Jember, 11 Agustus 2026
Memasuki perguruan tinggi berarti menghadapi lebih dari sekadar lingkungan belajar yang baru.
Mahasiswa juga dituntut mampu beradaptasi dengan kehidupan yang lebih mandiri, tekanan akademik, lingkungan sosial, hingga perkembangan teknologi yang semakin cepat. Menyadari tantangan tersebut, Universitas Jember (UNEJ) memasukkan penguatan integritas akademik, literasi penggunaan teknologi, serta kesehatan mental sebagai bagian penting dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026.Melalui PKKMB bertema “Karya Inovatif Wujudkan Generasi Unggul dan Berkarakter”, UNEJ tidak hanya memperkenalkan kehidupan akademik kepada mahasiswa baru yang disapa Aruna Universitas Jember, tetapi juga membangun fondasi karakter yang diharapkan menjadi bekal mereka selama menempuh pendidikan tinggi.
Rangkaian PKKMB UNEJ 2026 berlangsung pada 8–15 Agustus 2026 dan dilaksanakan secara serentak di lingkungan Kampus Tegalboto Jember serta kampus UNEJ di Bondowoso, Lumajang, dan Pasuruan.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Jember, Dr. Fendi Setyawan, S.H., M.H., mengatakan masa awal perkuliahan merupakan momentum penting untuk membangun karakter mahasiswa. Menurutnya, kemampuan akademik dapat terus dikembangkan selama mahasiswa menjalani proses pendidikan, tetapi kejujuran dan integritas perlu ditanamkan sejak awal.
“Persoalan akademik dan pengetahuan bisa dipelajari sambil berjalan. Namun, basis kejiwaan, kejujuran, dan integritas itulah yang menjadi pondasi utama untuk ditanamkan sejak dini,” ujarnya.
Karena itu, pembekalan mahasiswa baru tidak berhenti pada pengenalan sistem perkuliahan. UNEJ juga memperkenalkan anti plagiarisme, budaya anti korupsi, nilai-nilai kebangsaan, pencegahan radikalisme, serta etika berkomunikasi di ruang digital. Menurut Fendi, mahasiswa perlu memahami bahwa kehidupan kampus merupakan bagian dari proses pembentukan pribadi sebelum mereka terjun lebih luas ke masyarakat.
“Kami ingin saat mereka berperilaku, baik di dalam kampus maupun di tengah masyarakat, mereka membawa etika yang kuat,” imbuhnya.
Penguatan integritas tersebut menjadi semakin penting di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI) yang membuat mahasiswa memiliki akses sangat luas terhadap informasi. Kemudahan teknologi, di sisi lain, juga menuntut kemampuan untuk memilah informasi serta memahami batas antara menggunakan teknologi sebagai alat bantu dan mengabaikan proses akademik.
Selain integritas akademik, kesehatan mental menjadi perhatian dalam pembekalan mahasiswa baru UNEJ. Masa transisi dari sekolah menengah menuju perguruan tinggi dapat menghadirkan berbagai tantangan, mulai dari kerinduan terhadap rumah (homesick), kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru, persoalan relasi sosial, hingga tekanan akademik.
Kepala Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMP) UNEJ, Prof. Ermanto Fahamsyah, S.H., M.H., mengatakan kondisi psikologis merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan agar mahasiswa dapat menjalani proses pembelajaran secara optimal.

Perhatian terhadap kesehatan mental tersebut juga berkaitan dengan perubahan pola mahasiswa dalam mencari informasi. Di tengah semakin mudahnya akses terhadap mesin pencari, media sosial, dan aplikasi berbasis AI, mahasiswa dapat menemukan berbagai informasi mengenai kesehatan mental hanya dalam hitungan detik. Namun, kemudahan tersebut tidak selalu berarti informasi yang diperoleh dapat digunakan untuk menentukan kondisi seseorang.
Koordinator Pusat Layanan Konseling dan Difabel LPMP UNEJ, Dr. Ns. Emi Wuri Wuryaningsih, M.Kep., Sp.Kep.J. mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan internet maupun AI sebagai pengganti tenaga profesional untuk menentukan diagnosis kesehatan mental.
“Jangan pernah mengandalkan algoritma AI atau internet untuk mendiagnosis kondisi kesehatan mental sendiri. Informasi digital bisa menambah wawasan, namun penanganan kesehatan jiwa wajib dikonsultasikan kepada tenaga profesional,” jelasnya.
Menurutnya, teknologi dapat digunakan sebagai sarana memperoleh pengetahuan awal, tetapi mahasiswa tetap membutuhkan tenaga profesional ketika mengalami persoalan yang mengganggu keseharian maupun proses belajarnya. Untuk itu, UNEJ menyediakan Pusat Layanan Konseling dan Difabel LPMP UNEJ yang dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk memperoleh pendampingan profesional. Layanan tersebut tersedia secara gratis, baik melalui pertemuan tatap muka maupun daring, serta dirancang agar dapat diakses secara inklusif, termasuk oleh mahasiswa penyandang disabilitas.
“Meminta bantuan ketika menghadapi titik terberat bukanlah tanda kelemahan, melainkan keputusan yang sangat bijaksana,” ujar Emi
Bagi UNEJ, PKKMB bukan sekadar seremoni penerimaan mahasiswa baru, tetapi menjadi titik awal untuk memperkenalkan budaya akademik sekaligus membangun pondasi mahasiswa dalam menjalani kehidupan perguruan tinggi. Melalui penguatan integritas, penggunaan teknologi secara bertanggung jawab, serta akses terhadap dukungan kesehatan mental, UNEJ berupaya menyiapkan mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter, tangguh, dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya.(qf)



