Dari Angka Menjadi Peta: Peran Strategis Universitas jember Bersama BIG dalam mengawal Kebijakan One Map Policy

Jember, 10 April 2026

Data tidak lagi sekadar deretan angka dalam tabel.

Di era yang serba dinamis, data yang bernilai adalah data yang mampu β€œberbicara”,ditampilkan secara visual dan memotret realitas ruang secara presisi. Transformasi dari angka menjadi peta inilah yang kini terus didorong oleh Universitas Jember (UNEJ) bersama Badan Informasi Geospasial (BIG) dalam mengawal implementasi Kebijakan Satu Peta (One Map Policy), sebagaimana disampaikan oleh Prof. Bayu Taruna Widjaja Putra, S.TP., M.Eng., Ph.D., pakar pertanian presisi (precision agriculture) UNEJ.

Di Jawa Timur, Badan Informasi Geospasial (BIG) menjalin kerja sama dengan Universitas Jember (UNEJ) dalam pemetaan dan pengelolaan data geospasial, khususnya di kawasan Tapal Kuda. Kolaborasi ini menempatkan UNEJ sebagai mitra strategis dalam mendukung penataan dan penyelarasan data wilayah sebagai dasar perumusan kebijakan pembangunan daerah.

UNEJ mengampu wilayah Tapal Kuda yang meliputi Lumajang, Bondowoso, Jember, Banyuwangi, hingga Probolinggo. Pemanfaatan data geospasial di kawasan ini masih perlu ditingkatkan, sehingga membuka ruang bagi UNEJ untuk berperan dalam mendukung pemerintah daerah dalam pengelolaan data spasial.

Visualisasi sebaran asal mahasiswa yang mengikuti PPG di Universitas Jember diproyeksikan ke dalam peta digital berbentuk gradasi warna (heatmap).

Dalam praktiknya, pemerintah daerah tidak selalu harus berkoordinasi langsung dengan Badan Informasi Geospasial (BIG). Kehadiran Universitas Jember menjadi penghubung yang membantu penanganan berbagai persoalan spasial di tingkat daerah.

“Pemerintah daerah tidak perlu capek-capek ke BIG. Jadi cukup dengan UNEJ saja untuk membantu menyelesaikan permasalahan berkaitan dengan spasial di daerah Tapal Kuda,” ungkap Prof. Bayu.

Ia menyebutkan bahwa pemanfaatan data geospasial di kawasan Tapal Kuda masih relatif rendah, terutama jika dibandingkan dengan daerah lain seperti Jawa Barat yang pengelolaannya sudah lebih berkembang. Selain itu, masih terdapat kecenderungan bahwa pemerintah daerah mengandalkan kepemilikan peta tanpa memastikan pembaruan dan akurasi data yang digunakan.

Prof. Bayu mendorong adanya lompatan inovasi dengan mengubah paradigma penyajian data dari yang semula berbasis tabular menuju pemanfaatan data spasial. Di ranah keterbukaan informasi publik seperti PPID (Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi) kampus, misalnya, data sebaran asal mahasiswa tidak lagi hanya ditampilkan dalam baris angka daerah asal, melainkan diproyeksikan ke dalam peta digital berbentuk poin lokasi atau gradasi warna (heatmap).

Pemetaan komoditas kakao yang diolah menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) melalui fasilitas Super Komputer UNEJ untuk menghasilkan data pertanian yang presisi.

Menurutnya, pendekatan berbasis spasial ini dapat memberikan gambaran yang lebih informatif. Data tidak hanya menunjukkan jumlah, tetapi juga posisi dan sebarannya di lapangan. Hal ini dinilai dapat menjadi salah satu bentuk inovasi yang dapat dikembangkan, khususnya dalam meningkatkan kualitas penyajian informasi publik di lingkungan kampus.

Penerapan serupa juga dapat dilakukan pada skala pemerintah daerah. Prof. Bayu mencontohkan bahwa masih terdapat data yang disajikan dalam bentuk tabular tanpa dilengkapi informasi spasial yang memadai, seperti batas luasan aset daerah, hingga fasilitas umum seperti area pemakaman.

“Banyak area pemakaman hanya tercatat luasan sekian meter persegi di data tabular. Namun batas poligon aslinya di peta tidak ada. Padahal dengan data spasial yang tepat, pemerintah daerah bisa memprediksi sisa kapasitas lahan pemakaman dan mengambil tindakan preventif tata ruang,” urai Prof. Bayu.

Selain itu, kerja sama ini juga mencakup kegiatan pendampingan dan peningkatan kapasitas, seperti pelatihan kepada perangkat daerah serta pengembangan sistem berbasis web untuk pengelolaan data geospasial. Salah satu contoh yang telah dilakukan adalah kolaborasi dengan instansi teknis di daerah dalam pengembangan pemetaan berbasis data yang lebih terintegrasi.

Upaya ini menjadi bagian dari penguatan sumber daya manusia dan sistem pengelolaan data di daerah sebagai fondasi awal dalam pemanfaatan teknologi yang lebih lanjut, termasuk Artificial Intelligence (AI).

Prof. Bayu Taruna Widjaja Putra menekankan pentingnya transisi dari data tabular menuju data berbasis spasial untuk meningkatkan akurasi pengambilan kebijakan di tingkat pemerintah daerah.

Dalam pengembangannya, Universitas Jember (UNEJ) juga telah memanfaatkan infrastruktur komputasi untuk mendukung pengolahan data, termasuk dalam pengembangan Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini digunakan untuk membantu analisis data, seperti identifikasi komoditas pertanian berdasarkan data spasial dan citra lapangan.

Pemanfaatan AI tersebut telah mulai diterapkan dalam kegiatan pemetaan berbasis geospasial, salah satunya melalui pengembangan pemetaan komoditas kakao di Banyuwangi. Dalam praktiknya, pemetaan ini dilakukan dengan mengidentifikasi lokasi perkebunan kakao, luas area tanam, serta kondisi lingkungan yang memengaruhi pertumbuhan tanaman berdasarkan data spasial dan hasil pengamatan lapangan.

Melalui pendekatan ini, data tidak hanya menunjukkan keberadaan komoditas, tetapi juga memberikan gambaran mengenai sebaran dan potensi wilayah secara lebih rinci. Pemetaan ini menjadi langkah awal dalam membangun basis data pertanian yang lebih terstruktur dan dapat dikembangkan lebih lanjut ke depan.

Namun demikian, pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) di tingkat pemerintah daerah masih dalam tahap awal. β€œPemerintah daerah saat ini masih pada tahap pembenahan sistem dan peningkatan SDM. Ketika data dan sistemnya sudah tertata, baru nanti bisa dimanfaatkan untuk pengembangan artificial intelligence,” jelas Prof. Bayu.

Dalam implementasi kerja sama antara Universitas Jember dan Badan Informasi Geospasial, keterlibatan sivitas akademika menjadi elemen penting dalam mendukung pengelolaan data geospasial di daerah. Kolaborasi ini tidak hanya berfokus pada penguatan sistem, tetapi juga optimalisasi peran dosen dan mahasiswa.

Dosen berperan sebagai penyedia kepakaran di bidang teknologi informasi dan sistem geospasial melalui skema tridarma, mulai dari pendampingan pemerintah daerah hingga transfer pengetahuan. β€œKerja sama ini berbasis tridarma, tidak hanya pengembangan sistem, tetapi juga pemanfaatan kepakaran dosen,” ungkap Prof. Bayu.

Sementara itu, mahasiswa memiliki peluang untuk terlibat secara langsung melalui kegiatan magang maupun proyek kolaboratif yang terhubung dengan kerja sama antara Universitas Jember, Badan Informasi Geospasial, dan pemerintah daerah. Mahasiswa juga didorong untuk berkontribusi tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga dalam pengembangan pendekatan strategis lintas bidang. Hal ini sejalan dengan karakter teknologi geospasial yang bersifat multidisiplin dan dapat diterapkan di berbagai sektor, mulai dari pertanian, tata ruang, kehutanan, hingga pengembangan wilayah.

Pengembangan data geospasial yang dilakukan oleh Universitas Jember (UNEJ) bersama Badan Informasi Geospasial (BIG) ini sejalan dengan implementasi Kebijakan Satu Peta (One Map Policy) yang bertujuan untuk menyelaraskan data spasial secara nasional. Melalui kebijakan ini, diharapkan tidak terjadi lagi perbedaan data antarinstansi yang selama ini kerap menjadi kendala dalam perencanaan pembangunan.

Melalui sinergi antara dosen, mahasiswa, dan mitra eksternal, UNEJ tidak hanya berperan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai motor penggerak pemanfaatan teknologi geospasial yang berdampak langsung pada pembangunan daerah dan peningkatan kualitas pengambilan kebijakan berbasis data. (qf)