Berita Universitas Jember

Dies Natalis ke 55 Universitas Jember Berlangsung Meriah

Jember, 10 November 2019

Universitas Jember berulang tahun ke 55. Diusia yang makin matang ini Universitas Jember bertekad untuk makin membumi dan ingin membuktikan bahwa keberadaannya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia bahkan dunia. Tekad ini disampaikan oleh Moh. Hasan, Rektor Universitas Jember saat memimpin upacara bendera peringatan Dies Natalis ke 55 Universitas Jember di lapangan upacara Kampus Tegalboto (10/11). Uniknya, selepas upacara bendera, para peserta kemudian disuguhi berbagai acara dari launching Singsaras, pengenalan Agromedicine Fair, peresmian Sekolah Desa Burno, pameran hingga aneka hiburan.

Dalam sambutannya, Moh. Hasan kembali mengajak keluarga besar Universitas Jember untuk meneguhkan tekad menjadikan Universitas Jember sebagai kawah chandradimuka anak bangsa dalam mendalami, mengembangkan dan mengamalkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. “Momen ulang tahun kita bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, dan ini hendaknya dimaknai sebagai dorongan bagi segenap Keluarga Besar Universitas Jember untuk menjadi pahlawan-pahlawan pendidikan sesuai porsi dan fungsinya masing-masing. Sehingga keberadaan Universitas Jember dapat dirasakan manfaatnya oleh segenap warga Indonesia, bahkan dunia,” ujarnya. Sebagai informasi, semenjak berdiri pada 10 November 1964, kini Kampus Tegalboto telah meluluskan 102.559 sarjana dari berbagai strata yang tersebar di seluruh Indonesia dan dunia. Tema dies kali ini adalah “Inovasi Tiada Henti, Universitas Jember Membangun Untuk Negeri”.

Sebagai salah satu bentuk penghargaan bagi warganya yang berprestasi, Universitas Jember menetapkan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan berprestasi. Kali ini predikat Academic Leader diberikan kepada Prof. Bambang Sugiharto dari FMIPA. Sementara untuk dosen berprestasi di bidang Saintek diraih oleh Tantut Susanto dari Fakultas Keperawatan, dan Agus Trihartono dari FISIP di bidang Soshum. Kemudian laboran berprestasi disematkan kepada Dian Almaidah dari Fakultas Kedokteran Gigi, Khusnun Nadhifah sebagai pustakawan berprestasi, Fitri Hapsari (FIB) sebagai pengelola keuangan berprestasi, dan M. Zamroni (FT) sebagai tenaga pengelola administrasi akademik berprestasi.

Salah satu yang menarik dalam peringatan dies natalis kali ini adalah peluncuran SINGSARAS alias Singkong Disawut Sebagai Beras oleh para peneliti dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M). Menurut Prof. Achmad Subagio, Ketua LP2M, produk SINGSARAS diolah dengan teknologi sederhana sehingga diharapkan dapat diolah oleh setiap rumah tangga Indonesia tanpa teknologi tinggi. Harapannya kemunculan SINGSARAS dapat menurunkan konsumsi beras Indonesia yang cukup tinggi, yakni 114,6 kg per kapita per tahun.

“Pengolahan  SINGSARAS sangat mudah, dimulai dengan pemilihan singkong yang baik dari varietas manis dengan HCN rendah, pengupasan, pencucian, pembuatan sawut, perendaman untuk menghilangkan tapioka yang di luar, pemerasan, perendaman dengan bumbu yang sesuai, dan pengeringan. Produk yang dihasilkan berupa sawut-sawut kering berwarna putih cerah. Cara memasaknya juga sederhana, dapat dengan dicampur beras dengan perbandingan satu banding satu dan dimasak dengan menggunakan rice cooker,” jelas pakar MOCAF ini.

Para peserta upacara pun berkesempatan merasakan nikmatnya SINGSARAS yang dibentuk dalam tumpeng raksasa berukuran 2,5 meter dan pembagian 3.000 ribu porsi nasi goreng SINGSARAS. Potongan tumpeng SINGSARAS kemudian diberikan oleh Rektor Universitas Jember kepada para dosen dan tenaga kependidikan berprestasi yang sebelumnya diawali dengan peniupan lilin oleh robot karya mahasiswa Fakultas Teknik. “Kalau tidak diberi tahu jika nasi goreng yang saya makan terbuat dari singkong, mungkin kami mengira ini nasi goreng biasa dari nasi yang berasal dari beras. Sebab rasanya sama dengan nasi goreng yang biasa kami makan. Kalau masaknya mudah, saya juga pingin mengolah SINGSARAS juga sebagai makanan sehari-hari,” tutur Salsabila Kusuma Dewi, mahasiswi Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknik yang pagi itu turut merasakan enaknya SINGSARAS goreng.

Dalam momen ulang tahun ini, Fakultas Kedokteran meneguhkan kembali posisinya sebagai pionir di bidang Agromedis di Indonesia. Agromedis merupakan bidang ilmu kedokteran yang mempelajari masalah kesehatan terkait seluruh kegiatan pertanian dan lingkungannya, mencakup pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan dalam lingkungan biologi, fisika, kimia, dan sosial budaya. “Sebagai langkah awal, kami membuka diri melalui Agromedicine Fair 2019 dalam Festival Tegalboto dalam rangkaian memperingati Dies Natalis Universitas Jember ke-55, termasuk memperkenalkan senam Agromedis,” kata Supangat, Dekan Fakultas Kedokteran.

  Dalam Agromedicine Fair ini, Fakultas Kedokteran Universitas Jember meluncurkan beberapa program unggulan antara lain Tani Siaga (Agromedicine Emergency Unit), Pangan Aman (Agrosafe), Tani Bugar (AgroFit), Tani Sehat (Agrobust), Agromedis Bergerak (Mobile Agromedicine), Tani Ceria (Psiko Agromedicine) dan Dokter Taniku (AgroDoctor). Bahkan Moh. Hasan, Rektor Universitas Jember bersama Dekan Fakultas Kedokteran berkesempatan mempraktekan Senam Agromedis bersama puluhan mahasiswa Fakultas Kedokteran. “Senam Agromedis ini diciptakan oleh dokter Cholis Abrori, gunanya meminimalkan cedera pada petani,” imbuh Dekan Fakultas Kedokteran.

Momen dies natalis juga menjadi pembuktian keseriusan Universitas Jember Kampus Lumajang dalam mendampingi dan membina Desa Burno, Kecamatan Senduro, Lumajang yang ingin mewujudkan desanya sebagai desa eduwisata berbasis Agronursing melalui sekolah desa Anoman (Agronursing for Tourism and Education) Burno. Selain memamerkan hasil pendampingan selama dua bulan, Universitas Jember Kampus Lumajang juga resmi menjadikan Desa Burno sebagai desa binaan dengan ditandai penandatanganan prasasti oleh Rektor Universitas Jember.

Rangkaian acara lantas diteruskan dengan penampilan ketangkasan para relawan Kampus Tegalboto yang tergabung dalam Komunitas Relawan Kampus (Korrek) yang unjuk kebolehan melakukan simulasi penanganan bencana. Tak ketinggalan penampilan Paguyuban Seni Reyog Mahasiswa (PSRM) Sardulo Anurogo dan band mahasiswa yang mengibur peserta yang hadir. “Masih banyak acara yang kami agendakan dalam rangkaian peringatan Dies Natalis ke 55 Universitas Jember, mulai kegiatan yang bernuansa akademis, agamis hingga hiburan,” ungkap Agung Purwanto, Kepala Humas dan Protokol Universitas Jember. (iim)