Inovasi Bioteknologi UNEJ Jawab Tantangan Infeksi Resisten Antibiotik

Jember, 4 Februari 2026

Di tengah ancaman global resistensi antibiotik yang kian mengkhawatirkan, Universitas Jember (UNEJ) kembali menorehkan capaian akademik bersejarah.

Dr. Riska Ayu Febrianti, S.Pd., M.Biotek., dosen dan peneliti muda dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UNEJ, berhasil menyelesaikan studi doktoralnya melalui riset bioteknologi yang menawarkan pendekatan baru dalam penanganan infeksi bakteri resisten antibiotik. Capaian ini menandai lahirnya generasi awal doktor Bioteknologi UNEJ yang mengusung riset berbasis dampak.

Riska merupakan salah satu dari tiga lulusan perdana Program Doktor Bioteknologi Universitas Jember. Ia juga tercatat sebagai lulusan termuda diantara rekannya, seiring dengan kontribusi risetnya dalam pengembangan terapi alternatif untuk menjawab krisis resistensi antibiotik yang kini menjadi isu kesehatan global.

Perjalanan akademik Riska tidak hanya ditandai oleh capaian studi, tetapi juga keberanian memilih tema riset strategis yang bersentuhan langsung dengan persoalan kesehatan masyarakat. Ketertarikannya pada bioteknologi, khususnya riset bakteriofag, tumbuh sejak jenjang sarjana hingga doktoral melalui pendampingan intensif para pembimbingnya di Universitas Jember.

Dr. Riska Ayu Febrianti, S.Pd., M.Biotek., saat memaparkan disertasi dalam Ujian Terbuka Program Doktor (S3) Bioteknologi Universitas Jember.

“Dorongan dari Prof. Erlia Narulita selaku pembimbing saya sejak S1 dan S2 sangat berarti. Beliau tidak hanya membimbing secara akademik, tetapi juga memberi ruang bagi saya untuk terus bermimpi dan berkembang. Dari diri saya sendiri, saya ingin menjadi ahli yang kompeten dan menghadirkan dampak nyata melalui inovasi sains, terutama di bidang bioteknologi dan riset bakteriofag,” ungkap Riska.

Disertasi yang dihasilkan Riska berangkat dari urgensi global infeksi Salmonella enterica yang menurut data tahun 2024 masuk dalam sepuluh besar penyebab kematian akibat penyakit bawaan pangan, sekaligus menjadi salah satu bakteri dengan tingkat resistensi antibiotik tertinggi di dunia. Ketergantungan pada antibiotik konvensional, sementara inovasi obat baru stagnan selama puluhan tahun, mendorong perlunya pendekatan terapi alternatif.

Melalui disertasinya, Riska mengembangkan terapi berbasis bakteriofag, yakni virus litik yang secara spesifik menargetkan dan menghancurkan bakteri patogen. Dengan memanfaatkan teknologi rekayasa genom CRISPR/Cas9, ia berhasil memodifikasi bakteriofag lokal agar memiliki kisaran inang yang lebih luas. Bakteriofag rekombinan hasil risetnya tidak hanya efektif melawan satu serovar Salmonella, tetapi juga mampu melisiskan beberapa serovar penting lain yang kerap menyebabkan infeksi klinis pada manusia.

Dr. Riska Ayu Febrianti, S.Pd., M.Biotek., tengah melakukan penelitian di laboratorium bioteknologi sebagai bagian dari riset doktoralnya.

“Krisis multiug resistant membuat terapi antibiotik menjadi semakin tidak efektif. Karena itu, riset ini berfokus pada bakteriofag sebagai agen terapeutik alternatif yang lebih presisi, tidak mudah resistan, dan aman bagi inang,” jelasnya saat memaparkan disertasi.

Keunggulan riset Riska tidak hanya terletak pada kebaruannya, tetapi juga pada rekam jejak akademik dan jejaring internasional yang telah ia bangun sejak dini. Hasil risetnya telah dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi hingga Scopus Q1, serta dipresentasikan dalam forum ilmiah internasional, termasuk 76th Annual Meeting Society for Biotechnology di Jepang dan konferensi biosains tingkat nasional dan internasional lainnya. Ia juga aktif dalam berbagai skema hibah riset dan kolaborasi luar negeri.

Di balik capaian ilmiah tersebut, Riska mengakui bahwa proses riset doktoral adalah perjalanan panjang yang menuntut ketekunan dan ketahanan mental.

Dr. Riska Ayu Febrianti, S.Pd., M.Biotek., saat mengikuti konferensi internasional biosains, menandai keterlibatannya dalam jejaring riset global di bidang bioteknologi.

“Salah satu momen paling berkesan adalah saat harus lembur di laboratorium hanya untuk mengamati pertumbuhan dan menganalisis sampel. Dari situ saya belajar bahwa bioteknologi bukan sekadar angka, tetapi tentang memahami kehidupan pada level molekuler yang sangat presisi,” tuturnya.

Capaian akademik Riska juga tidak terlepas dari dukungan keluarga yang menjadi fondasi perjalanan studinya.

“Bagi saya, orang tua adalah sistem pendukung utama. Doa dan pengertian mereka,termasuk ketika saya harus kehilangan banyak waktu bersama keluarga demi riset, menjadi kekuatan saya hingga menyelesaikan studi doktoral ini,” pungkasnya.

Kelulusan ini sekaligus menegaskan komitmen Universitas Jember sebagai kampus riset berdampak, yang tidak hanya mencetak lulusan unggul, tetapi juga melahirkan ilmuwan muda dengan kontribusi nyata bagi penyelesaian persoalan kesehatan global melalui sains dan inovasi. (qf)

#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #Profil