Jember, 30 September 2026
Fenomena sound horeg mewarnai sejumlah perayaan masyarakat di Kabupaten Jember sejak Agustus hingga September 2026.
Di beberapa wilayah, pawai sound horeg digelar untuk memeriahkan peringatan Hari Kemerdekaan maupun menjadi bagian dari karnaval desa. Antusiasme terlihat dari banyaknya kelompok yang terlibat, kerumunan penonton, hingga kesediaan warga bergotong royong dan berswadaya mendukung kegiatan.Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa sound horeg telah memperoleh tempat tersendiri sebagai hiburan masyarakat. Kehadirannya tidak lagi sekadar sebagai perangkat pengeras suara, tetapi berkembang menjadi tontonan yang memadukan musik, dentuman bass, parade, pencahayaan, dan kerumunan penonton.
Fenomena itu juga memperlihatkan perubahan cara sebagian masyarakat menikmati musik. Musik tidak hanya didengarkan melalui melodi dan lirik, tetapi turut dinikmati melalui kekuatan bunyi yang dirasakan tubuh, kemeriahan visual, dan pengalaman berkumpul bersama.

Panakajaya Hidayatullah, etnomusikolog Universitas Jember (UNEJ), menilai daya tarik sound horeg tidak dapat dijelaskan hanya dari jenis musik yang diputar. Musik yang digunakan dalam pertunjukan sebenarnya telah lama dikenal masyarakat. Hal yang membedakannya adalah kekuatan perangkat suara, pertumbuhan komunitas, dan pengalaman kolektif yang tercipta di antara penonton.
Ia memandang sound horeg sebagai salah satu ruang pelepasan emosi. Di tengah tekanan ekonomi, pekerjaan, dan persoalan kehidupan sehari-hari, sebagian masyarakat membutuhkan ruang untuk berkumpul dan mengekspresikan perasaan.
“Ketika saya mengamati orang-orang yang menikmati sound horeg, saya melihatnya seperti momen melepaskan emosi. Ada energi untuk mengekspresikan kekesalan dan berbagai tekanan yang mereka rasakan,” ujar dosen Program Studi Televisi dan Film Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNEJ tersebut.

Selain menjadi ruang pelepasan emosi, suara keras dapat memiliki makna sosial yang berbeda bagi setiap kelompok. Berdasarkan pengamatan Panakajaya terhadap masyarakat Madura, musik dengan volume keras tidak selalu dimaknai sebagai bentuk pamer, tetapi dapat menjadi cara berbagi hiburan dengan lingkungan sekitar.
Panakajaya menggunakan istilah _voice of charity_ untuk menggambarkan pandangan tersebut. Musik tidak hanya dinikmati orang yang memutarnya, tetapi juga diperdengarkan agar dapat dinikmati bersama.
“Bagi sebagian masyarakat Madura, mendengarkan sound dengan volume keras memiliki perspektif berbagi. Ketika seseorang mendengarkan lagu menggunakan sound yang keras, maksudnya agar orang lain juga dapat mendengarnya,” jelasnya.
Selain itu, Panakajaya menilai sound horeg memiliki unsur artistik, terutama dalam kreativitas _sound engineer_ mengolah frekuensi dan membentuk karakter bunyi melalui perangkat yang digunakan.

“Dalam kadar ketika seseorang mengkreasikan bunyi, itu dapat disebut sebagai proses artistik. Seorang sound engineer meracik suara yang awalnya datar menjadi suara dengan karakter tertentu,” tuturnya.
Persoalan muncul ketika volume menjadi ukuran utama dalam pertunjukan. Berdasarkan beberapa kegiatan _sound battle_ yang pernah didatanginya, Panakajaya mengamati bahwa penghargaan cenderung diberikan kepada peserta dengan perangkat sound yang menghasilkan suara paling keras.
Menurut Panakajaya, kualitas pertunjukan tidak hanya ditentukan oleh kekencangan, tetapi juga keseimbangan frekuensi, kejernihan suara, dan kenyamanan pendengar. “Kalau melihat estetika bunyi, seharusnya ada keseimbangan dan kejernihan suara. Namun, dalam beberapa pertunjukan, yang dicari justru suara paling keras,” jelasnya.
Menurut Panakajaya, sound horeg berada di antara kebebasan berekspresi dan hak masyarakat atas kenyamanan ruang publik. Ketika suara mengganggu aktivitas dan kenyamanan warga, persoalannya tidak lagi hanya berkaitan dengan selera.
Ia menilai pengaturan batas kekuatan suara tidak harus dipandang sebagai hambatan terhadap kreativitas. Sebaliknya, batasan dapat mendorong pelaku sound horeg mencari cara baru untuk menghasilkan pertunjukan yang meriah, menarik, dan tetap nyaman dinikmati.
“Ketika ada batasan, orang justru akan lebih kreatif. Mereka akan berpikir bagaimana menghasilkan suara yang tetap menarik dan enak didengar tanpa harus melampaui batas,” ujarnya.
Di tengah perdebatan mengenai sound horeg, Panakajaya mengingatkan agar selera musik tidak dihubungkan dengan tingkat kecerdasan atau kualitas sumber daya manusia. Selera terbentuk dari lingkungan, pengalaman hidup, kebiasaan, dan bentuk kesenian yang dijumpai seseorang.
“Saya tidak sepakat jika orang yang menyukai sound horeg langsung dianggap memiliki kualitas sumber daya manusia yang rendah. Setiap manusia memiliki latar belakang pengalaman dan bersentuhan dengan bentuk estetika yang berbeda,” tegasnya.
Meski tidak semestinya dihakimi, perubahan selera ikut menentukan jenis hiburan yang memperoleh tempat di tengah masyarakat. Ketika permintaan terhadap sound horeg meningkat, penyelenggara kegiatan cenderung memilihnya dibandingkan pertunjukan lain.
Dampaknya turut dirasakan kesenian tradisional. Menurut Panakajaya, panggung di sejumlah desa yang sebelumnya diisi jathilan, tayub, ketoprak, atau kesenian lokal lainnya mulai beralih kepada hiburan yang sedang populer dan mampu menarik banyak penonton.
Kecenderungan serupa terlihat dalam cara pertunjukan musik disajikan. Panakajaya pernah mengamati orkes dangdut yang menggunakan perangkat suara berkarakter horeg. Berdasarkan percakapannya dengan para musisi, mereka sebenarnya kurang nyaman dengan karakter suara tersebut, tetapi tetap menggunakannya untuk mengikuti permintaan masyarakat.
Meski demikian, sound horeg dan kesenian tradisional tidak harus selalu ditempatkan sebagai dua hal yang saling meniadakan. Kemeriahan pertunjukan modern masih dapat dipadukan dengan kekuatan seni tradisi selama pengembangannya memperhatikan kualitas bunyi dan kenyamanan masyarakat.
Salah satu contoh yang ditawarkan Panakajaya adalah musik Tong-tong atau Daul di Madura. Pertunjukan tersebut sama-sama menghadirkan suara keras dan kemeriahan, tetapi musiknya dimainkan secara langsung menggunakan instrumen tradisional dengan tambahan terompet dan gamelan. Para pemain tampil melalui kendaraan hias yang dilengkapi tata cahaya menyerupai karnaval.
Menurutnya, Tong-tong tetap mengandalkan permainan musik langsung dan tidak bertumpu pada amplifikasi perangkat sound system berukuran besar. Meskipun sama-sama ramai dan bersuara keras, karakter bunyinya dinilai tidak sedestruktif sound horeg.
“Keramaian dan kemeriahan kesenian yang mampu menghadirkan banyak orang tidak harus selalu mengandalkan suara yang sangat keras. Musik Tong-tong dapat menjadi contoh bahwa tradisi tetap berjalan, sementara kemasan pertunjukannya juga berkembang,” jelasnya.
Menurut Panakajaya, upaya mempertemukan kreativitas pertunjukan dengan kenyamanan masyarakat membutuhkan dukungan pemerintah. Sejumlah kajian akademis mengenai sound horeg telah dilakukan, tetapi hasilnya belum banyak digunakan sebagai pertimbangan dalam menyusun kebijakan. Padahal, kajian tersebut dapat menjadi dasar untuk menetapkan aturan yang melindungi kenyamanan dan keselamatan publik tanpa mematikan kreativitas pelaku sound horeg.
Mengenai keberlanjutannya, Panakajaya memperkirakan popularitas sound horeg dapat mengalami titik jenuh seperti tren musik lainnya. Keberlangsungannya akan dipengaruhi oleh perubahan kondisi sosial, ekonomi, dan kebudayaan masyarakat.
“Seperti tren kesenian yang sudah kita lewati, saya pikir sound horeg juga akan mencapai titik jenuh. Kembali lagi, kita perlu melihat situasi kebudayaan ke depan,” pungkasnya. (qf)

