Mengintip Formula Sukses Bima Aji Rahmansyah dalam Menaklukkan Dunia Public Speaking

Jember, 10 Juli 2026

Dunia public speaking bukan sekadar tentang kemahiran mengolah kata di depan mikrofon, melainkan tentang ketangguhan mental dan konsistensi untuk terus bertumbuh.

Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh Bima Aji Rahmansyah, mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember (UNEJ). Jika sebelumnya ia menginspirasi banyak orang lewat kisahnya dalam menjinakkan rasa gugup di atas panggung, kini Bima menunjukkan kematangan yang jauh lebih mendalam sebagai seorang pembawa acara.

Bagi Bima, setiap kesempatan berbicara di depan publik adalah ruang belajar tanpa akhir. Ia memilih melepaskan diri dari beban tuntutan gelar atau piala setiap kali melangkah ke atas panggung. Fokus utamanya kini telah bergeser pada proses pengayaan pengalaman, memperluas relasi, serta mengukur sejauh mana kapasitas dirinya telah berkembang.

“Tujuan saya hanya satu, yaitu belajar dan berkembang. Saya mengikuti kelas public speaking, berlatih secara mandiri di hadapan dosen dan teman, hingga langsung tampil sebagai MC dalam berbagai acara. Proses belajar saya jalani dengan ikhlas tanpa pernah menargetkan sebuah titel,” ungkapnya.

Bima Aji Rahmansyah saat mendapatkan juara 2 MC MICRAFT tingkat nasional di Politeknik Keuangan Negara STAN Tangerang Selatan.

Pola pikir yang merdeka dari bayang-bayang kegagalan ini justru membentuk Bima menjadi sosok yang tenang di bawah tekanan tinggi. Karakter tersebut diujinya secara langsung ketika dihadapkan pada situasi tak terduga dalam sebuah penampilan, di mana dewan juri secara mendadak menghentikan sesinya dan memberikan studi kasus darurat. Di bawah sorot lampu panggung, ia dituntut menyelesaikan masalah tersebut secara spontan layaknya realitas di dunia profesional.

Alih-alih kehilangan kendali, Bima merespons tantangan tersebut dengan kepala dingin. “Sebagai MC, saya harus tetap profesional dan melanjutkan acara seolah tidak terjadi apa pun, sekaligus menjaga suasana agar tetap kondusif meskipun ada permasalahan yang muncul,” jelasnya mengenai pentingnya aspek adaptabilitas bagi seorang komandan panggung.

Menariknya, energi positif Bima kini tidak lagi berputar untuk dirinya sendiri. Ia mulai memperluas dampak dengan membuka ruang belajar bersama melalui siaran langsung di media sosial TikTok. Di sana, Bima bertindak sebagai host yang membagikan naskah MC dan mengajak para penonton untuk berlatih membaca bersama. Lewat cara interaktif ini, ia tidak hanya membagikan ilmu, tetapi juga menyerap sudut pandang baru dari audiens yang lebih luas.

Potret Bima Aji Rahmansyah saat menjadi MC kegiatan di FIB UNEJ

Di lingkungan internal kampus, loyalitas Bima juga terus terasah. Ia kerap dipercaya menjadi pemandu berbagai agenda resmi di FIB UNEJ, sebuah kesempatan yang ia maknai sebagai ruang kontribusi balik kepada fakultas yang telah mendukung ekosistem belajarnya.

Kepada rekan-rekan mahasiswa lainnya, Bima menitipkan sebuah pesan sederhana namun sarat makna untuk berani mencoba hal baru. “Lebih baik gagal daripada tidak mencoba sama sekali,” pungkasnya optimis.

Bima Aji Rahmansyah saat membuat konten di media sosial dan mengajak para penonton untuk berlatih membaca bersama

Lewat kematangan mental dan konsistensi belajarnya tersebut, Bima Aji Rahmansyah baru saja mengharumkan nama Universitas Jember dengan menyabet Juara 2 pada kompetisi Master of Ceremony (MC) MICRAFT tingkat nasional. Kompetisi bergengsi tersebut diselenggarakan oleh Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN Tangerang Selatan pada akhir Juni lalu. Panggung nasional tersebut menjadi salah satu bukti nyata bahwa bagi seorang pembelajar sejati, pelajaran berharga selalu menunggu di balik setiap proses yang dilalui. (dil/rb)

#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #IKU3