Working In Harmony Nurturing The Future
Working In Harmony Nurturing The Future

Belajar Perawatan Pasien Kanker di Kuala Lumpur

Mahasiswa Universitas Jember mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Malaysia. Ada beberapa tema yang mereka ikuti. Seperti yang diikuti oleh Alifia Anggraeni Agusti yang melaksanakan KKN tema peningkatan kesadaran warga akan bahaya penyakit kanker. Tentu saja sebelum memberikan penjelasan mengenai bahaya penyakit kanker kepada khalayak umum, Alifia dan koleganya berkesempatan mengunjungi beberapa fasilitas kesehatan di Malaysia. Salah satunya berkunjung ke Fakulti Perobatan dan Sains Kasihatan di Universitas Putra Malaysia, dan Rumah Sakit Kuala Lumpur. Berikut pengalaman Alifia seperti yang dikirimkan kepada Humas Universitas Jember.

20 Januari 2020

Sekembalinya dari Malaysia Tour kami semua merasa lelah hingga project director program kami menyesuaikan jadwal selanjutnya. Kami mendapatkan waktu istirahat yang lebih panjang. Akibatnya hari ini kami memulai aktivitas di siang hari. Agenda yang saya lakukan pada hari ini adalah mengikuti briefing yang dilakukan oleh project director saya tentang drive donation untuk organisasi The Malaysian Association for Cancer Research (MACR) dan educational workshop yang akan dilakukan di sebuah Sekolah Menengah Kebangsaan (SMK) di Subang Jaya. Briefing dilakukan untuk menentukan bagaimana kami akan melakukan donasi dimulai dari pembahasan terkait tema yang kami gunakan, karena kegiatan donasi yang akan dilakukan di Taylors University juga sekaligus merupakan kegiatan untuk mengkampanyekan awareness about cancer pada mahasiswa Taylor University. Kami juga harus merancang booth decoration yang bagus untuk menarik keinginan mahasiswa datang ke booth kami. Selain itu hal terpenting yang kami lakukan adalah mementukan produk apa yang akan kami jual untuk donasi. Kami harus memikirkan barang atau makanan atau minuman yang sehat yang dapat dijual dan memiliki kemungkinan besar untuk dapat terjual. Karena hasil penjualan tersebut adalah uang yang akan kami donasikan bagi MACR. Target donasi kami adalah paling sedikit 1500 Ringgit Malaysia. Untuk itu kami harus memikirkan benar apa yang akan kami jual. Kami juga harus mempersiapkan seluruh materi yang akan digunakan untuk menunjang presentasi kami tentang raising awareness about cancer tersebut.

Untuk briefing untuk educational workshop, kami dituntut untuk memikirkan materi apa yang harus kami berikan kepada pelajar SMK tersebut. Kami memiliki dua sesi dalam satu hari. Setiap sesi kami akan memberikan presentasi kepada sekitar 40 hingga 50 anak. Kami juga harus memikirkan bagaimana cara memberikan presentasi yang menyenangkan dan mudah dipahami. Dalam satu sesi kami juga harus mengadakan kuis untuk melihat atau mengukur apakah para murid berhasil memahami presentasi yang diberikan oleh kami. Diskusi kami cukup alot terkait kuis ini, kami berusaha untuk menemukan permainan interaktif yang menyenangkan dan dapat mengukur tingkat pemahaman peserta didik. Namun kami akhirnya menetapkan relay quiz sebagai media kuis. Dalam setiap sesi kami juga memiliki waktu sekitar 10 menit untuk melakukan mini global village, namun karena kelompok kami tidak berasal dari beragam negara kami merubah rencana tersebut menjadi mini performance dengan melakukan cover song dan membuat tiktok video sebagai stress healing setelah presentasi yang mungkin cukup berat.

21 Januari 2020

Agenda pada hari ke sembilan ini adalah kunjungan ke organisasi MACR. Karena pada dasarnya organisasi tersebut belum memiliki dasar untuk mengembangkan organisasi secara mandiri diluar instansi apapun. Kemudian saya dan kawan-kawan  berkunjung ke Fakulti Perobatan dan Sains Kasihatan (FPSK) di Universitas Putra Malaysia (UPM). Kami mengunjungi UPM karena salah satu pimpinan dari MACR merupakan seorang professor di fakultas tersebut. Kami bertemu professor Johnson yang merupakan ketua dari MACR. Sayangnya kami datang sedikit terlambat hingga kami tidak bisa berbincang lama dengan beliau, karena beliau memiliki jadwal yang cukup padat. Akhirnya kami digiring menuju sebuah ruang pertemuan yang mana beberapa mahasiswa S2 yang merupakan bimbingan Prof. Jhonson memberikan presentasi terkait penyakit kanker dan bagaimana tugas dan proses organsasi kanker khususnya MACR bekerja. Ada satu pengalaman yang sangat menyenangkan ketika kunjungan ke FPSK tersebut. Bersama mahasiswa yang ditunjuk sebagai pemandu, kami diberi kesempatan untuk melihat laboratorium dalam rangka Lab visiting untuk melihat bagaimana perkembangan sel yang disimpan di laboratorium sebagai bahan penelitian dari MACR. Kami diberi kesempatan melihat tiga sel yang berbeda dimana ketiga sel tersebut pada dasarnya adalah sel yang sudah terkena kanker.

Ketiga sel kanker yang diperlihatkan menunjukkan stadium yang berbeda beda. Sebuah sel yang ada di stadium akhir terlihat sangat ganas, tampak dari pergerakan sel yang sangat cepat dan perkembangan sel kanker juga telah menjalar. Dalam tahapan ini seorang pasien  cukup sulit untuk disembuhkan dari penyakit kanker. Pasien yang sudah mencapai stadium akhir akan mengkonsumsi obat untuk mencoba meredam pertumbuhan sel yang tidak terkontrol tersebut. Sehingga selalu ditekankan bawa melakukan screening lebih awal akan sangat membantu untuk menyembuhkan penyakit kanker. Apabila seorang pasien mengidap penyakit kanker yang masih berada pada level satu atau dua, maka kemungkinan besar dapat disembuhkan dan dapat diputus penyebaran sel kanker terhadap organ organ lain yang pada akhirnya nanti bisa memicu komplikasi.

22 Januari 2020

Kegiatan saya pada hari ini adalah kunjungan ke Rumah Sakit (RS) Kuala Lumpur. Saya berangkat cukup pagi untuk menghidari macet. RS Kuala Lumpur adalah salah satu rumah sakit umum dibawah pemerintah Malaysia. Pertama kali saya menginjakkan kaki di RS tersebut, saya merasakan vibe yang sama dengan rumah sakit umum di Indonesia. Kami menuju bagian Radioterapi, Onkologi dan Jabatan Perubatan Nuclear. Kami langsung dibawa menemui salah satu pimpinan dari bagian radioterapi. Namun sayang, ada sedikit miskomunikasi antara pihak AIESEC dengan RS Kuala Lumpur sehingga kami datang di jam padat pasien.  Akibatnya kunjungan kami tidak maksimal, namun pihak RS Kuala Lumpur tetap berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan pengetahuan baru bagi kami dan menunjukkan bagaimana praktik perawatan pada pasien kanker.

Pertama kami dibawa menuju konter atau ruang pendaftaran yang dipenuhi oleh banyak pasien. Karena ruang tidak banyak tersisa kami tidak ingin mengganggu jalannya pendaftaran pasien yang sangat ramai, kamipun melanjutkan kunjungan ke ruang lainnya. Di sini akhirnya kami diajak untuk melihat bagaimana ruang radioterapi. Kami mengunjungi ruang monitor untuk melihat keadaan pasien kami juga diizinkan memasuki ruang radioterapi. Saat itu ada seorang pasien yang akan melakukan terapi. Kami melihat bagaimana persiapan pasien tersebut menjelang terapi. Saat terapi siap untuk dilaksanakan seluruh orang harus keluar dari ruangan untuk menhindari radiasi yang dipantulkan oleh mesin terapi tersebut. Kemudian kita kembali ke ruang monitor untuk melihat bagaimana terapi berlangsung. Hal tersebut merupakan pengalaman yang sangat baru bagi saya. Sangat jarang orang mendapat pengalaman yang sama dengan kami. Saya merasa sangat beruntung memilih proyek ini.

Setelah dari ruang radioterapi kami sempat diajak untuk melihat pasien pasien kanker yang menjalani rawat inap di RS Kuala Lumpur tersebut. Cukup banyak pasien kanker yang melakukan rawat inap khususnya perempuan. Setelah sempat berkomunikasi dengan dokter yang merawat pasien tersebut kami kembali menuju ruang pertemuan untuk mendapat penjelasan lebih lanjut. Saya cukup kaget ketika petugas RS Kuala Lumpur mengatakan bahwa alat untuk radiologi sangatlah mahal kalau sekitar ratusan juta untuk satu alat dan di RS Kuala Lumpur mereka memiliki 5 alat. Untungnya RS Kuala Lumpur adalah rumah sakit milik pemerintah sehingga pemerintah memberikan subsidi bagi pasien yang ingin melakukan perawatan di sini. Apabila tidak ada subsidi maka biaya perawatan yang harus dikeluarkan pasien akan sangat tinggi. Saya rasa apabila tidak ada subsidi banyak pasien yang berasal dari kalangan menengah kebawah akan menyerah untuk memperjuangkan hidupnya.

23 Januari 2020

Hari ini saya dan kawan-kawan mendapat jadwal yang cukup longgar. Kami berlima memiliki agenda untuk mempersiapkan donation drive dan educational workshop. Berdasarkan diskusi yang sebelumnya telah kami lakukan kami memutuskan untuk menjual beberapa makanan ringan sebagai media donasi. Jadi kami menjual makanan dengan harga yang sedikit lebih tinggi dari aslinya untuk kemudian uang tersebut dimasukkan sebagai donasi. Kami akhirnya memutuskan untuk pergi ke Aeon. Aeon adalah salah satu mall yang menjual banyak barang disini, dan dengan rekomendasi dari salah satu teman kami pergi kesana. Setelah mencari lokasi Aeon terdekat dari hostel saya memberitahu bahwa letak Aeon tidak terlalu jauh, hingga kami memutuskan untuk berjalan kaki. Dengan cuaca yang sangat terik padahal baru jam 10 pagi, kami berlima berjalan kaki sekitar kurang lebih 20 menit. Saya memang menggalakkkan jalan kaki semenjak saya di sini, selain untuk menghemat uang transport saya juga mulai berusaha untuk mengimbangi pola makan dengan olahraga ringan seperti jalan kaki ke tempat tempat yang ingin saya tuju.

Setelah sampai di Aeon kami langsung menuju area supermarket. Namun sungguh wajar mata seorang perempuan yang sangat mudah tergoda barang barang lain dan melupakan tujuan awal datang ke mall tersebut. Di supermarket banyak discount buah buahan dan sayur sayuran segar. Sayangnya di hostel saya tidak diizinkan untuk memasak. Akhirnya saya sempat membeli beberapa buah apel dan jeruk untuk dibawa pulang. Kami berkeliling supermarket untuk menentukan snack dan minuman apa yang dapat kami jual dan tentunya memberikan keuntungan agar kami memenuhi target donasi yang harus kami capai yakni sekitar 1500 RM. Kami belum membeli penganan yang telah kami putuskan karena donasi akan dilakukan ditanggal 4 Februari 2020 dan 18 Februari 2020. Kami sekedar riset harga untuk dapat menentukan total biaya pengeluaran dan menentukan juga harga jual nanti. Kami harap donasi akan berjalan dengan baik karena donasi diselingi dengan kampanye raising awareness about cancer.

24 Januari 2020

Hari ini agenda saya adalah persiapan untuk educational workshop namun persiapan memang dilakukan di hostel, berbeda dari kemarin yang dapat dilakukan di Taylor University. Hari ini tidak banyak kegiatan yang dilakukan, saya dan teman teman telah menyicil persiapan dari kemarin seperti konsep acara dan lain lain, sehingga dihari ini kami berusaha untuk menyiapkan materi presentasi. Kami membagi menjadi dua team yakni team presentasi dan tem survey serta persiapan quiz. Saya mengerjakan lembar survey yang harus kami berikan untuk dapat mengevaluasi bagaimana kegiata hari tersebut berlangsung, kami juga sembari berdiskusi untuk penampilan kami di break time diakhir sesi presentasi nanti. Kami ingin bermain dan menyanyi bersama murid-murid SMK untuk melepas penat sejenak.

Selepas melaksanakan briefing dan mengerjakan beberapa materi dengan teman teman saya mendapat free time. Kebanyakan waktu senggang, saya gunakan untuk beristirahat. Tetapi pada sore ini saya berkunjung ke hostel salah satu teman dari UNEJ yakni Mutiara dan Mella. Karena hostel saya tidak menyediakan setrika dan Mella membawa setrika dari Indonesia, saya menumpang untuk menyetrika beberapa kemeja saya disana sekalian bertukar kabar dan cerita bagaimana keadaan proyek mereka selama hampir dua minggu. Setelah berbincang bincang cukup lama, saya dan kawan kawan memutuskan untuk pergi mencari makan malam. Kami pada akhirnya memilih gerai MC Donald yang di Indonesia juga banyak berdiri, walaupun demikian terkadang masih ada beberapa makanan atau bumbu-bumbu yang belum bisa diterima oleh lidah kami. Walaupun sesungguhnya memakan makanan fast food tidak sehat tapi rasa rasanya kami tidak punya pilhan lain. Setelah makan bersama kami pun memutuskan pulang. Sebelum itu kami merencanakan untuk pergi ke Kuala Lumpur esok hari untuk berjalan jalan karena kami mendapat libur selama 3 hari untuk Chinese New Year.

25 Januari 2020

Hari ini termasuk salah satu hari yang saya tunggu. Saya dan teman teman akhirnya melakukan perjalanan wisata ersama. Yang membedakan dengan Malaysia Tour yang lalu adalah kami bisa menentukan kemana tujuan kami. Kami sengaja memilih menyusuri Kuala Lumpur dengan jalan kaki. Saya sangat ingin mengeksplor dan melihat sampai sejauh mana kaki saya dapat berjalan menyusuri kota Kuala Lumpur. Namun sangat disayangkan, rencana semula ada 9 orang berangkat bersama, tetapi ada satu kawan yang sakit sehingga membatalkan ikut serta. Saya, Cipta dan Philia janjian bertemu Iklilah dan Syafira di stasiun SS 15 untuk makan siang terlebih dahulu sebelum berangkat. Entah dapat dikatakan makan pagi atau makan siang karena hari itu aktivitas kami cukup terlambat dari jadwal yang sudah direncanakan sebelumnya. Setelah makan kami berangkat ke Kuala Lumpur menggunakan LRT. Akhirnya setelah penantian hampir dua minggu,  saya menaiki kereta itu juga. Awalnya saya bingung tapi ternyata menaiki LRT, monorail dan moda transportasi lainnya sangatlah mudah, hanya saja terkadang masih sulit membaca dan menentukan jalur kereta yang bersilangan.

Sekitar 30 menit perjalanan kami pun tiba di Kuala Lumpur. Tujuan pertama kami tentu saja Menara Kembar Petronas. Menara ini terletak sangat dekat dengan pintu keluar dari stasiun KLCC. Kami pun mulai berjalan-jalan.  Saya pikir sedikit saja orang yang mengunjungi Twin Tower, namun ternyata wisatawan tetaplah banyak sehingga sulit untuk menemukan spot foto yang bagus. Sekitar 20 menit kami melihat-lihat Menara Kembar Petronas, untuk berfoto sekaligus istirahat karena disepanjang perjalanan di kereta kami berdiri karena penumpang sangat penuh. Sebenarnya kami cukup kecewa sebab tidak bisa mengambil foto di Twin Towers, karena cahaya matahari yang semakin meninggi membuat cuaca terasa sangat panas.

`         

Setelah dari Twin Towers, kami sempat bingung ingin kemana, banyak tempat yang ingin dikunjungi namun waktu yang tersisa cukup singkat. Karena cuaca semakin panas, kami memutuskan untuk pergi ke salah satu mall di Kuala Lumpur yakni Fahrenheit. Kami berjalan dari Twin Towers menuju Fahrenheit sekitar 15 menit. Berjalan kaki diluar negeri sambil menikmati kota adalah impian saya sejak dahulu. Kami tiba di Fahrenheit, yang terletak di bukit bintang. Kami tidak punya kegiatan sebenarnya di mall tersebut. Ingin membeli beberapa barang namun saya masih penuh pertimbangan. Pada akhirnya saya hanya membeli beberapa titipan dari teman saya di Indonesia. Saya dan kawan kawan akhirnya meninggalkan mall dan menuju tujuan kami selanjutnya yakni Petaling Street.

Di sini lah get lost in Malaysia dimulai. Setelah searching menggunakan google maps, kami harus menggunakan kereta dengan tujuan pasar seni. Sebenarnya kami bisa menggunakan taxi online, namun kami ingin menikmati transportasi umum. Memesan tiket adalah langkah yang mudah.  Namun saat memasuki gerbang ternyata kereta yang langsung menuju pasar seni tidak ada. Sempat kebingungan, akhirnya kami memilih bertanya kepada petugas customer service di stasiun Bukit Bintang tersebut. Ternyata kami harus oper melalui stasiun Masjid Jamek. Kami menunggu kereta sekitar 5 menit hingga akhirnya menaiki kereta ke arah Masjid Jamek. Ternyata sesampainya kami di stasiun Masjid Jamek, kami harus oper kereta lagi untuk dapat menuju pasar seni. Kami berkali kali bertanya pada petugas hingga akhirnya paham kereta mana yang harus kami naiki untuk sampai di pasar seni. Kami menunggu kereta tidak lama hingga akhirnya kereta yang mengantar kami tiba.

Tiba dipasar seni, kami mencari jalur keluar yang langsung terhubung dengan Petaling Street. Sebelumnya, saya sempat mengunjungi Petaling Street dengan kawan-kawan satu proyek, tetapi hari ini Petaling Street sangat berbeda. Lebih banyak penjual yang memakan bahu jalan sehingga jalan yang biasanya ramai dilalui pengunjung berubah menjadi lapak penjual. Saya buru-buru menuju ujung jalan karena tidak tahu apa yang mau dilakukan di sepanjang Petaling Street. Saya dan teman teman memutuskan untuk makan siang menuju Texas Chicken. Setelah makan, sebenarnya kami bertujuan untuk pulang, namun saat saya membaca papan nama tujuan bertuliskan Dataran Merdeka, saya mengusulkan untuk mengunjungi Dataran Merdeka. Sudah kepalang tanggung sampai disini kalau tidak dikunjungi akan rugi. Ternyata daerah sepanjang Dataran Merdeka sangat cantik dan artistik. Kami mengabadikan banyak sekali foto disana hingga menjelang pukul 08.00 malam, kami pun memutuskan pulang menggunakan LRT. Tiba di hostel sekitar pukul 09.00 saya memutuskan untuk segera membersihkan diri dan beristirahat.

26 Januari 2020

Setelah pulang dari Kuala Lumpr kemarin kaki terasa sangat sakit. Badan baru terasa pegal-pegal di hari ini. Untungnya hari ini masib masuk jadwal libur sehingga saya bisa beristirahat sepuasnya. Kaki saya sempat bengkak mungkin karena kemarin banyak berjalan. Hari ini benar benar tidak ada kegiatan selain istirahat dan makan. Saya sarapan di Nasi Kandar Pelita seperti biasanya. Dan malam harinya, saya, Cipta, Iklilah dan Syafira serta satu teman baru yang baru tiba dari Taiwan mengunjungi restoran Indonesia yang direkomendasikan oleh Mutiara. Saya memesan nasi ayam geprek yang sekian lama sudah saya rindukan. Saya dan teman teman merindukan makanan pedas dari Indonesia, karena disini kebanyakan kami mengkonsumsi makanan khas India yang kuat rempah namun tidak pedas. Benar-benar menyenangkan memakan makanan pedas setekah sekian lama. Cita rasa Indonesia benar benar terasa walau saya harus mengeluarkan cukup banyak uang untuk makan ditempat tersebut. Setelah makan malam saya berpisah dengan Iklilah dan Dina karena kita berbeda hostel. Kembali ke hostel membersihkan tubuh dan akhirnya saya kembali tidur.

Skip to content