Ubah Sampah Jadi Berkah, Mahasiswa UNEJ Raih Mandaya Award Innovileague 2026

Jember, 28 Oktober 2026

Memaknai Hari Sumpah Pemuda dengan karya nyata, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jember (Faperta UNEJ) menghadirkan inovasi pengelolaan sampah dan pertanian berkelanjutan yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Melalui Tim Sobat Bumi, mereka meraih Mandaya Award Innovileague 2026 kategori Inovasi Terbaik di Jakarta, Selasa (27/10). Prestasi ini menjadi kado Sumpah Pemuda yang menegaskan bahwa semangat pemuda tidak berhenti pada ikrar persatuan, tetapi juga diwujudkan melalui inovasi untuk memperkuat kemandirian masyarakat dan menjaga keberlanjutan lingkungan.

Tim Sobat Bumi terdiri atas Alvin Dwi Tahta Nusa dari Program Studi Penyuluhan Pertanian sebagai ketua, bersama Zabian Faris Eka Putra dari Program Studi Agronomi dan Ilham Hanif Firdausyah dari Program Studi Agribisnis. Mereka mengembangkan program zero waste village (desa nol sampah) dan pertanian berkelanjutan di Desa Suci, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember.

Alvin menjelaskan, program tersebut berangkat dari kegiatan konversi SKS dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang telah dilaksanakan bersama masyarakat. Tujuannya membangun ketangguhan desa dalam menghadapi perubahan iklim, terutama setelah pengalaman bencana banjir besar pada dekade 2000-an.

“Bagi kami, inovasi bukan sekadar menghasilkan gagasan untuk memenangkan kompetisi, tetapi menghadirkan solusi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Kami ingin membantu Desa Suci lebih tangguh menghadapi perubahan iklim sekaligus mandiri secara ekonomi,” ujarnya.

Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, dalam pidato Mandaya Award Innovileague menegaskan bahwa keberhasilan pemberdayaan tidak ditentukan oleh besarnya lembaga maupun anggaran, tetapi oleh dampak yang dapat dibuktikan.

“Kita ingin mendorong transformasi menjadi negara yang memberdayakan, negara yang bersama rakyatnya kuat, mandiri, dan kokoh,” ungkapnya.

Dosen pembimbing Tim Sobat Bumi sekaligus Ketua Tim PDB Kemdiktisaintek, Ihsannudin, mengatakan bahwa kolaborasi menjadi kunci agar inovasi kampus memberikan manfaat berkelanjutan. Di Desa Suci, program ini dijalankan melalui kolaborasi pemerintah desa, kelompok masyarakat, dan Faperta UNEJ. Sejak 2025, Bank Sampah Larahan Makmur (BSLM) dan Kelompok Tani Tani Harapan mengembangkan inovasi yang diperkuat melalui Program Desa Binaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (PDB Kemdiktisaintek) periode 2025–2027.

“Ketika pengetahuan kampus bertemu dengan kebutuhan masyarakat, inovasi dapat menghasilkan dampak nyata. Masyarakat bukan sekadar penerima program, melainkan pelaku utama yang harus mampu melanjutkan inovasi secara mandiri,” jelasnya.

Ketua BSLM, Siti Herawati, menyebut pendampingan tersebut membuka peluang pemanfaatan sampah menjadi produk bernilai guna. Melalui BSLM, masyarakat mengembangkan pengolahan limbah popok sekali pakai menjadi pot, pemanfaatan plastik multilayer sebagai mulsa, serta pembuatan papan furnitur dari plastik HDPE. Kelompok ini juga mengampanyekan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) dan mengurangi sampah kemasan melalui penjualan produk isi ulang sabun.

“Dulu, sampah lebih sering dipandang sebagai masalah. Sekarang, kami belajar mengolahnya menjadi barang yang bermanfaat. Perubahan terpenting bukan hanya lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga meningkatnya kemampuan masyarakat mengelola sampah secara mandiri,” tuturnya.

Sementara itu, Kelompok Tani Tani Harapan mengolah limbah rumah tangga dan pertanian menjadi kompos menggunakan teknologi “Bata Bolong”, serta mengembangkan pupuk organik cair (POC) dan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR).

Sekretaris kelompok, Subari, mengungkapkan, penggunaan pupuk organik membantu mengurangi kebutuhan urea sekaligus meningkatkan produktivitas sawahnya seluas setengah hektare.

“Sebelumnya, saya menggunakan 12 kuintal urea dengan hasil panen 2–2,5 ton per setengah hektare. Sekarang, penggunaan urea turun menjadi 8 kuintal, sementara hasil panen meningkat menjadi 3–3,5 ton,” ungkapnya.

Sekretaris Bidang Pengabdian LP2M UNEJ, Ali Badrudin, menegaskan, keberhasilan pemberdayaan tidak boleh berhenti ketika program selesai.

“Pemberdayaan yang berhasil bukan ketika perguruan tinggi selesai menjalankan program, melainkan ketika masyarakat mampu melanjutkannya secara mandiri. UNEJ ingin membangun kemitraan yang tumbuh bersama desa agar inovasi berkembang menjadi gerakan berkelanjutan,” tegasnya.

Penghargaan Mandaya Award Innovileague 2026 menegaskan pentingnya pemberdayaan berbasis kebutuhan masyarakat (need assessment), bukan semata-mata pendekatan dari atas ke bawah (top-down). Melalui kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat, UNEJ mendorong inovasi yang tidak hanya menghasilkan prestasi, tetapi juga menghadirkan perubahan nyata bagi lingkungan, ekonomi, dan ketahanan desa.(is)