Di Balik Status Tuan Rumah: Perjuangan Tim Robotika UNEJ Menghadapi KRAI 2026

JEMBER, 12 Juli 2026
Bagi sebagian peserta Kontes Robot ABU Indonesia (KRAI) 2026, Universitas Jember (UNEJ) menjadi tujuan untuk menunjukkan kemampuan terbaik di tingkat nasional.

Namun, bagi tim robotika UNEJ, kompetisi ini memiliki makna yang berbeda. Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga menjadi bagian dari kampus yang untuk pertama kalinya dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan babak final KRAI.

Status tersebut menghadirkan kebanggaan sekaligus tantangan tersendiri. Di satu sisi, tim harus fokus menyempurnakan robot yang akan bertanding. Di sisi lain, mereka juga merasakan besarnya harapan dari sivitas akademika Universitas Jember agar mampu memberikan penampilan terbaik di hadapan publik sendiri.

Muhammad Fatwa Chandra Rofida, anggota Tim Lahbako-San Robotika UNEJ dari Divisi Reiver, mengaku atmosfer yang dirasakan tim jauh berbeda dibandingkan kompetisi sebelumnya. Menurutnya, menjadi tuan rumah membuat ekspektasi terhadap tim semakin besar.

“Yang paling saya dan tim rasakan adalah tekanan yang besar. Mulai dari universitas, dekan, hingga teman-teman di UNEJ berharap kami bisa memberikan hasil terbaik. Apalagi ini pertama kalinya Universitas Jember menjadi tuan rumah KRAI, jadi ekspektasinya sangat terasa,” ujarnya.

Muhammad Fatwa Chandra Rofida, anggota Tim Lahbako-San Universitas Jember.

Di balik penampilan robot yang hanya berlangsung beberapa menit di arena pertandingan, terdapat proses panjang yang telah dijalani tim. Perancangan robot dimulai sejak sekitar satu tahun lalu, sedangkan proses pembuatan dan penyempurnaan dilakukan secara intensif dalam dua bulan terakhir menjelang kompetisi.

Menurut Chandra, tantangan terbesar selama proses tersebut bukan terletak pada perancangan robot, melainkan pengadaan komponen yang sebagian besar harus didatangkan dari luar daerah.

“Kalau proses pembuatannya masih bisa kami atasi. Yang cukup menantang justru saat membeli komponen seperti motor dan perangkat lainnya karena harus dipesan secara daring. Waktu kedatangannya tidak bisa diprediksi, sehingga kami harus benar-benar menyesuaikan jadwal pengerjaan,” jelasnya.

Berbagai tantangan tersebut dapat dilalui berkat dukungan dari Universitas Jember, baik melalui fasilitas, pendanaan, maupun pendampingan dosen pembimbing selama proses pengembangan robot.

“Kami sangat terbantu dengan dukungan dari universitas. Ketika ada kebutuhan atau kendala, selalu ada solusi yang diberikan. Dosen pembimbing juga terus mendampingi kami selama proses pengembangan robot,” sambungnya.

Tim Lahbako-San Universitas Jember.

Lebih dari sekadar mengejar prestasi, KRAI menjadi ruang belajar bagi tim robotika UNEJ untuk menguji hasil riset, kemampuan rekayasa, serta kerja sama tim yang telah dibangun selama berbulan-bulan. Kesempatan bertanding di kampus sendiri juga menjadi pengalaman yang belum tentu terulang kembali.

Bagi Chandra dan rekan-rekannya, setiap pertandingan merupakan bagian dari proses untuk terus berkembang. Apa pun hasil yang diraih nantinya, pengalaman menjadi peserta sekaligus tuan rumah akan menjadi bekal berharga dalam perjalanan tim robotika UNEJ.

“Kami ingin memberikan penampilan terbaik. Kesempatan menjadi tuan rumah sekaligus peserta tentu menjadi pengalaman yang sangat berarti bagi kami. Semoga apa yang sudah kami persiapkan selama ini bisa kami tampilkan secara maksimal di arena,” pungkasnya.

Robot milik Tim Lahbako-San Universitas jember saat menjalankan misi di arena pertandingan KRAI 2026 di Gedung Auditorium Universitas Jember.

Babak final KRAI 2026 di Universitas Jember mempertemukan 28 tim terbaik dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Selain menjadi ajang kompetisi robotika tingkat nasional, penyelenggaraan KRAI juga menjadi momentum bagi Universitas Jember untuk memperkuat ekosistem riset, inovasi, dan pengembangan teknologi di lingkungan perguruan tinggi. (qf)