Jumlah Guru Besar UNEJ Tembus 101 Profesor

Jember, 12 Februari 2026

Universitas Jember (UNEJ) mengukuhkan empat guru besarnya di gedung Auditorium Kampus Tegalboto (12/2/2026).

Menurut rektor, pengukuhan ini menjadi momen bersejarah dalam perjalanan UNEJ. Pasalnya setelah menjalani usia enam dekade lebih, pada pengukuhan guru besar inilah jumlah guru besar UNEJ tembus 100 orang, tepatnya berjumlah 101 orang profesor.

Empat guru besar baru yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Kiswara Agung Santoso, S.Si., M.Kom., guru besar algoritma pemrograman Program Studi Matematika, FMIPA. Kedua, Prof. Ir. Khairul Anam, ST., M.T., M.Ag., Ph.D., IPU. ASEAN.Eng., guru besar bidang rekayasa instrumentasi dan kontrol Program Studi Teknik Elektro FT. Ketiga Prof. Dr. Ir. Evita Soliha Hani, M.P., guru besar bidang Ekonomi Sumber Daya Manusia di Lingkungan Pertanian Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian. Serta Prof. Dr. Ir. Bambang Marhaenanto, M.Eng., IPM. ASEAN.Eng., guru besar bidang Otomasi dan Informatika Pertanian Program Studi Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian.

Rektor UNEJ, Iwan Taruna menyampaikan pidato pengukuhan

Dalam pidato pengukuhannya, Iwan Taruna menyampaikan rasa syukurnya akan tambahan guru besar di UNEJ. Pasalnya jika pada tahun 2020 jumlah guru besar UNEJ hanya 51 orang, maka kini di tahun 2026 berjumlah 101 orang. Namun ia mengingatkan jika jumlah profesor UNEJ ini belum mencapai target. Sebab jika menilik angka ideal, maka UNEJ seharusnya memiliki 150 guru besar yang merupakan sepuluh persen dari total jumlah dosen yang ada.

“Kita terus mendorong dosen untuk mencapai jabatan guru besar melalui beragam program, seperti hibah riset maupun insentif penulisan di jurnal bereputasi. Namun tentu saja kesemuanya dilaksanakan sesuai aturan yang berlaku dan tidak sekedar memenuhi kuantitas,” tutur Iwan Taruna.

Ketua Senat UNEJ mengukuhkan para guru besar baru

Selanjutnya rektor berharap keberadaan profesor baru memperkuat implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, melalui pemikiran visionernya mampu menghasilkan beragam inovasi dan solusi permasalahan yang ada. Pencapaian jabatan guru besar bukan hanya prestasi pribadi, namun juga akan memperkokoh eksistensi UNEJ sebagai mercusuar keilmuan yang diharapkan turut memberikan solusi bagi permasalahan bangsa.

Acara pengukuhan guru besar kemudian dilanjutkan dengan orasi ilmiah yang diawali oleh Prof. Kiswara Agung Santoso dengan judul “Otentikasi Image Berbasis Magic Square Orde n”. Guru besar di Program Studi Matematika FMIPA ini menegaskan betapa matematika berperan besar dalam pengembangan komputasi, sehingga dunia digital bisa berkembang pesat seperti saat ini. Salah satunya melalui kajian bidang algoritma.

Prof. Dr. Kiswara Agung Santoso, S.Si., M.Kom., guru besar algoritma pemrograman Program Studi Matematika, FMIPA.

Menurut guru besar asli Malang ini, algoritma merupakan inti dari seluruh proses komputasi. Setiap sistem cerdas, perangkat lunak berskala besar, maupun teknologi mutakhir pada dasarnya bergantung pada kualitas algoritma yang dirancang di baliknya. Salah satu aplikasinya penggunaan magic square (persegi ajaib) orde n untuk memberikan otentifikasi sebuah citra.

Saat ini dengan kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) maka umum ditemui saling mengirimkan dokumen berupa citra atau gambar semisal hasil scan ijazah dan sebagainya. Namun hasil scan tersebut bisa disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung jawab semisal dengan mengubah hasil scan tadi. Dengan sistem Magic Square Orde n maka dokumen atau citra tadi bisa diamankan, sekaligus bisa memeriksa apakah sebuah dokumen tadi otentik atau tidak.

“Keunggulan metode ini menggunakan teknik steganografi, sehingga memungkinkan penyisipan data yang tersembunyi tanpa mengubah kualitas visual citra secara signifikan sehingga dokumen atau citra tetap aman,” jelas Prof. Kiswara Agung Santoso.

Prof. Ir. Khairul Anam, ST., M.T., M.Ag., Ph.D., IPU. ASEAN.Eng., guru besar bidang rekayasa instrumentasi dan kontrol Program Studi Teknik Elektro FT.

Guru besar kedua yang tampil adalah Prof. Khairul Anam, dengan orasi ilmiah berjudul “Niat, Kecerdasan Buatan, dan Teknologi Asistif: Menuju Integrasi Manusia dan Mesin”. Orasi ilmiah ini berangkat dari kegelisahannya melihat kalangan difabel yang masih kesulitan menggunakan beragam peralatan asistif atau alat bantu yang awalnya diciptakan untuk membantu mobilitas. Penyebabnya semisal karena sistem antarmuka yang rumit, perintah yang kaku, serta kegagalan sistem. Semuanya sering kali justru menambah beban psikologis pengguna.

“Lantas muncul pertanyaan mendasar, bagaimana jika teknologi asistif tidak lagi menuntut manusia untuk beradaptasi, melainkan dirancang untuk mengikuti niat manusia itu sendiri ? Pertanyaan inilah yang menginspirasi riset saya selama sepuluh tahun terakhir,” ungkap guru besar kelahiran Buleleng Bali ini.

Pertanyaan tersebut lantas diwujudkan Prof. Khairul Anam dalam beragam karya, diantaranya kursi roda real-time yang bisa digerakkan dengan perintah verbal yang diproses menggunakan kecerdasan buatan. Tidak berhenti di inovasi kursi roda yang digerakkan melalui suara saja, dosen yang juga hafidz ini mengembangkan sistem kontrol berbasis niat dari sinyal otak atau electroencephalography (EEG). Pendekatan ini membuka peluang bagi pengguna dengan keterbatasan motorik yang sangat berat, yaitu niat tidak lagi diekspresikan melalui gerakan atau suara, tetapi langsung melalui aktivitas neural.

Prof. Dr. Ir. Evita Soliha Hani, M.P., guru besar bidang Ekonomi Sumber Daya Manusia di Lingkungan Pertanian Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian.

Selanjutnya tampil Prof. Evita Soliha Hani dengan orasinya berjudul “Bonus Demografi atau Krisis Petani? Telaah Ekonomi Sumber Daya Manusia Dalam Ketahanan Pangan Indonesia”. Prof. Evita mengingatkan hadirin bahwa Indonesia saat ini menghadapi krisis petani. Krisis ini tampak dari jumlah petani yang makin berkurang, jika tahun 2013 jumlahnya sebanyak 31,71 juta orang, namun di tahun 2023 berkurang menjadi 29,36 juta orang saja. Kedua, usia mayoritas petani Indonesia yang makin tua, data di tahun 2023 mayoritas usia petani kita di rentang usia 45-54 tahun dengan persentase sebesar 23,20 persen.

Komposisi petani yang makin sedikit dan makin tua ini tentu mempengaruhi performa pertanian Indonesia. Sebab petani yang menua cenderung menurunkan efisiensi teknis dan kapasitas produksi secara keseluruhan. Hal ini dikarenakan, fisik petani yang semakin lemah seiring dengan tambahnya usia. Sementara itu minat anak muda menjadi petani terus berkurang karena beranggapan dunia pertanian tidak memberikan kepastian pendapatan, risiko usaha yang tinggi, minimnya dukungan pemerintah dan penghargaan yang rendah.

“Solusinya, sektor pertanian harus menjadi sektor yang menarik dan mendapatkan insentif ekonomi dari pemerintah sehingga mampu menyerap sumber daya manusia yang produktif, terampil, serta adaptif terhadap perubahan teknologi. Petani sebagai aktor utama dalam penyedia pangan perlu diperhatikan lebih,” ungkap Prof. Evita Soliha Hani.

Prof. Dr. Ir. Bambang Marhaenanto, M.Eng., IPM. ASEAN.Eng., guru besar bidang Otomasi dan Informatika Pertanian Program Studi Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian.

Rangkaian orasi ilmiah ditutup oleh Prof. Bambang Marhaenanto dengan orasi ilmiah berjudul “Implementasi Smart Greenhouse Pada Budidaya Sayuran Hidroponik”. Dalam paparannya, Guru besar yang piawai memainkan keyboards ini menawarkan sistem Smart Green House untuk pengembangan tanaman sayuran dengan pertanian hidroponik yang memanfaatkan air sebagai media tanam.

Implementasi teknologi Smart Greenhouse menjadi lompatan inovatif untuk mengoptimalkan potensi sistem hidroponik tersebut. Caranya melalui integrasi sensor berbasis Internet of Things (IoT), berbagai variabel kritis seperti suhu udara, kelembapan, intensitas cahaya, hingga nilai pH dan kepekatan nutrisi (EC) dapat dipantau serta dikendalikan secara otomatis.

“Penggunaan Smart Greenhouse menjadi jawaban permasalahan pangan global, khususnya kebutuhan sayuran berkualitas tinggi, seiring dengan pertumbuhan populasi dan kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat yang membutuhkan bahan pangan berkualitas,” tuturnya.

Acara pengukuhan guru besar makin meriah dengan penampilan Rektor UNEJ yang turut nge-band bersama para profesor dari Fakultas Teknologi Pertanian, diantaranya Prof. Yuli Witono, Prof. I.B. Suryaningrat, Prof. Bayu Taruna dan tentu saja Prof. Bambang Marhaenanto yang dikukuhkan hari itu. (iim)