Jember, 15 Oktober 2026
Untuk kali keenam, nama Prof.
Saat ditemui di sela-sela kesibukannya sebagai Wakil Rektor IV UNEJ bidang Perencanaan, Kerja Sama dan Sistem Informasi (15/10/2026), Prof. BK, begitu sapaan akrabnya tak henti-hentinya mengucapkan syukur. Pasalnya pencapaian ini bagi seorang dosen plus peneliti adalah amanah sekaligus pencapaian seumur hidup atau life time achievment. Rasa syukur tadi bukan tanpa alasan sebab nama Prof. BK sudah masuk daftar dua persen ilmuwan paling berpengaruh di dunia versi Stanford University bersama Elsevier BV semenjak tahun 2020.
“Pesan saya bagi kolega dan peneliti muda UNEJ, pertama jangan jadi peneliti model kutu loncat. Kedua, carilah satu lubang dan gali yang dalam,” jawabnya saat ditanya apa resep mampu bertahan di daftar dua persen ilmuwan paling berpengaruh di dunia versi Stanford University bersama Elsevier BV.

Dosen asal Sumenep Madura ini lantas menjelaskan dua nilai filosofisnya tadi. Menurutnya dunia hanya mengingat orang yang konsisten. Prinsip ini dipegang teguh olehnya, yang selama 20 tahun terakhir ini tekun meneliti sensor kimia dan biosensor serta kemasan pintar, tak pernah berpindah ke tema lain. Kedua, riset yang mendalam tersebut membuatnya memiliki data yang saling menyambung dan terkait sehingga mempermudah penulisan karya tulis ilmiah yang bermuara pada publikasi yang tepat.
“Alhamdulillah saya terus berusaha istiqomah menekuni dan menggali bidang sensor kimia dan biosensor, berkembang ke intelligent packaging dan active packaging, hingga kini merambah encapsulated bioactives,” jelas lulusan S2 dan S3 dari University of Manchester Institute of Science and Technology (UMIST), Inggris.
Selain ketekunan, Prof. BK juga menyebut dukungan ekosistem yang tepat turut berperan. Pertama adanya tim yang kuat dan mandiri. Di Laboratorium Sensor Kimia dan Biosensor Cerdas Fakultas Farmasi UNEJ, dirinya aktif membangun ekosistem riset sehingga tidak berjalan sendirian. Seluruh mahasiswa bimbingannya dari jenjang doktoral, magister hingga sarjana sudah mendapatkan peta jalan (roadmap) yang jelas.
“Dan tugas saya sebagai dirigen yang menggerakkan seluruh mahasiswa bimbingan, semisal jam lima hingga jam tujuh saya gunakan untuk mereview naskah ilmiah, memeriksa data hingga diskusi via zoom. Selebihnya mereka yang akan mengeksekusi,” kata Prof. BK.

Kedua, menyiapkan riset payung yang linear. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, dirinya konsisten hanya di satu payung penelitian yakni bidang sensor kimia dan biosensor, berkembang ke intelligent packaging dan active packaging, hingga ke encapsulated bioactives. Ketiga, upayakan kolaborasi sebagai akselerator riset. Kesibukannya sebagai Wakil Rektor IV yang salah satunya menangani kerja sama justru membuka pintu kolaborasi internasional.
“Contohnya saat dinas ke luar negeri, saya selalu menyelipkan diskusi untuk riset dan publikasi bersama kolega. Dari situlah sitasi naik. Bagi saya, jabatan itu bukan penghalang riset, tapi justru harus jadi jembatan. Jadi Wakil Rektor itu memang dijalankan dari jam delapan pagi hingga jam lima sore, tapi riset tetap jalan dua puluh empat jam,” ujarnya sambil tertawa.
Riset terakhir yang tengah dikerjakan oleh Prof. BK adalah “Sistem Enkapsulasi Berbasis Produk Sampingan Pisang untuk Kemasan Pangan Aktif” (Banana By-Product-Based Encapsulation Systems for Active Food Packaging). Yang dikerjakannya bersama sang kolega Mochamad Asrofi. Hasil riset ini tengah berproses masuk ke jurnal ilmiah internasional Q1 yakni Applied Food Research Journal.
Riset ini berawal dari fakta Jember dan kota tetangganya, Lumajang, adalah produsen pisang. Diperkirakan potensi pisang dari dua kota tadi bisa mencapai 120 ribu ton per tahun. Namun potensi tadi akan menyisakan 40 persen kulit pisang dan 25 persen bonggol pisang, yang kebanyakan berakhir hanya jadi limbah. Padahal kulit pisang itu kaya pektin, sementara bonggol pisang kaya akan selulosa nanokristal, dan polifenol antioksidan tinggi.
“Masalahnya, bahan ekstrak bebas di kulit dan bonggol pisang itu cepat rusak. Jadi kami bungkus dahulu atau bahasa kerennya menjalani proses enkapsulasi memakai pektin dan selulosa dari limbah pisang itu sendiri. Selanjutnya bahan tadi diubah menjadi materi pelapis atau coating yang ramah pangan dan ramah lingkungan,” tutur Prof. BK.

Materi pelapis bahan makanan berbahan kulit dan bonggol pisang ini mampu melindungi dan memperpanjang usia simpan bahan makanan. Dari penelitian mereka berdua, buah stroberi yang disimpan setelah diberi pelapis berbahan kulit dan bonggol pisang bisa tahan hingga 12 hari yang semula setelah 5 hari saja sudah busuk. Juga daging fillet ayam, usia simpannya bisa lebih panjang yang semula hanya 3 hari kini menjadi 7 hari karena pelepasan antioksidannya terkontrol.
“Dan muncul ekonomi sirkular, sebab saya memperkirakan dari 1 ton kulit pisang yang jika diolah menjadi bahan pelapis ramah pangan dan ramah lingkungan nilainya mencapai jutaan rupiah. Ini potensi memberdayakan petani dan pelaku UMKM pisang sekaligus pintu mengurangi emisi plastik,” imbuh Prof. BK.
Prestasi Prof. BK dan Mochamad Asrofi mendapatkan apresiasi dari Rektor UNEJ, Iwan Taruna. Menurutnya, kini PR besarnya adalah bagaimana membangun kultur riset sehingga makin banyak peneliti UNEJ yang masuk ke daftar dua persen ilmuwan paling berpengaruh di dunia versi Stanford University bersama Elsevier BV.
Oleh karena itu ada empat kebijakan yang disiapkan UNEJ dibawah komando Prof. BK sebagai Wakil Rektor IV bidang Perencanaan, Kerja Sama dan Sistem Informasi. Pertama, UNEJ Top 100 Publication Incentive. UNEJ akan memberikan insentif sebesar 25 juta rupiah bagi peneliti yang tembus publikasi Q1 dengan sitasi tinggi dan kolaborasi internasional, bukan sekadar insentif SINTA.
Kedua, Workshop Penulisan Artikel Q1. UNEJ akan memperbanyak kegiatan coaching clinic bagi dosen dan peneliti muda. Tahun ini targetnya enam kegiatan coaching clinic akan digelar. Targetnya peserta akan memiliki peta jalan (roadmap) dalam tiga tahun guna tembus Scopus. Ketiga, Proteksi Waktu Riset. UNEJ akan melaksanakan kebijakan Research Day, dimana dosen diberi satu hari bebas mengajar untuk riset, sementara laboratorium dibuka 24 jam. Harapannya dalam jangka tiga tahun ke depan akan ada 5 publikasi Q1.
“Keempat, Kolaborasi Positif. Setiap Guru Besar wajib membawa dua dosen dengan jabatan Lektor untuk melakukan kerja sama riset internasional. Caranya UNEJ akan memfasilitasi berupa MoU dan pendanaan visiting researcher. Kita ingin pada tahun 2028, ada tambahan tiga hingga lima peneliti di daftar dua persen ilmuwan paling berpengaruh di dunia versi Stanford University bersama Elsevier BV,” ungkap Iwan Taruna.
Di akhir diskusi, Prof. BK kembali menyampaikan pesan tambahan kepada kolega dan yuniornya sebagai pelengkap pesan pertamanya saat membuka diskusi. Menurutnya menulis itu bukan sekedar bakat, tapi lebih pada kebiasaan. Jika kita menyempatkan diri menulis 500 kata setiap hari maka dalam setahun akan jadi enam tulisan karya ilmiah. Jangan menunggu ide sempurna sebab ide sempurna datang saat menulis.
Selanjutnya jangan alergi kolaborasi. Tak perlu khawatir menjadi penulis kedua atau ketiga. Di dunia global, sitasi dan jaringan lebih penting dari ego sebagai penulis pertama. Kirim email ke profesor luar negeri, jika dari sepuluh email yang dikirimkan hanya satu diterima, kita sudah menang.
“Terakhir, riset kita sebagai dosen UNEJ harus pulang ke Jember. Riset kelas dunia bukan berarti meninggalkan lokalitas. Justru kekuatan kita adalah lokalitas Jember seperti pisang, kopi, kakao, edamame. Bawa Jember ke jurnal dunia, bukan bawa jurnal dunia ke Jember. Kalau semangat ini dipegang, saya yakin dalam lima tahun ke depan makin banyak ilmuwan UNEJ yang akan diwawancarai karena masuk dalam daftar dua persen ilmuwan paling berpengaruh di dunia versi Stanford University bersama Elsevier BV,” pungkas Prof. BK penuh keyakinan. (iim)

