Jember, 21 Mei 2026
Universitas Jember (UNEJ) menegaskan komitmennya dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan, baik seksual maupun non‑seksual.
Hal ini disampaikan langsung oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNEJ, Dr. Fendi Setyawan, S.H., M.H. dalam sambutannya pada acara Sosialisasi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) yang digelar oleh satuan tugas (Satgas) PPKPT UNEJ, Kamis (21/05/2026).“Perlindungan mahasiswa dari kekerasan adalah prioritas utama. Kampus harus menjadi ruang aman bagi seluruh sivitas akademika, tanpa terkecuali. Tidak ada toleransi terhadap kekerasan dalam bentuk apapun, baik seksual maupun non‑seksual. Komitmen ini bukan hanya slogan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata,” tegas Fendi Setyawan di hadapan peserta sosialisasi.

Acara sosialisasi ini diikuti oleh ratusan perwakilan pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) UNEJ dari berbagai fakultas. Mereka mendapat pembekalan mengenai bahaya kekerasan di kampus serta pemahaman mendalam mengenai regulasi, mekanisme pelaporan, dan langkah penanganan kasus kekerasan di lingkungan perguruan tinggi. Sosialisasi ini menjadi bagian dari upaya UNEJ untuk memperkuat peran organisasi mahasiswa sebagai garda terdepan dalam menciptakan budaya kampus yang sehat dan berintegritas.
Afeb Deri Marscelino, anggota Satgas PPKPT unsur mahasiswa Fakultas Pertanian turut memberikan penjelasan mengenai pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam pencegahan kekerasan. “Mahasiswa perlu memahami bentuk bentuk kekerasan seksual yang bisa terjadi di lingkungan kampus. Mulai dari pemaksaan hubungan seksual tanpa persetujuan, sentuhan tubuh tanpa izin, komentar atau lelucon bernuansa seksual yang tidak diinginkan, hingga pemaksaan memperlihatkan bagian tubuh tertentu. Termasuk juga pengambilan serta penyebaran foto atau video bernuansa seksual tanpa persetujuan. Semua tindakan ini adalah bentuk kekerasan yang harus dicegah dan ditangani secara serius,” tegasnya.

Qori’ah Munawaroh, anggota Satgas PPKPT unsur mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya juga menambahkan, “Tidak semua luka di kampus berasal dari akademik. Banyak mahasiswa kehilangan rasa aman bukan karena tugas kuliah, tetapi karena senioritas, relasi kuasa, perundungan, pelecehan, dan budaya organisasi yang dinormalisasi. Ironisnya, sering kali pelakunya justru orang orang di lingkungan yang seharusnya menjadi rumah kedua bagi mahasiswa. Inilah sebabnya pencegahan dan penanganan kekerasan harus menjadi perhatian serius bersama,” ujarnya.
Selain itu, Satgas PPKPT juga menekankan perlunya edukasi berkelanjutan agar mahasiswa memahami hak dan kewajiban mereka dalam menjaga lingkungan kampus. Sosialisasi ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa kekerasan, dalam bentuk apapun, tidak boleh dibiarkan terjadi.

Acara sosialisasi PPKPT 2026 ini sekaligus menjadi momentum bagi pengurus UKM dan Ormawa untuk berperan aktif dalam menjaga lingkungan kampus. Dengan semangat kolaborasi, UNEJ berharap seluruh mahasiswa dapat bersama‑sama membangun budaya anti kekerasan, sehingga kampus benar‑benar menjadi ruang belajar yang nyaman, aman, dan mendukung pengembangan diri secara optimal. (dil/adi)
#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #IKU3 #IKU10

