Jember, 4 Oktober 2026
Persiapan selama berbulan-bulan mengantarkan Tawangalun Unej dan TITEN UNEJ TEAM berlaga dalam Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2026 di Universitas Jember (UNEJ).
Di sela kewajiban kuliah, mahasiswa membagi waktu untuk riset, mengembangkan kendaraan, dan melakukan pengujian. Saat memasuki lintasan, hasil pekerjaan tersebut kembali diuji dalam kondisi perlombaan yang menuntut kesiapan kendaraan sekaligus konsentrasi pengemudi.Tawangalun Unej mengikuti kategori Prototype kelas Mesin Pembakaran Dalam (MPD) Diesel, sedangkan TITEN berlaga pada kategori Urban kelas Motor Listrik. Bagi kedua tim, berkompetisi di kampus sendiri menghadirkan kebanggaan sekaligus semangat untuk meraih hasil terbaik.
Riko Ari Ardiansyah, driver Wilabrata DV II, Tim Tawangalun, menceritakan bahwa persiapan tim berlangsung hampir setengah tahun. Sebagian besar waktu digunakan untuk riset karena hasil pengembangan mesin belum tentu sama ketika kendaraan diuji langsung di lapangan.

“Kalau kita riset itu kita dapat bagus, tapi kalau sudah terjun di lapangan, mesin yang kita riset itu beda hasilnya,” ujarnya.
Perbedaan tersebut mendorong tim terus melakukan pengujian dan evaluasi. Menurut Riko, kendaraan telah siap satu minggu sebelum kompetisi, dilanjutkan dengan uji coba langsung di sirkuit untuk mematangkan persiapan.
Perawatan juga menjadi rutinitas selama perlombaan. Setiap selesai berlaga, tim memeriksa kendaraan untuk mengetahui bagian yang perlu dibenahi. Pemeriksaan tetap dilakukan meskipun kendaraan tidak menunjukkan masalah.
Di balik persiapan tersebut, anggota tim harus mengatur waktu agar kewajiban akademik tetap berjalan. Riko memilih menyelesaikan tugas kuliah terlebih dahulu sebelum kembali fokus pada persiapan KMHE. Pembagian pekerjaan di antara sepuluh anggota membantu tim melanjutkan persiapan ketika sebagian anggota memiliki kesibukan perkuliahan.
“Kalau kuliahnya banyak tugas, kerjakan dulu. Kalau sudah selesai baru fokus ke KMHE. Tim kami jumlahnya ada sepuluh orang, jadi bisa dibagi tugasnya ke anggota yang lain,” tuturnya.
Sementara itu,Tim TITEN menyiapkan kendaraan selama kurang lebih satu tahun. Hanan, anggota divisi mekanik yang bertugas sebagai driver Titen Urban EV-3, menjelaskan bahwa pengembangan dilakukan pada sejumlah bagian, termasuk kaki-kaki dan rangka, untuk meningkatkan efisiensi kendaraan.
Pengerjaan banyak dilakukan pada malam hari dan di sela waktu kosong perkuliahan. Tim membagi tanggung jawab pada setiap bagian kendaraan, mulai dari pengereman, kerangka, hingga kaki-kaki.

“Untuk kuliah kita tetap kuliah. Di sela-sela waktu kosong kita mengerjakan, dan kebanyakan kerja itu malam. Selain itu, kita maksimalkan pembagian tugas dari masing-masing anggota,” jelas Hanan.
Menurutnya, dukungan dosen turut membantu persiapan tim, termasuk dalam pembiayaan dan kebutuhan riset. Dukungan tersebut menjadi bekal bagi mahasiswa untuk melanjutkan pengembangan hingga kendaraan siap berkompetisi.
Saat perlombaan berlangsung, tantangan tidak hanya datang dari kendaraan sendiri. Sebagai driver, saat race pada hari pertama Hanan harus menyesuaikan laju mobil ketika lintasan dipadati peserta. Setiap kendaraan memiliki karakter gerak berbeda, sehingga ia perlu memperhatikan jarak dan menentukan waktu yang tepat untuk melaju.
“Waktu race, traffic-nya sedang padat sekali. Jadi harus pintar-pintar menyesuaikan dengan tim lain karena kita tidak tahu laju kendaraan mereka seperti apa, supaya jangan sampai crash,” ungkapnya.

Riko juga merasakan tantangan ketika berada di lintasan bersama kendaraan peserta lainnya. Situasi tersebut membuat pengalaman mengemudi terasa seru dan memacu adrenalin.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Riko dan Hanan mengaku bangga dapat membawa nama UNEJ dalam kompetisi nasional. Berlaga di kampus sendiri menambah semangat mereka untuk menunjukkan hasil pengembangan kendaraan yang telah dikerjakan selama berbulan-bulan. Riko berharap Tawangalun mampu meraih juara, sama halnya dengan Hanan yang menargetkan TITEN untuk mencapai podium dan, jika memungkinkan, menjadi yang terbaik di kelasnya.
“Apalagi sebagai tuan rumah, tentu bangga bisa membawa nama UNEJ sendiri dan senang masih bisa ikut kontes ini,” tutur Hanan.
Bagi Tawangalun dan TITEN, KMHE menjadi kesempatan untuk menguji hasil riset dalam kondisi perlombaan yang sesungguhnya. Proses tersebut juga memberi pengalaman kepada mahasiswa dalam mengelola waktu, berbagi tanggung jawab, dan menyelesaikan persoalan bersama. Persiapan panjang itu mengantarkan karya mahasiswa UNEJ ke lintasan KMHE untuk bersaing sekaligus menjadi bekal bagi pengembangan kendaraan selanjutnya.(qf)

