Seorang Rektor yang Mempercayai Masa Depan In Memoriam Dr. Ir. T. Sutikto, M.Sc.

Jember, 6 Maret 2026

Universitas Jember kehilangan salah satu putra terbaiknya, hari Kamis 5 Maret 2026, mantan rektor sekaligus purna tugas dosen Program Studi Ilmu Tanah Fakultas Pertanian, Dr.

Ir. T. Sutikto, MSc., meninggal dunia. Selama mengemban amanah sebagai Rektor Universitas Jember (UNEJ) periode 2003 hingga 2012 banyak prestasi dan legasi yang sudah dicetak.

Oleh karena itu, untuk mengenang jasa-jasanya dan memberikan penghormatan terakhir, segenap pimpinan dan keluarga besar UNEJ menggelar pelepasan jenazah di gedung rektorat yang dilaksanakan pada hari Jumat (6/3/2026). Jenazah selanjutnya akan dibawa ke Lumajang untuk dimakamkan.

Sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan, Prof. Agus Trihartono dari FISIP menuliskan obituari yang berisi kenangan atas Dr. Ir. T. Sutikto, MSc.

Rektor UNEJ beserta para Wakil Rektor UNEJ memberikan penghormatan terakhir untuk alm Dr. Ir. T. Sutikto, MSc

Dalam hidup kita sering bertemu banyak orang. Sebagian lewat begitu saja, meninggalkan sedikit ingatan. Tetapi ada juga pertemuan-pertemuan tertentu yang diam-diam memberi arah baru pada perjalanan hidup kita. Bagi saya, dengan Pak Tikto, ada dua pertemuan yang sampai hari ini terasa sangat membekas. Dua pertemuan yang sederhana, tetapi mewarnai perjalanan akademik saya dengan cara yang tidak pernah saya rencanakan sebelumnya.

Ada orang-orang yang hadir dalam perjalanan hidup kita bukan dengan suara yang lantang, bukan pula dengan pidato yang panjang. Mereka hadir lewat keputusan-keputusan kecil, sering kali sederhana, tetapi diam-diam mengubah arah masa depan seseorang. Dr. Ir. T. Sutikto adalah salah satu dari orang itu.

Saya pertama kali mengenal beliau ketika beliau menjabat sebagai Ketua Lembaga Penelitian Universitas Jember. Saat itu beliau memberi pelatihan penelitian bagi para dosen muda, dan salah satu materi yang beliau sampaikan adalah tentang etika akademik dan academic writing. Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya satu sesi pelatihan biasa, satu bagian kecil dari rangkaian kegiatan akademik.

Namun bagi saya, sesi itu meninggalkan sesuatu yang lebih dalam.

Beliau tidak sekadar berbicara tentang teknik menulis atau bagaimana menyusun kalimat yang baik. Beliau berbicara tentang integritas seorang ilmuwan, tentang kejujuran dalam berpikir, tanggung jawab dalam mengutip gagasan orang lain, dan keberanian untuk berdiri di atas argumen yang kita yakini benar.

Ada beberapa kalimat dari sesi itu yang sampai hari ini masih terngiang di ingatan saya. Mungkin karena beliau menyampaikannya bukan sebagai teori yang dingin, tetapi sebagai sesuatu yang dijalani sendiri sebagai seorang akademisi. Kata-katanya terasa hidup, seolah lahir dari pengalaman panjang bersama dunia ilmu.

Dekan FIB UNEJ Prof. Nawiyanto, menyampaikan sambutan mewakili keluarga alm Dr. ir. T. Sutikto, MSc

Tahun-tahun berlalu. Pelatihan itu menjadi kenangan yang tampaknya sederhana. Tetapi tanpa saya sadari, pelajaran itu menemukan jalannya kembali dalam hidup saya. Bertahun-tahun kemudian saya justru menjadi pengampu academic writing di fakultas. Kadang saya merasa seperti sedang melanjutkan sesuatu yang dulu pernah beliau mulai. Seakan-akan benih yang pernah beliau tanam dalam sebuah ruang pelatihan kecil itu tumbuh pelan, diam-diam, tetapi konsisten.

Pertemuan kedua saya dengan beliau terjadi dalam bab yang berbeda. Saat itu beliau telah menjadi Rektor Universitas Jember.

Saya hidup di era dimana dunia birokrasi kampus di masa itu tidak selalu ramah terhadap mimpi. Ada prosedur yang panjang, ada pertimbangan administratif, ada pula keraguan yang sering kali membuat langkah seseorang tertahan. Bagi dosen muda yang ingin melanjutkan studi, jalan itu kadang terasa lebih berliku dari yang dibayangkan.

Pada masa itulah saya memiliki keinginan untuk melanjutkan studi S2 ke Jepang.

Saya masih ingat sebuah pertemuan sederhana di sebuah gang kecil di sekitar rektorat. Pertemuan yang sebenarnya sangat biasa, bahkan hampir kebetulan. Saya bertemu beliau di sana, dan dengan keberanian yang mungkin lahir dari kegelisahan, saya menyampaikan niat saya, bahwa saya ingin melanjutkan studi ke Jepang.

Sejujurnya, saya tidak tahu apa yang saya harapkan saat itu. Mungkin hanya sekedar ingin didengar.

Namun yang terjadi justru jauh lebih dari itu.

Beliau tidak menunda, tidak meragukan, dan tidak mempersulit. Sebaliknya, beliau langsung menunjukkan dukungan. Beliau mengajak saya masuk ke ruangannya di rektorat, mendengarkan rencana saya dengan serius, lalu menuliskan surat rekomendasi. Sebagai alumni universitas di Jepang, beliau memahami arti sebuah kesempatan belajar di negeri itu. Beliau tahu bahwa perjalanan akademik kadang dimulai dari satu pintu kecil yang terbuka pada waktu yang tepat.

Tetapi kebaikan beliau tidak berhenti di sana.

Beliau tahu bahwa saya adalah dosen muda yang bahkan tidak memiliki cukup biaya untuk sekadar mencoba mendaftar. Untuk pergi ke Jakarta saja, ke kantor JICA untuk melamar seleksi Japan Development Scholarship (JDS), saya harus berpikir berkali-kali.

Pak Sutikto kemudian melakukan sesuatu yang sampai hari ini masih saya ingat dengan rasa haru. Beliau memberikan saya ongkos perjalanan Jakarta pulang-pergi dari dana operasional rektor.

Peristiwa itu bahkan sempat membuat bagian keuangan bertanya-tanya. Mereka mengira saya mungkin kerabat beliau. Tidak ada penjelasan lain yang tampak masuk akal bagi mereka mengapa seorang dosen muda menerima biaya dari dana operasional rektor.

Padahal kenyataannya sangat sederhana. Kami tidak memiliki hubungan keluarga apa pun. Bahkan bidang ilmu kami pun sangat berbeda. Pak Sutikto berasal dari dunia agriculture, sementara saya menekuni hubungan internasional.

Yang ada hanyalah kemurahan hati seorang ilmuwan senior kepada seseorang dosen muda yang sedang mencoba melangkah lebih jauh.

Kepercayaan beliau bahkan tercatat secara resmi. Dalam formulir aplikasi studi saya, nama beliau tercantum sebagai guarantor selama saya belajar di Jepang. Bagi sistem administrasi, itu mungkin hanya sebuah tanda tangan. Tetapi bagi saya, itu adalah bentuk kepercayaan yang sangat besar, sekaligus tanggung jawab moral yang saya rasakan hingga hari ini.

Ketika saya akhirnya kembali dari Jepang setelah menyelesaikan studi S2, saya datang menemui beliau. Saya menceritakan pengalaman belajar saya dan nilai-nilai (values) yang saya peroleh selama kuliah.

Yang paling saya ingat dari pertemuan itu adalah ekspresi wajah beliau.

Ada kegembiraan yang jernih di sana. Bukan kegembiraan seorang birokrat yang merasa berhasil mengirim stafnya belajar. Lebih dari itu. Ia tampak seperti seorang guru yang melihat muridnya pulang membawa kabar baik.

Pada saat itulah saya menyadari sesuatu yang sederhana tetapi sangat berarti.

Hubungan kami tidak pernah benar-benar terasa seperti hubungan antara rektor dan dosen.

Pak Sutikto memperlakukan saya seperti seorang ilmuwan senior kepada peneliti muda yang ingin terus belajar, dengan ketulusan yang tidak dibuat-buat.

Dalam dunia akademik, kita sering berbicara tentang sistem, kebijakan, dan institusi. Semua itu tentu penting. Namun pada akhirnya, masa depan ilmu sering kali ditentukan oleh sesuatu yang jauh lebih manusiawi, seseorang yang bersedia percaya pada orang lain.

Dr. Ir. T. Sutikto adalah orang seperti itu.

Beliau dua periode memimpin Universitas Jember sebagai rektor. Namun bagi saya pribadi, jabatan itu bukan hal pertama yang teringat ketika mengingat beliau.

Yang selalu kembali dalam ingatan saya justru momen-momen kecil, sebuah pertemuan di gang rektorat, sebuah undangan masuk ke ruang kerja, sebuah surat rekomendasi yang ditulis dengan cepat, dan ongkos perjalanan yang memungkinkan sebuah mimpi benar-benar dimulai.

Kadang sejarah seseorang tidak hanya tercatat dalam keputusan-keputusan besar yang diumumkan kepada publik. Ia juga hidup dalam keputusan-keputusan kecil yang diam-diam mengubah kehidupan orang lain.

Dalam perjalanan akademik saya, besar atau kecil, ada bagian yang tidak bisa dilepaskan dari nama Pak Sutikto.

Dan mungkin di situlah letak jejak seorang akademisi sejati.

Ia tidak hanya meninggalkan bangunan atau kebijakan.
Ia meninggalkan manusia-manusia yang pernah ia percayai untuk terus belajar.

Terima kasih, Pak Tikto, telah memberi teladan tentang apa artinya menjadi seorang akademisi yang memimpin dengan kepercayaan, ketulusan, dan keberanian membuka jalan bagi orang lain.

Selamat jalan, Pak Tikto.
Rest in Peace.

Agus Trihartono
Guru Besar Diplomasi
FISIP Universitas Jember
Rektor Universitas Islam Cordoba Banyuwangi