tetapi semua proses tersebut akan membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat, disiplin, dan profesional. Teruslah belajar, berani berkembang, dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Profesi perawat bukan hanya tentang pekerjaan, melainkan tentang ketulusan untuk hadir, membantu, dan memberi harapan bagi banyak orang,” pungkasnya.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap capaian akademik dan dedikasi mahasiswa selama menempuh pendidikan profesi, Fakultas Keperawatan Universitas Jember juga memberikan penghargaan kepada lulusan terbaik pada prosesi sumpah ners tahun ini.

Adapun lulusan terbaik pada prosesi Sumpah Ners Fakultas Keperawatan Universitas Jember tahun ini diraih oleh Firli Riana Sari, S.Kep., Ns. dengan IPK sempurna 4,00. Sementara itu, penghargaan peraih nilai tertinggi Ujian OSCE Standar Nasional diraih oleh Alifia Khoirunnisa, S.Kep., Ns., dan peraih nilai tertinggi Try Out Uji Kompetensi Nasional diraih oleh Safira Risqi Aprianti, S.Kep., Ns. (dil/ajf)
#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #IKU2

