Jember, 11 September 2026
Makanan yang terkontaminasi bakteri sering kali memicu keracunan hingga infeksi serius.
Masalah menjadi kian rumit ketika bakteri-bakteri tersebut kebal terhadap obat akibat fenomena resistensi antibiotik. Menjawab tantangan kesehatan global ini, tim mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) mengembangkan terapi alternatif berbasis bakteriofag untuk menembus benteng pertahanan bakteri.Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE) 2026. Fokus utama penelitian ini adalah memanfaatkan kombinasi atau “koktail” bakteriofag—virus alami pembunuh bakteri—guna menghancurkan biofilm. Biofilm sendiri merupakan lapisan pelindung licin yang dibuat oleh bakteri agar mereka bertahan hidup dari serangan antibiotik.
Tim peneliti lintas fakultas ini terdiri atas Felicia Ariella Neysa Subroto, Andara Erly Nastasya, dan Allya Anggita dari S1 Pendidikan Biologi, serta Jaisy Nail El Digwi dan Rania Radfan dari S1 Pendidikan Dokter. Dibawah pendampingan Prof. Erlia Narulita, S.Pd., M.Si., Ph.D., mereka mengangkat penelitian berjudul “Disrupsi Biofilm Konsorsium Patogen Bawaan Makanan Oleh Kombinasi Koktail Faga Depolimerase dan Antibiotik Klinis: Pendekatan Terapi Penghancuran Matriks Ekstraseluler”. Penelitian ini dilaksanakan secara presisi di Laboratorium Kedokteran Molekuler, Center for Development of Advanced Sciences and Technology (CDAST) UNEJ.

Penelitian ini berangkat dari persoalan yang kian mengkhawatirkan di masyarakat. Banyak bakteri penyebab keracunan makanan mampu membentuk biofilm, yakni lapisan pelindung yang tersusun atas matriks ekstraseluler (extracellular polymeric substance/EPS). Lapisan ini menyelimuti koloni bakteri sehingga obat antibiotik sulit menembus hingga ke pusat sel. Akibatnya, bakteri tetap bertahan hidup meski telah diberi antibiotik dosis tinggi, yang pada akhirnya meningkatkan risiko resistensi obat sekaligus memperpanjang masa penyembuhan infeksi.
“Dalam kehidupan nyata, bakteri jarang hidup sendirian. Mereka membentuk komunitas yang saling melindungi melalui biofilm. Inilah yang membuat infeksi jauh lebih sulit diobati dibandingkan ketika bakteri masih berada dalam bentuk bebas,” jelas Felicia.
Berbeda dengan antibiotik konvensional, Felicia menjelaskan bahwa inovasi tim UNEJ memanfaatkan bakteriofag, yaitu virus alami yang secara spesifik hanya menyerang bakteri target. Selain membunuh bakteri melalui proses lisis, bakteriofag tertentu juga menghasilkan enzim depolimerase yang mampu menguraikan matriks biofilm. Saat lapisan pelindung tersebut rusak, struktur biofilm menjadi longgar sehingga bakteri di dalamnya lebih mudah dieliminasi.
Dalam eksperimen laboratorium, tim menguji biofilm konsorsium (gabungan) dari dua bakteri patogen utama penyebab kontaminasi pangan dan kasus keracunan makanan di Indonesia, yaitu Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Biofilm tersebut diberi enam perlakuan berbeda, mulai dari bakteriofag tunggal, koktail dua bakteriofag, antibiotik klinis, hingga kombinasi keduanya. Seberapa besar biofilm berhasil dihancurkan kemudian diukur menggunakan metode crystal violet assay.

Hasil penelitian menunjukkan temuan yang cukup menjanjikan. Seluruh perlakuan berbasis bakteriofag mampu menurunkan biomassa biofilm secara signifikan dibandingkan kelompok kontrol. Perlakuan bakteriofag tunggal menghasilkan penurunan biomassa tertinggi, yakni 48,2 persen, disusul koktail bakteriofag sebesar 44,6 persen. Sementara itu, antibiotik tanpa bantuan bakteriofag tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna dibandingkan kontrol, menandakan bahwa keberadaan biofilm memang menjadi penghalang utama efektivitas antibiotik.
Temuan menarik lainnya adalah kombinasi bakteriofag dan antibiotik belum memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan penggunaan koktail bakteriofag saja. Menurut tim peneliti, kondisi tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh urutan pemberian terapi, waktu kontak, maupun konsentrasi antibiotik yang masih perlu dioptimalkan. Oleh karena itu, penelitian lanjutan akan difokuskan pada penyempurnaan strategi kombinasi agar efek sinergis keduanya dapat tercapai secara maksimal.
Selain menguji biofilm konsorsium, penelitian ini juga mengevaluasi efektivitas empat antibiotik klinis terhadap biofilm masing-masing bakteri. Hasilnya menunjukkan bahwa biofilm tetap bertahan meskipun telah dipapar antibiotik, semakin menegaskan bahwa resistensi bukan hanya dipengaruhi oleh sifat bakteri, tetapi juga oleh keberadaan matriks biofilm yang melindunginya.
Menurut Prof. Erlia Narulita, penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada pengembangan terapi infeksi bakteri, tetapi juga membuka peluang penerapan bakteriofag dalam bidang keamanan pangan. Ke depan, teknologi berbasis bakteriofag diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai agen biologis untuk mengendalikan bakteri patogen pada rantai pangan, sehingga mampu menekan penggunaan antibiotik sekaligus membantu mengurangi laju munculnya resistensi antimikroba.
Melalui penelitian ini, mahasiswa Universitas Jember menunjukkan bahwa inovasi dari lingkungan kampus dapat menjadi bagian dari solusi terhadap persoalan kesehatan global. Dengan terus mengembangkan riset mengenai bakteriofag dan biofilm, mereka berharap dapat menghadirkan pendekatan terapi yang lebih efektif, spesifik, dan berkelanjutan untuk masa depan. (dil)
#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #IKU3 #IKU7
