Jember, 19 Agustus 2026
Japan International Cooperation Agency (JICA) menawarkan pengiriman relawan tenaga ahli ke kampus Universitas Jember (UNEJ).
Tawaran kerja sama ini disampaikan langsung oleh JICA Volunteer Coordination, Kiyoko Fukuzaki saat bertemu Rektor UNEJ, Iwan Taruna di kampus Tegalboto (19/8/2026). Menurut Kiyoko Fukuzaki, JICA memiliki program yang dikenal sebagai Japan Overseas Cooperation Volunteers (JOVC), yang mengirimkan relawan tenaga ahli ke seluruh dunia.Program JOVC unik, pasalnya relawan tenaga ahli yang dikirimkan adalah warga negara Jepang yang sudah memiliki pengalaman kerja di bidangnya minimal selama sepuluh tahun. Jika bekerja di organisasi, lembaga atau perusahaan mereka ada di level menengah. Oleh karena itu para relawan ini lebih akrab disapa Junior Expert atau JE. Pihak JICA menyediakan beragam relawan tenaga ahli dari bidang administrasi, pariwisata, pertanian, manufaktur hingga tenaga ahli bidang olah raga.
“Para JE ini akan lebih banyak bekerja di tataran akar rumput, tujuannya adalah kerja sama pengembangan bidang ekonomi sosial budaya, mempererat hubungan antara rakyat Jepang dengan negara mitra, serta mengembangkan wawasan global bagi warga Jepang,” jelas Kiyoko Fukuzaki.

Kiyoko Fukuzaki lantas menambahkan, karena akan bekerja di tataran akar rumput, maka penempatan tenaga JE direncanakan bersama, dipikirkan bersama, dikerjakan bersama serta dievaluasi bersama dengan pihak mitra. Artinya mitra melalui program JOVC harus sedari awal merencanakan relawan tenaga ahli bidang apa yang diperlukan. Prosesnya bisa memakan waktu beberapa bulan hingga satu tahun untuk memproses permohonan yang masuk.
“Apalagi karena bersifat sukarela, terkadang relawan tenaga ahli yang diminta tidak selalu tersedia karena pendaftarnya belum ada,” imbuh Kiyoko Fukuzaki. Semenjak dimulai tahun 1988 lalu, tercatat sudah ada 1.000 orang JE yang berkiprah di Indonesia.
Penjelasan Kiyoko Fukuzaki yang didampingi Program Officer JICA Indonesia Office Febria Quasianah mendapatkan tanggapan positif dari peserta yang hadir. Misalnya Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Prof. Nawiyanto, yang berharap dapat mendapatkan JE yang memiliki pengalaman di bidang televisi dan film karena fakultas yang dipimpinnya memiliki Program Studi Televisi dan Film. Tenaga yang dimaksud seperti pekerja animasi atau yang di Jepang dikenal sebagai manga.

“Saya juga tengah meneliti peran pemerintah Jepang mengatur irigasi pertanian di saat menduduki Indonesia, maka akan menarik jika kami di FIB mendapatkan relawan JE yang berkecimpung di bidang sejarah,” ungkap Prof. Nawiyanto. Dekan dan perwakilan lain yang hadir di kegiatan ini adalah dari Dekan Fakultas Pertanian, Dekan Fakultas Teknik, Dekan Fakultas Teknologi Pertanian, Dekan FISIP perwakilan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, FMIPA dan undangan lainnya.
Menanggapi pertanyaan ini, Kiyoko Fukuzaki memaparkan jika relawan JE di bidang televisi dan film yang tersedia lebih banyak yang berlatar belakang produksi program televisi dan film, serta peralatan produksinya. “Sementara untuk pekerja animasi atau manga lebih memilih bekerja di Jepang daripada menjadi relawan, maklum gaji sebagai animator manga lumayan besar,” kata Kiyoko Fukuzaki sambil disambut tawa hadirin.

Tawaran JICA Volunteer Coordination disambut baik oleh rektor yang siang itu menyambut tamu Jepang didampingi Wakil Rektor IV bidang Perencanaan, Kerja Sama dan Sistem Informasi. Menurut Iwan Taruna, keberadaan JE di kampus UNEJ sebagai tenaga ahli akan membantu proses perkuliahan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Apalagi UNEJ memiliki pengalaman bekerja sama di tataran akar rumput melalui program Kuliah Kerja Nyata maupun pengabdian kepada masyarakat lainnya.

“UNEJ menyambut baik tawaran JICA melalui program JOVC, setelah mendapatkan penjelasan ini kami akan tindak lanjuti dengan memetakan kebutuhan tenaga JE bidang apa yang kita butuhkan,” pungkas Iwan Taruna. (iim)

