Mahasiswa Ilmu Tanah UNEJ Gagas Riset Perubahan Tutupan Lahan Sidoarjo hingga 2030

Jember, 12 Oktober 2026

Laju alih fungsi lahan pertanian dan ruang hijau di Kabupaten Sidoarjo berpotensi mengancam ketahanan pangan serta keseimbangan ekosistem pada tahun 2030 jika tidak diantisipasi sejak dini.

Keadaan mendesak ini mendorong tiga mahasiswa Ilmu Tanah Universitas Jember (UNEJ)—Wildan Dwi Ananda, Rani Nur Faradila, dan Virga Ristina Safitri—mengembangkan model prediksi spasial berbasis Geographic Information System (GIS) dan penginderaan jauh untuk memeta dinamika tutupan lahan di wilayah tersebut.

Gagasan tersebut muncul setelah melihat kondisi Sidoarjo yang mengalami perkembangan cukup pesat. Dari sanalah, keberadaan lahan pertanian dan vegetasi menjadi bagian yang perlu diperhatikan. Awalnya, tim mencoba melihat pola perubahan tutupan lahan yang telah terjadi sekaligus memprediksi kemungkinan perubahan pada masa mendatang. Saat itu, tim memanfaatkan citra Landsat tahun 2015, 2020, dan 2025. Data tersebut dianalisis menggunakan metode Supervised Classification dengan algoritma Maximum Likelihood Classification (MLC) untuk mengetahui perubahan tutupan lahan yang terjadi. Setelah memperoleh pola perubahan, tim kemudian menggunakan model Cellular Automata-Markov (CA-Markov) melalui perangkat MOLUSCE untuk memprediksi kondisi tutupan lahan Kabupaten Sidoarjo pada tahun 2030.

Tiga mahasiswa Ilmu Tanah UNEJ—Wildan Dwi Ananda, Rani Nur Faradila, dan Virga Ristina Safitri—mengembangkan model prediksi spasial berbasis Geographic Information System (GIS) dan penginderaan jauh untuk memeta dinamika tutupan lahan

“Jadi, solusi yang kami tawarkan bukan hanya melihat perubahan yang sudah terjadi, tetapi mencoba memberikan gambaran spasial mengenai bagaimana perubahan tersebut berpotensi terjadi ke depan,” jelas Wildan.

Penggunaan GIS dalam penelitian tersebut memberikan pengalaman baru dalam melihat fungsi teknologi geospasial yang tidak hanya digunakan untuk menghasilkan peta, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk membaca pola perubahan suatu wilayah dan membuat pemodelan yang memberikan gambaran mengenai kondisi di masa mendatang.

Menurut Wildan, perasaan campur aduk muncul ketika ia dan tim harus mempresentasikan hasil gagasan ini di hadapan dewan juri pada ajang The Landformation 2026, 12 September 2026 lalu. Sebelum berangkat, tim tidak melakukan persiapan khusus dalam waktu yang panjang. Ketika mengetahui berhasil menjadi finalis, mereka justru lebih banyak merasakan senang dan bangga karena dapat membawa karya hingga tahap tersebut. Dalam kesempatan tersebut, tim harus mampu menjelaskan berbagai tahapan penelitian, mulai dari analisis perubahan tutupan lahan, pemodelan CA-Markov, hingga proses validasi.

“Ketika pertama kali tampil di depan dewan juri, ada rasa gugup, bahkan sempat ngeblank dengan materi yang akan dibawakan. Tetapi setelah mulai menjelaskan karya yang memang kami kerjakan sendiri, rasa gugup tersebut perlahan berkurang,” ungkapnya.

Wildan Dwi Ananda, Rani Nur Faradila, dan Virga Ristina Safitri, mahasiswa UNEJ, Juara Harapan 1 The Landformation 2026

Bagi Wildan, pengalaman paling berharga dari kompetisi tersebut bukan hanya mengenai hasil yang diperoleh. Lebih dari itu, ia mendapatkan kesempatan untuk membawa karya yang dikerjakan bersama tim keluar dari lingkungan kampus dan mempresentasikannya kepada orang lain.

“Dari lomba ini saya belajar bahwa sebuah penelitian yang kita anggap sederhana atau masih memiliki banyak kekurangan ternyata tetap bisa menjadi sesuatu yang bernilai ketika kita berani mengembangkannya dan menyampaikannya dengan baik,” ujarnya.

Setelah berhasil membawa gagasannya dalam sebuah kompetisi, tim berharap penelitian mengenai prediksi perubahan tutupan lahan tersebut tidak berhenti sebagai karya lomba. Masih terdapat sejumlah aspek yang dapat dikembangkan untuk menghasilkan analisis yang lebih detail dan realistis.

“Pengembangan berikutnya dapat dilakukan dengan memasukkan lebih banyak faktor yang memengaruhi perubahan tutupan lahan, seperti kepadatan penduduk, jaringan jalan, pusat pertumbuhan ekonomi, kemiringan lereng, serta kebijakan tata ruang,” imbuhnya.

Tak lupa, Wildan berpesan kepada mahasiswa lainnya untuk tidak menunggu memiliki karya yang sempurna sebelum berani mengikuti kompetisi. Baginya, menjadi finalis dalam sebuah perlombaan bukan sekadar tentang hasil akhir, tetapi juga tentang proses yang dilalui.

“Jangan terlalu takut kalah. Karena dari pengalaman tersebut kita bisa belajar bagaimana bekerja dalam tim, menyampaikan ide, menerima masukan, dan yang paling penting, berani membawa karya kita untuk dikenal oleh orang lain,” tuturnya. (dil/rb)

#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #IKU3 #IKU7