Jember, 16 Oktober 2026
Universitas Jember (UNEJ) menempati peringkat kedua nasional sebagai perguruan tinggi dengan jumlah desa dampingan terbanyak di Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) Republik Indonesia, UNEJ tercatat memiliki 1.058 desa dampingan pada 2025. Capaian tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional Forum Perguruan Tinggi dalam pemberdayaan Masyarakat yang berlangsung di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Kamis (15/10).Sekretaris Bidang Pengabdian Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UNEJ, Dr. Ali Badrudin, S.S., M.A., menyambut capaian tersebut sebagai dorongan untuk memperkuat pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil kontribusi berbagai unsur di lingkungan UNEJ, baik dosen, mahasiswa, maupun pengelola program pengabdian.
“Syukur alhamdulillah, tahun ini UNEJ mendapat peringkat kedua untuk desa dampingan di tingkat nasional. Saya kira ini menjadi energi baru bagi bidang pengabdian kepada masyarakat. Mudah-mudahan capaian ini semakin mendongkrak kinerja kita bersama. Bagaimanapun, ini bukan hanya hasil aktivitas LP2M, tetapi juga seluruh insan Universitas Jember,” ungkapnya.

Ali menjelaskan, pendampingan desa UNEJ dijalankan melalui berbagai skema pengabdian kepada masyarakat, mulai dari hibah internal untuk dosen, program pengabdian mahasiswa, hingga pendanaan eksternal melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) serta kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri.
Selain program tersebut, Kuliah Kerja Nyata (KKN) menjadi salah satu kekuatan utama dalam memperluas jangkauan pengabdian UNEJ. Setiap tahun, hampir 5.000 mahasiswa mengikuti KKN yang dilaksanakan dalam dua periode, yakni Januari-Februari dan Juli-Agustus. Kegiatan ini turut diperkuat melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi
Kemahasiswaan (PPK Ormawa) dan berbagai program pengabdian mahasiswa lainnya.
“Dengan jumlah hampir 5.000 mahasiswa yang mengikuti KKN setiap tahun, ini menjadi kekuatan dan modal dasar kami untuk melakukan pendampingan di desa-desa,” jelas Ali.

Upaya tersebut juga dikembangkan melalui KKN Kolaboratif yang melibatkan berbagai perguruan tinggi. Ali menyebutkan, kolaborasi telah dilaksanakan di sejumlah wilayah, antara lain Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi. Melalui kerja sama tersebut, perguruan tinggi dapat saling mendukung sekaligus berbagi pengalaman dalam pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat.
Di sisi lain, UNEJ juga berupaya menjaga keberlanjutan program melalui sistem pencatatan aktivitas dosen dan mahasiswa di desa dampingan. Menurut Ali, pendampingan tidak dirancang sebagai kegiatan sesaat, melainkan menggunakan pendekatan _community development_ atau pengembangan masyarakat. Melalui pendekatan ini, program mahasiswa dan dosen diupayakan saling berkesinambungan agar masyarakat memperoleh pendampingan secara berkesinambungan.
“Pengabdian kepada masyarakat tidak sebatas hanya pengabdian, tetapi bagaimana kami mendesainnya dengan model community development, pemberdayaan masyarakat, dan engagement yang diharapkan memiliki keberlanjutan,” terangnya.

Untuk memperkuat pertukaran pengalaman, LP2M UNEJ juga mengembangkan program Ngopi Selasa sebagai ruang berbagi praktik baik kegiatan pengabdian. Program dua mingguan yang dimulai sejak masa pandemi tersebut telah mencapai episode ke-139 dengan menghadirkan mahasiswa, dosen pembimbing lapangan, perwakilan desa, dan mitra sebagai narasumber. Kegiatan ini juga disiarkan melalui kanal YouTube LPPM UNEJ OFFICIAL sehingga pengalaman dan hasil pengabdian dapat diakses oleh masyarakat luas.
LP2M UNEJ juga merencanakan kegiatan _Lesson Learned dan Temu Desa Binaan 2026_ yang akan diselenggarakan pada November mendatang. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara desa binaan, dosen, mahasiswa, dan mitra untuk berbagi praktik baik pengabdian sekaligus memperkuat jejaring kerja sama. Melalui kegiatan tersebut, desa diharapkan semakin terlibat sebagai mitra aktif dalam merencanakan dan menjalankan program pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
Sementara itu, berdasarkan data yang dipaparkan kementerian, jumlah desa dampingan UNEJ direncanakan meningkat menjadi 1.100 desa pada 2026 dan 1.200 desa pada 2028 hingga 2029.

Ali optimistis perluasan pendampingan dapat terus dilakukan melalui penguatan kemitraan dengan pemerintah desa. Sejak 2018, UNEJ telah mengembangkan program desa binaan dan Sekolah Desa. Desa yang ingin menjadi mitra pendampingan dapat mengajukan permohonan resmi, kemudian membangun komitmen kerja sama dengan LP2M agar program pengabdian selaras dengan kebutuhan dan perencanaan pembangunan desa.
Bagi UNEJ, capaian ini menjadi dorongan untuk terus memperkuat pengabdian kepada masyarakat. Ke depan, perluasan jangkauan pendampingan diharapkan tidak hanya menambah jumlah desa yang dijangkau, tetapi juga memperkuat keberlanjutan program melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, dan berbagai mitra lainnya. (qf)

