Jember, 4 November 2026
Menjadi seorang guru tidak hanya tentang berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi pelajaran.
Di balik proses tersebut, terdapat kemampuan merancang pembelajaran, memahami karakter peserta didik, memilih media yang sesuai, hingga menciptakan suasana belajar yang mendorong keterlibatan siswa. Berbagai aspek inilah yang semakin dipahami Claudya Shinta Bella dan Muhammad Audanni Akbar, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Jember (UNEJ), setelah mengikuti kompetisi microteaching tingkat nasional.Perjalanan reflektif keduanya bermula ketika mereka sukses menyabet Juara 1 Lomba Microteaching Terbuka kategori S1/PPG/Guru di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel beberapa waktu lalu. Bagi Claudya dan Audanni, kemenangan tersebut bukanlah garis akhir, melainkan sebuah kesempatan mempraktikkan kemampuan mengajar sekaligus menerima evaluasi dari para penguji memberikan gambaran lebih luas mengenai kompetensi yang perlu dimiliki seorang pendidik.
Dalam kompetisi tersebut, keduanya membawakan materi Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) dengan mengangkat kearifan lokal Kabupaten Jember. Pemilihan materi ini didasarkan pada upaya menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Mereka ingin menunjukkan bahwa lingkungan sekitar dapat menjadi sumber belajar yang menarik sekaligus sarana mengenalkan budaya dan potensi daerah.

Proses persiapan tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi keduanya. Mereka tidak hanya dituntut memahami materi yang akan disampaikan, tetapi juga memikirkan bagaimana materi tersebut dapat diterima dengan baik oleh siswa sekolah dasar. Pemilihan metode, penggunaan media, dan pengaturan alur pembelajaran menjadi bagian yang perlu diperhatikan agar kegiatan belajar tidak berlangsung satu arah.
Tantangan berikutnya hadir ketika mereka harus mempraktikkan rancangan pembelajaran di hadapan para penguji. Pada tahap ini, Claudya dan Audanni memperoleh sejumlah evaluasi terkait penyusunan modul ajar, tampilan media presentasi, penggunaan gestur, hingga teknik penyampaian materi. Masukan tersebut membuat mereka menyadari bahwa kemampuan mengajar tidak dapat dinilai hanya dari kelancaran berbicara atau penguasaan materi.
“Awalnya, kami lebih banyak berfokus pada bagaimana materi bisa tersampaikan dengan baik. Namun, setelah mendapatkan evaluasi, kami mulai memahami bahwa pembelajaran juga harus dirancang dari sudut pandang siswa. Dari situ, kami belajar bahwa mengajar membutuhkan persiapan yang lebih menyeluruh,” ungkap Claudya.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi bahan refleksi bagi keduanya dalam menjalani perkuliahan di PGSD UNEJ. Berbagai teori dan materi kependidikan yang diperoleh selama perkuliahan menjadi semakin bermakna ketika dihadapkan pada praktik secara langsung. Mereka juga memiliki gambaran lebih jelas mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan ketika nantinya mengelola pembelajaran di kelas.
Bagi mereka, salah satu pelajaran penting dari kompetisi tersebut adalah keberanian untuk menerima kekurangan sebagai bagian dari proses pengembangan diri. Evaluasi yang diperoleh tidak hanya menjadi catatan untuk memperbaiki penampilan saat lomba, tetapi juga pengingat bahwa kemampuan seorang calon guru perlu terus diasah melalui latihan dan pengalaman.
“Kompetisi ini membuat kami lebih terbuka dalam melihat kemampuan diri sendiri. Ternyata, masih banyak hal yang perlu diperbaiki, bahkan dari aspek-aspek yang sebelumnya mungkin tidak terlalu kami perhatikan. Menurut kami, hal seperti ini justru menjadi bekal penting sebelum benar-benar terjun ke dunia pendidikan,” jelasnya.

Pengalaman tersebut juga memperkuat pandangan keduanya bahwa pembelajaran yang baik perlu dibangun dengan memperhatikan kebutuhan peserta didik. Hal ini menjadi salah satu bekal yang ingin mereka terapkan dalam kegiatan perkuliahan dan praktik mengajar berikutnya.
“Kami ingin terus mengasah kemampuan mengajar. Harapannya kami bisa ikut melanjutkan regenerasi juara microteaching dengan berbagi pengalaman kepada adik tingkat, sehingga prestasi ini tidak berhenti di kami saja. Setiap kesempatan untuk mencoba sebenarnya juga menjadi kesempatan untuk belajar,” pungkasnya. (dil/ajf)
#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #IKU3 #IKU7

