Jember, 22 September 2026
Kemudahan beraktivitas di ruang digital turut membawa risiko yang semakin dekat dengan keseharian mahasiswa.
Mulai dari tawaran pekerjaan, pencarian tempat tinggal, penggunaan media sosial, hingga berbagai transaksi daring dapat menjadi celah munculnya penipuan dan penyalahgunaan data pribadi jika tidak disertai kewaspadaan.Mendorong mahasiswa lebih cakap menghadapi risiko tersebut, Universitas Jember (UNEJ) bersama Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur menggelar CERDIG–CERDAS DIGITAL bertajuk Smart Student, Safe Data: Amankan Identitasmu dari Ancaman Scam dan Manipulasi Digital Kekinian, Selasa (22/9), di Auditorium Gedung Soedjarwo Lantai 5 Universitas Jember.
Ketua Tim Kerja Tata Kelola Persandian dan Keamanan Informasi Diskominfo Provinsi Jawa Timur, Aulia Bahar Pernama, mengatakan perkembangan modus scam kini tidak lagi sebatas pesan atau tautan palsu. Penipuan juga berkembang melalui penyamaran identitas, akun palsu, tawaran pekerjaan dan investasi, hingga manipulasi foto, video, dan suara.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat pengguna digital perlu lebih kritis sebelum mengambil tindakan. Terlebih, berbagai informasi yang kerap dianggap sederhana, seperti nama, nomor telepon, alamat email, NIK, foto, data akademik, hingga informasi yang dibagikan melalui media sosial dapat menjadi bagian dari identitas digital seseorang.
“Menjadi smart student berarti tidak hanya cakap memanfaatkan teknologi, tetapi juga cerdas dalam mengambil keputusan di ruang digital,” ujarnya.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi UNEJ, Prof. Bambang Kuswandi, mengingatkan bahwa ancaman tersebut dapat menyasar siapa saja. Ia menceritakan bahwa identitasnya pernah dicatut melalui akun WhatsApp yang menggunakan foto formal dirinya mengenakan jas dan toga.
“Tujuan saya tidak pernah memakai foto formal di akun harian adalah supaya bisa membedakan bahwa kalau ada akun berfoto formal, itu berarti bukan saya,” ungkapnya.

Menurut Prof. Bambang, pelaku penipuan dapat memanfaatkan kepercayaan maupun kondisi psikologis calon korban. Karena itu, ia mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah percaya ketika menerima permintaan yang berkaitan dengan uang maupun data pribadi, terutama dari sumber yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
Berbagai modus yang dekat dengan kehidupan mahasiswa kemudian dibedah oleh Ryan Fabella, pakar keamanan siber sekaligus narasumber dalam program pelatihan Cerdas Digital (Cerdig). Ia menyebut tingginya aktivitas mahasiswa pada media sosial, marketplace, dompet digital, serta kecenderungan membagikan informasi secara berlebihan dapat membuka risiko tersendiri.
Dalam pemaparannya, Ryan memberikan sejumlah contoh, mulai dari kos fiktif, lowongan kerja palsu, review scam, phishing melalui WhatsApp, hingga resiko memasang perangkat lunak bajakan. Menurutnya, salah satu pola yang perlu diwaspadai adalah ketika calon korban dibuat terburu-buru sehingga kepercayaan meningkat sementara kontrol dan proses verifikasi justru menurun.

“Banyak dari kita ketika diiming-imingi hadiah langsung tertarik untuk mengeklik. Phishing justru perlu diwaspadai karena rasa penasaran yang tinggi sering kali membuat kita bertindak sebelum memeriksa terlebih dahulu,” jelasnya.
Ryan pun mengingatkan mahasiswa untuk membangun kebiasaan verifikasi sebelum bertindak. Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain mengaktifkan autentikasi dua faktor, menggunakan kata sandi berbeda untuk akun penting, tidak sembarangan memberikan OTP maupun identitas pribadi, serta memeriksa kembali domain dan tautan yang diterima.
Persoalan data pribadi juga dibahas dari sudut pandang berbeda oleh Ketua Program Studi Informatika Fakultas Ilmu Komputer UNEJ, Nelly Oktavia Adiwijaya. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya perlu menjaga data miliknya sendiri, tetapi juga bertanggung jawab ketika menggunakan dan mengolah data milik orang lain.

“Mahasiswa pasti sering bersinggungan dengan data, menggunakan data, menganalisis data, dan mengolah data. Bagaimana kita menganalisis data tanpa merugikan atau berpotensi merugikan orang lain, serta bagaimana dengan adanya keterbukaan data kita bisa melakukannya dengan bijaksana,” jelasnya.
Menurut Nelly, perlindungan data bukan berarti seluruh data harus tertutup. Data publik tetap dapat dimanfaatkan untuk kepentingan penelitian, inovasi, transparansi, dan akuntabilitas. Namun, mahasiswa perlu memahami batas antara data publik, data teragregasi, dan data individu yang dapat mengarah pada identitas seseorang.
Kehati-hatian juga diperlukan ketika mengolah data individu. Nelly menjelaskan, menghapus nama atau nomor identitas dari suatu kumpulan data belum tentu membuatnya sepenuhnya aman. Kombinasi atribut tertentu masih dapat mengarah pada identitas seseorang melalui proses reidentification. Karena itu, mahasiswa perlu mempertimbangkan tujuan, tingkat detail, dan risiko sebelum mengolah maupun memublikasikan data.

Ia juga mengingatkan mahasiswa yang menggunakan data untuk penelitian agar tidak sembarangan memublikasikan dataset setelah penelitian selesai. Data perlu dipastikan telah terbebas dari informasi pribadi yang dapat membuka identitas maupun merugikan pemilik data.
Melalui CERDIG, mahasiswa diajak melihat keamanan digital dari dua sisi, yakni menjaga diri agar tidak mudah menjadi sasaran penipuan dan penyalahgunaan identitas, sekaligus bertanggung jawab terhadap data yang mereka gunakan. Kebiasaan sederhana untuk berhenti sejenak, memeriksa kembali informasi, dan mempertimbangkan data yang dibagikan menjadi bagian penting untuk tetap aman di tengah semakin beragamnya aktivitas digital. (qf)

