Jember, 15 April 2026
Ijen Geopark, khususnya wilayah Erek-erek Geoforest di Banyuwangi memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa.
Salah satunya dengan keberadaan tanaman paku pohon atau paku tiang. Tumbuhan paku dari marga Cyathea ini tergolong tanaman zaman prasejarah karena diperkirakan sudah ada di bumi semenjak 65 juta tahun yang lalu! Para dosen Program Studi Biologi FMIPA Universitas Jember (UNEJ) yang meneliti, menemukan ada dua jenis paku pohon di wilayah Erek-erek Geoforest, yakni Cyathea contaminas dan Cyathea orientalis.Menurut salah satu peneliti FMIPA UNEJ, Prof. Hari Sulistyowati, paku pohon tumbuh subur di Erek-erek Geoforest yang berada di ketinggian antara 1.600 hingga 1.700 Mdpl. Masuk dalam kawasan Perhutani Wilayah Barat Banyuwangi. Bahkan timnya menemukan banyak paku pohon yang tingginya mencapai enam hingga sepuluh meter seperti pohon kelapa. Kondisi ini dimungkinkan karena lingkungan Erek-erek Geoforest yang masih alami, kelembaban tinggi, kanopi pohon yang rapat dan limpahan sumber air.
Kelestarian hutan di wilayah Erek-erek juga karena kondisi topografinya. Wilayah ini seakan seperti dibentengi oleh bentang alam Gunung Rante. Prof. Hari Sulistyowati menduga, bentang alam ini yang melindungi wilayah Erek-erek dari letusan Gunung Ijen purba pada masa lalu. Tak heran jika kondisinya masih terjaga, masih seperti ribuan tahun lalu.

βKetika kami memulai riset di Erek-erek Geoforest, kami takjub dengan kondisi alamnya, seperti sedang masuk ke hutan di era dinosaurus,β ungkap Prof. Hari Sulistyowati saat ditemui di gedung Dekanat FMIPA (15/4/2026). Peneliti Biologi FMIPA UNEJ mulai meneliti di Ijen Geopark semenjak tahun 2020 silam.
Keberadaan paku pohon yang masuk tumbuhan purba beserta lingkungan pendukungnya ini tentu saja menarik untuk dikaji. Saat ini para ahli Biologi FMIPA UNEJ terus meneliti. Seperti yang dilakukan oleh dua dosen, Fuad Bahrul Ulum dan Dwi Setyati. Keduanya berusaha mendeskripsikan dan meneliti morfologi paku pohon. Mulai dari tinggi batang, warna sisik, bentuk spora hingga bagaimana perkembangbiakannya. Diharapkan hasil penelitian akan menambah khazanah pengetahuan mengenai tumbuhan paku pohon yang merupakan fosil hidup karena bentuknya yang hampir tidak berubah sejak zaman prasejarah.

βKami juga meneliti kekayaan sumber daya alam lainnya di Erek-erek Geoforest mulai dari lingkungan, tanaman hingga hewan yang ada, karena memang sungguh luar biasa sehingga bisa menjadi sumber pengetahuan dan peluang riset lanjutan,β imbuh Prof. Hari Sulistyowati yang juga Wakil Dekan I FMIPA.
Tidak heran jika kemudian wilayah Erek-erek Geoforest tergolong High Conservation Value (HCV) atau Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi (KBKT). KBKT adalah konsep identifikasi nilai biologis, ekologis, sosial, atau budaya yang sangat signifikan di suatu wilayah. KBKT digunakan untuk melindungi keanekaragaman hayati, jasa ekosistem, dan kebutuhan masyarakat. Begitu pentingnya sehingga semua pihak harus turut menjaga kelestariannya.

βOleh karena itu kondisi Erek-erek Geoforest harus kita jaga bersama, sebab harta yang tak ternilai bagi wilayah Tapal Kuda,β imbuh Prof. Hari Sulistyowati. (iim)

