Pendampingan tim dosen Universitas Jember di SDN Temenggungan Banyuwangi memperkuat kapasitas guru, mendorong inovasi pembelajaran, dan menunjukkan perubahan positif dalam persepsi masyarakat terhadap sekolah yang pernah tidak memperoleh satupun murid baru.
Hasil pengabdian ini dipublikasikan dalam Bubungan Tinggi: Jurnal Pengabdian Masyarakat, Volume 7 Nomor 4 Tahun 2025.Jember, 12 Agustus 2026
Setiap musim penerimaan murid baru, sekolah negeri yang kehilangan peminat kembali menjadi perbincangan. Pada penerimaan murid baru tahun ajaran 2026/2027, misalnya, tiga SD negeri di Kabupaten Blitar dilaporkan tidak memperoleh satupun murid baru. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa sekolah yang sepi peminat bukan sekadar menghadapi persoalan kursi kosong, tetapi juga tantangan mempertahankan kepercayaan masyarakat.
Persoalan serupa pernah dialami SDN Temenggungan di Banyuwangi. Pada tahun ajaran 2023/2024, tidak ada satupun calon murid yang mendaftar. Pada tahun berikutnya, tujuh siswa baru masuk. Perubahan tersebut menjadi bagian dari dinamika yang dikaji dalam program pengabdian yang dilakukan Slamet Hariyadi, Doktor Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember, Bagi Slahar, demikian sapaan akrabnya, faktor sedikitnya jumlah murid tidak semestinya membuat kualitas pendidikan ikut menurun.
βSaya berharap sekolah ini, walaupun memiliki sarpras yang kurang standar, muridnya tidak memenuhi kuota, tapi jangan sampai kualitasnya rendah, sudah jatuh tertimpa tangga,β ujar Slahar.

Lahir dan besar di Banyuwangi, Slahar memilih daerah asalnya sebagai lokasi pengabdian. Bersama tim Prosendi (Program Dosen Mengabdi di Desa Asal) UNEJ, ia mendampingi SDN Temenggungan untuk memperkuat kapasitas guru dalam merancang pembelajaran yang berpusat pada siswa, mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, serta mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai alat bantu pembelajaran.
Tantangan sekolah tersebut bukan hanya jumlah siswa. Rendahnya partisipasi masyarakat, keterbatasan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, serta tuntutan bagi guru untuk beradaptasi dengan perkembangan kurikulum dan teknologi menjadi persoalan lain. Letak sekolah di tengah pemukiman padat juga menghadirkan tantangan tersendiri. Halaman sekolah yang semestinya menjadi ruang aktivitas siswa turut menjadi jalur lalu-lalang warga, sehingga kegiatan belajar, olahraga, dan aktivitas siswa lainnya tidak selalu berlangsung dalam suasana yang kondusif.
Dalam kondisi itu, pertanyaan orang tua terhadap sekolah pun berubah. Mereka tidak hanya melihat apakah anak dapat bersekolah di sana, tetapi juga apa yang akan diperoleh selama bersekolah.
βOrang tua sekarang berbeda dengan orang tua dulu. Mereka bertanya, dari sekolah ini, anak saya bisa apa?β

Pertanyaan tersebut menjadi titik penting dalam pendampingan. Pembelajaran tidak cukup hanya berjalan sesuai buku dan kurikulum, tetapi perlu memberikan ruang kepada siswa untuk berpikir, berkolaborasi, memecahkan persoalan, dan menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan nyata.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim Prosendi Universitas Jember menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR), yang menempatkan guru bukan sekadar sebagai penerima program, tetapi sebagai mitra aktif dalam mengidentifikasi persoalan, merancang solusi, menerapkan perubahan, dan mengevaluasi hasilnya. Program berlangsung mulai Januari hingga Juni 2025 melalui tiga tahap, yakni pemetaan kebutuhan dan perencanaan, pelatihan serta pendampingan pembelajaran, kemudian evaluasi, refleksi, dan pelibatan masyarakat.
Program tersebut melibatkan kepala sekolah, enam guru, 45 siswa, serta sekitar 30 orang tua dalam kegiatan sosialisasi dan pemberian umpan balik. Pada tahap awal, tim yang beranggotakan Andang Subaharianto dan Bea Hana Siswati bersama pihak sekolah mengamati lingkungan belajar, kompetensi digital guru, pemahaman terhadap kurikulum, serta keterbatasan sarana dan prasarana. Temuan tersebut kemudian dibahas melalui diskusi kelompok terarah untuk menentukan langkah yang sesuai dengan kondisi sekolah.

Salah satu fokus pendampingan adalah memperkenalkan pembelajaran mendalam atau Deep Learning dalam pengertian pedagogis, bukan algoritma deep learning dalam kecerdasan buatan. Pendekatan ini mendorong siswa memahami konsep, berpikir kritis, bekerja sama, dan menghubungkan pembelajaran dengan persoalan nyata. Guru juga dikenalkan pada teknologi AI sebagai alat bantu pembelajaran, seperti chatbot dan platform kuis digital yang sederhana serta mudah digunakan.
Pelatihan tidak berhenti pada pemaparan teori. Guru menyusun rencana pembelajaran, mengembangkan media pembelajaran, melakukan simulasi penggunaan AI, kemudian menerapkannya di kelas. Tim pengabdian turut mengamati pelaksanaan pembelajaran dan memberikan umpan balik. Siklus tersebut dilakukan melalui tahapan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi selama dua siklus pendampingan.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya perubahan pada kemampuan guru. Pemahaman terhadap konsep Deep Learning meningkat dari 35 persen menjadi 80 persen. Kemampuan menyusun rencana pembelajaran berbasis Deep Learning meningkat dari 25 persen menjadi 75 persen. Kemampuan menggunakan AI dalam pembelajaran meningkat dari 20 persen menjadi 65 persen, sedangkan kesiapan berinovasi dalam pembelajaran meningkat dari 40 persen menjadi 85 persen.
Perubahan tersebut diperoleh melalui kombinasi pre-test, post-test, lembar observasi, jurnal reflektif, serta wawancara dan evaluasi selama proses pendampingan. Dua ahli teknologi pendidikan turut meninjau instrumen untuk memastikan validitas isi, sementara validitas data diperkuat melalui triangulasi sumber dan member checking.
Perubahan juga terlihat pada frekuensi inovasi pembelajaran yang diterapkan guru. Pada bulan pertama tercatat satu inovasi berupa eksplorasi awal terhadap berbagai alat. Jumlah tersebut meningkat menjadi tiga inovasi pada bulan kedua, lima pada bulan ketiga, dan enam pada bulan keempat. Inovasi tersebut mencakup penggunaan media, metode pembelajaran, chatbot, kuis berbasis AI, hingga media pembelajaran berbasis video.
Perubahan tidak hanya terlihat dari sisi guru. Survei terhadap orang tua menunjukkan adanya pergeseran persepsi terhadap sekolah. Pandangan bahwa SDN Temenggungan memberikan pendidikan berkualitas meningkat dari 30 persen menjadi 75 persen. Pandangan bahwa sekolah siap menghadapi era digital naik dari 15 persen menjadi 60 persen. Kesediaan orang tua mendaftarkan anak meningkat dari 10 persen menjadi 70 persen, sedangkan dukungan terhadap kegiatan sekolah naik dari 20 persen menjadi 65 persen.
Data tersebut dikumpulkan melalui kuesioner sederhana yang diberikan kepada orang tua siswa dan calon orang tua siswa. Hasilnya menunjukkan perubahan positif terutama dalam persepsi terhadap kualitas pendidikan dan kesiapan sekolah menghadapi transformasi digital.
Pada penerimaan murid baru, sekolah yang sebelumnya tidak mendapatkan pendaftar tercatat menerima tujuh siswa pada tahun ajaran 2024/2025. Jurnal yang memuat hasil pengabdian tersebut mencatat kenaikan jumlah murid baru sebagai salah satu indikator ketahanan sekolah. Namun, bertambahnya jumlah siswa tidak serta-merta berarti seluruh persoalan sekolah telah selesai.
Dampak lain terlihat dari prestasi non akademik siswa. Jika pada 2023 belum tercatat prestasi, pada 2024 siswa SDN Temenggungan meraih juara harapan I Pesta Pramuka Siaga dan juara II Lampon Parade.
Bagi Slahar, capaian tersebut memang bertahap dan hal ini bukan sekadar soal trofi. βAnak-anak itu kalau diberi jempol sama gurunya saja sudah senang, apalagi bisa mendapatkan trofi. Itu validasi bagi mereka agar tidak merasa minder walaupun di sekolah yang kecil,β ujarnya.
Karena itu, membangun kembali sekolah kecil menurut Slahar tidak cukup dengan mengejar jumlah murid. Potensi seni, olahraga, keterampilan, maupun kemampuan lain yang tidak selalu terlihat melalui nilai akademik perlu menjadi bagian dari kekuatan sekolah.
Dampak pendampingan kemudian berkembang hingga ke luar ruang kelas. Selain memperkuat pembelajaran, Slahar juga berupaya mendorong penataan lingkungan sekolah melalui komunikasi dengan lurah setempat, Dinas Pendidikan, dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Salah satu persoalan yang dibahas adalah lokasi sekolah yang berada di tengah padat pemukiman dan membuat halaman sekolah turut menjadi jalur lalu-lalang warga. Upaya pemindahan ke lokasi yang lebih layak sempat diusulkan, namun belum dapat diwujudkan karena keterbatasan lokasi yang dapat digunakan.
Slahar mengatakan, hasil konsultasi dengan Pemerintah Kabupaten dan Dinas Pendidikan Banyuwangi telah mengarah pada merger SDN Temenggungan dengan sekolah dasar terdekat. Rencana merger tersebut juga memiliki konsekuensi terhadap penerimaan murid. Menurut Slahar, dalam proses merger, sekolah tidak lagi diarahkan untuk menerima murid baru. Karena itu, bertambahnya tujuh murid sebelumnya tidak serta-merta menjadi penanda bahwa seluruh persoalan sekolah telah selesai. Penataan sekolah tetap diperlukan untuk memastikan keberlanjutan layanan pendidikan dalam lingkungan yang lebih mendukung.
Setelah pendampingan berakhir, keberlanjutan perubahan tersebut bergantung pada kemampuan sekolah untuk terus mengembangkan praktik yang telah dibangun. Guru didorong untuk saling berbagi melalui komunitas belajar, sementara keterlibatan orang tua dan pemangku kepentingan pendidikan tetap diperlukan agar sekolah dapat merespons kebutuhan yang terus berubah.
Ke depan, Slahar juga melihat peluang untuk mengembangkan pendampingan pada penggalian potensi non akademik siswa serta membangun kemitraan dengan pihak lain. Dukungan bagi sekolah kecil, menurutnya, tidak selalu harus berupa anggaran, tetapi dapat berupa bantuan CSR dari pemilik usaha besar di wilayah sekolah seperti halnya perangkat komputer, media pembelajaran, maupun sarana yang membantu anak mengembangkan kemampuannya.
Pengalaman SDN Temenggungan akhirnya memperlihatkan bahwa persoalan sekolah yang kehilangan peminat tidak memiliki satu jawaban sederhana. Dari sekolah yang sempat tidak mendapatkan satupun pendaftar, muncul kembali minat untuk bersekolah di sana. Namun, keberlanjutan pendidikan membutuhkan lebih dari sekadar angka penerimaan murid, di antaranya guru yang terus berkembang, pembelajaran yang bermakna, ruang bagi anak menemukan potensinya, lingkungan belajar yang layak, serta dukungan pemerintah dan masyarakat.
Bagi Universitas Jember, pengabdian kepada masyarakat dalam konteks ini bukan sekadar membawa teknologi baru ke sekolah. Lebih dari itu, perguruan tinggi hadir untuk mendampingi guru memahami persoalan, mendorong perubahan secara kolaboratif dari dalam sekolah, sekaligus membuka ruang dialog untuk menemukan jalan bagi masa depan pendidikan. (qf)

