Jember, 6 Maret 2026
Puasa adalah bengkel batin untuk mewujudkan revolusi mental.
Pesan ini disampaikan oleh Prof. Hepni Zein kala memberikan ceramah dalam rangka kegiatan rutin pengajian setiap hari Jumat selama Ramadan di kampus Tegalboto (6/3/2026). Menurut dai yang juga Rektor Universitas Islam Negeri KH. Achmad Siddiq (UINKHAS) ini, puasa menjadi bengkel batin karena tidak hanya mengajarkan menahan diri secara tuntutan biologis, namun juga melatih manajemen qolbu atau manajemen hati.Prof. Hepni Zein lantas melanjutkan paparannya terkait inti puasa, yakni imsak atau menahan diri. Puasa mengajarkan kita untuk menahan diri dari sesuatu yang seharusnya boleh dilakukan, semisal makan dan minum. Puasa juga melatih manusia menahan hawa nafsu yang menjadi musuh terbesar sehingga manusia akhirnya bisa menerima kehendak Allah SWT.
βOleh karena itu puasa juga menjadi benteng bagi oang beriman, sekaligus melatih kesabaran,β ungkap Rektor UINKHAS Jember.

Prof. Hepni Zein lantas mengutip pendapat ulama besar Al Ghazali yang membagi orang yang berpuasa dalam tiga tingkatan. Yakni puasanya orang awam yang masih sebatas menahan lapar dan haus, puasa khusus bagi mereka yang selain menahan lapar dan haus juga mampu menahan godaan hawa nafsu. Serta tingkatan tertinggi puasa khususil khusus, yaitu puasa dari keinginan duniawi.
βMereka yang berhasil menjalani puasa maka akan ditandai dengan hati yang lembut, lisan yang baik dan tangan yang suka memberi,β pungkas Prof. Hepni Zein di hadapan hadirin yang memenuhi Masjid Al Hikmah.
Sebelumnya dalam sambutannya, rektor kembali mengingatkan keluarga besar UNEJ agar memanfaatkan bulan Ramadan sebaik-baiknya. Diantaranya dengan meluruskan niat dan menata ibadah, agar bulan puasa sebagai bulan madrasah hati berlanjut di bulan-bulan selanjutnya. Apalagi perguruan tinggi
Menurutnya, universitas tidak hanya menjadi tempat menumbuhkan kecerdasan intelektual, tetapi juga ruang untuk membangun karakter, integritas, dan keteladanan moral. Setiap tugas dan tanggung jawab yang dijalankan oleh sivitas akademika sejatinya dapat bernilai ibadah.

Rektor juga mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali yang menyatakan bahwa ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan. Oleh karena itu, ilmu yang dikembangkan di perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada pengetahuan semata, tetapi harus disertai kejujuran, tanggung jawab, serta integritas moral.
βPada bulan suci ini, ada kesempatan untuk menyucikan niat dan memperbaiki kualitas pengabdian kita. Ramadan mengingatkan kita untuk mengejar satu hal yang jauh lebih penting, yaitu keberkahan dari setiap amal yang kita lakukan,β pungkas Iwan Taruna. (iim/mbkr)

