Jember, 8 September 2026
Berawal dari keprihatinan atas tingginya laju ekspansi lahan ilegal dan keterbatasan jangkauan pengawasan kawasan hutan secara konvensional, sekelompok mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) menciptakan inovasi bertajuk DeforTrack.
Inovasi ini hadir sebagai solusi terpadu untuk merespons urgensi mitigasi deforestasi di Indonesia melalui integrasi teknologi mutakhir dan keterlibatan masyarakat lokal.Laju deforestasi dan perambahan hutan yang terjadi secara berulang selama ini menjadi tantangan mendesak karena mengancam keanekaragaman hayati serta memicu bencana ekologis. Pengawasan manual yang mengandalkan patroli darat sering kali terkendala oleh medan yang luas, akses yang sulit, serta keterlambatan deteksi dini. Melihat permasalahan tersebut, mahasiswa UNEJ tergerak untuk merancang sistem deteksi dan pencegahan yang presisi, adaptif, serta berkelanjutan.
DeforTrack digagas oleh tim mahasiswa yang diketuai oleh Faruk Umar bersama anggotanya Fadiyah Kamila dan Yesika Indah dari Fakultas Pertanian, juga Kiarra Putri dan Anugrah Farel Putra dari Fakultas Ilmu Komputer. Seluruh proses pengembangan ide konstruktif ini dilakukan di bawah bimbingan dosen Ir. Indah Ibanah, S.P., M.Si. dari program studi Agribisnis Fakultas Pertanian.

Dalam operasionalisasinya, DeforTrack menerapkan pendekatan metode multisektor yang menggabungkan kecanggihan teknologi spasial, validasi lintas lembaga, dan pemberdayaan sosial:
1. Penginderaan Jauh Presisi Tinggi (Hardware & Sensing): DeforTrack mengombinasikan unmanned aerial vehicle (drone) yang dilengkapi sensor pemindai laser Light Detection and Ranging (LiDAR). Sensor ini mampu menembus kerapatan kanopi vegetasi hutan guna memetakan kontur serta mendeteksi pembukaan lahan maupun perubahan kerapatan pohon secara real-time dan akurat.
2. Integrasi dan Validasi Data Terpadu (Software & Network): Data hasil pemindaian drone terintegrasi dengan sistem pemantauan eksisting seperti satelit SIMONTANA. Data lapangan tersebut kemudian melalui mekanisme verifikasi bersama antara Dinas Kehutanan, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH), dan Polisi Kehutanan (Polhut) untuk memastikan tindakan cepat di titik rawan.
3. Pendekatan Sosial dan Skema Insentif (Community Empowerment): Selain aspek teknis, DeforTrack merancang skema insentif ekonomi/sosial bagi masyarakat sekitar kawasan hutan. Pendekatan ini bertujuan memberikan alternatif manfaat ekonomi sehingga masyarakat terdorong untuk aktif menjaga hutan ketimbang melanggar batas kawasan.
Ir. Indah Ibanah, S.P., M.Si., selaku dosen pembimbing, mengapresiasi terobosan yang diusung oleh para mahasiswanya, “Inovasi DeforTrack menunjukkan kematangan berpikir mahasiswa UNEJ dalam melihat persoalan lingkungan secara komprehensif. Mereka tidak hanya menawarkan kecanggihan teknologi pemindaian LiDAR untuk deteksi dini, tetapi juga menyentuh akar masalah sosial dengan menyertakan masyarakat melalui skema insentif. Harapannya, gagasan ini terus dikembangkan hingga menjadi solusi aplikatif yang berdampak nyata,” tutur Indah Ibanah.

Inovasi yang dilahirkan oleh mahasiswa UNEJ ini berhasil meraih pendanaan resmi melalui Program Kreativitas Mahasiswa Video Gagasan Konstruktif (PKM-VGK) yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia.
Keunggulan konsep DeforTrack juga telah mendapatkan apresiasi dan dukungan penuh dari pihak praktisi lapangan, salah satunya dari KPH Perum Perhutani Kabupaten Jember. Kepala Seksi Madya Produksi dan Ekowisata KPH Jember, Ir. Yona Bramantya Aji, S.Hut., IPM., menilai bahwa inovasi mahasiswa ini sangat realistis untuk diterapkan secara nyata dalam menjaga kelestarian kawasan hutan.
Ketua Tim DeforTrack, Faruk Umar, menegaskan bahwa dukungan dari Perhutani serta pendanaan dari Kemdiktisaintek menjadi pijakan penting bagi timnya untuk membawa inovasi ini ke tingkat yang lebih luas.
“Ancaman deforestasi memerlukan penanganan yang cepat dan kolaboratif. Melalui DeforTrack, kami ingin membuktikan bahwa mahasiswa dapat memberikan kontribusi nyata bagi kelestarian alam Indonesia. Kami berharap DeforTrack dapat dijadikan pilot project yang ke depannya diadopsi secara nasional melalui kolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta berbagai pemangku kepentingan lainnya,” ujar Faruk Umar.

Melalui DeforTrack (“Pantau Hutan, Jaga Masa Depan!”), tim mahasiswa Universitas Jember menegaskan komitmen akademisi muda dalam menjawab tantangan iklim dan pelestarian hutan Indonesia dari Jember untuk Indonesia. (dil)
#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #IKU3 #IKU5 #IKU7 #IKU12
