Jember, 31 Mei 2026
Perjalanan prestasi Aditya Maulana Hakim, Mahasiswa Program Studi Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember (UNEJ) terus berlanjut.
Setelah namanya bersinar dalam kejuaraan Wushu 2025, ia kembali menorehkan prestasi membanggakan di bidang non-akademik tahun 2026. Capaian ini sekaligus melanjutkan konsistensinya setelah sebelumnya juga meraih hasil gemilang pada Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) dan Surabaya Wushu Championship.Meski kembali menunjukkan eksistensinya di podium juara, Aditya mengaku belum sepenuhnya puas dengan hasil yang diraih kali ini. Ia mengungkapkan masih ada suatu target yang belum berhasil dicapai.
βPada pertandingan ini saya sedikit kecewa, karena belum bisa memenuhi target yang diberikan pelatih, yaitu meraih tiga medali emas seperti saat Kejurprov 2025,β ungkapnya.

Menurut Aditya, kompetisi kali ini memiliki tantangan yang lebih berat dibandingkan ajang-ajang sebelumnya. Selain menghadapi lawan yang semakin kuat karena banyak atlet yang tengah mempersiapkan diri menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2027, kondisi pertandingan juga menjadi tantangan tersendiri.
βLawan lebih berat, lapangan pertandingan juga kurang nyaman, jadwal pertandingan cukup berantakan, bahkan ada pertandingan yang selesai terlalu malam,β jelasnya.
Menariknya, di tengah kesibukan kuliah, Aditya tetap berusaha menjaga konsistensi latihan. Baginya, kunci utama adalah mampu mencari celah waktu yang tepat antara kewajiban akademik dan latihan fisik. Bahkan, ia rela memilih jadwal kuliah pagi dan siang agar dapat menggunakan waktu yang tersisa untuk latihan.
Lebih lanjut, Bagua Zhang Tradisional memiliki karakteristik berbeda dibandingkan Taiji Quan maupun Taiji Jian. Pada saat mengikuti Bagua Zhang Tradisional, gerakan yang dilakukan lebih pendek, cepat dan simple. Sedangkan, Taiji Quan dan Taiji Jian memiliki karakteristik lebih lama, rumit dan poin pengurangan juga lebih banyak.

Di balik berbagai prestasi yang diraih, Aditya menyebut dukungan terbesar datang dari orang tua dan pelatihnya. Baginya, mereka memiliki peran penting dalam perjalanan kariernya sebagai atlet Wushu. Kedua orang tua yang selalu memberikan perhatian, kasih sayang, fasilitas, biaya dan dukungan moral saat latihan maupun kompetisi. Sedangkan, seorang pelatih yang menjadi sosok pembimbing, motivator dan teman selama proses latihan dan persiapan pertandingan.
Tidak berhenti sampai titik ini, Aditya telah menyiapkan target berikutnya untuk terus berkembang di dunia Wushu. Beberapa kompetisi yang menjadi fokusnya antara lain Kejurprov Jawa Timur 2026, Kejurnas Indonesia 2026, Wushu Tradisional Asia 2026, hingga Porprov 2027.
Bagi Aditya, perjalanan menjadi atlet bukan hanya soal kemenangan, tetapi juga tentang proses dan konsistensi dalam bertahan menghadapi tantangan.
βPrinsip saya, kalau bukan kamu siapa lagi yang bisa. Ingat kenapa kamu memulainya jika kamu tidak bisa menyelesaikannya. Menang kalah itu biasa, yang terpenting pengalaman yang didapat lebih berharga,β pungkasnya.
Prestasi yang diraih Aditya menjadi bukti bahwa podium juara bukanlah garis akhir, melainkan pijakan prestasi untuk melangkah lebih jauh. Pada Kejuaraan Wushu Walikota Surabaya Tingkat Nasional 2026 yang digelar di Fairway Nine Mall Surabaya pada tanggal 1β3 Mei 2026 lalu, Aditya Maulana Hakim sukses membawa pulang tiga medali. Mahasiswa angkatan 2025 tersebut berhasil meraih Juara 1 kategori Bagua Zhang Tradisional E PA (M), Juara 2 Taiji Quan Senior PA (M) dan Juara 3 Taiji Jian Senior PA (M). (dil/rb)
#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #IKU3

