Jember, 26 Agustus 2026
Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember (BEM FKG UNEJ) melalui Program Peningkatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) resmi me-launching “SUGIH PACE” (Sehat Unggul Gigi Gizi Lansia Desa Pace), di Balai Desa Pace, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember (26/08/2026), sebuah program pemberdayaan masyarakat yang memadukan kesehatan gigi dan mulut, pemenuhan gizi lansia, serta pemanfaatan potensi lokal Desa Pace, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember.
Program bertajuk “SUGIH PACE: Program Perbaikan Kesehatan Gigi-Mulut-Gizi Lansia Melalui Inisiasi Kombucha Ampas Kopi dan Aquaponik di Desa Pace Jember” ini menghadirkan dua inovasi utama, yakni pemanfaatan ampas kopi menjadi kombucha untuk obat kumur serta pengembangan aquaponik sebagai sumber pangan bergizi bagi lansia.
Konsep tersebut merupakan bagian dari program KOMPAS K3 (Kombucha, Pangan Aquaponik, Sehat Lansia, Keselamatan-Kesehatan Keluarga) serta program ini menggandeng UKMF insisivus dan Fakultas Pertanian UNEJ.
Ketua Tim PPK Ormawa BEM FKG UNEJ, Annisa Fitriyani Sholeha, mengatakan pemilihan Desa Pace tidak terlepas dari potensi kopi yang sangat besar sekaligus persoalan limbah ampas kopi yang belum dimanfaatkan secara optimal
“Di sini banyak limbah ampas kopi yang belum tergunakan. Kami berinovasi membuat obat kumur menggunakan jamur SCOBY dengan bahan dasar ampas kopi,” ujarnya.
Menurutnya, ampas kopi terlebih dahulu dikeringkan dan disterilkan, kemudian diolah menjadi seduhan sebelum difermentasi menggunakan SCOBY selama sekitar tujuh hari. Hasil fermentasi tersebut kemudian dikembangkan sebagai bahan obat kumur.
Inovasi itu diarahkan untuk membantu menjaga kesehatan rongga mulut lansia. Annisa menjelaskan, salah satu persoalan yang dihadapi lansia adalah menurunnya produksi saliva atau air liur sehingga mekanisme self-cleansing rongga mulut juga berkurang. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan rongga mulut, termasuk kandidiasis oral.

“Fungsinya untuk membantu self-cleansing lansia. Jadi setelah berkumur, rongga mulut diharapkan menjadi lebih bersih,” katanya.
Ia mencatat, sekitar 90 persen masyarakat Desa Pace memiliki kebiasaan mengonsumsi kopi, sehingga menghasilkan ampas kopi yang selama ini belum termanfaatkan. Pada sisi lain, kesehatan gigi dan mulut lansia masih menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian. Karena itu, tim menghadirkan KOMPI (Kombucha Ampas Kopi) sebagai salah satu solusi preventif berbasis potensi lokal.
Namun, dirinya menegaskan produk tersebut masih dalam tahap pengembangan dan belum dipasarkan secara komersial. Tim akan melakukan pengujian laboratorium serta memastikan aspek keamanan dan persyaratan lain sebelum diarahkan menjadi produk bernilai ekonomi.
“Untuk saat ini belum sampai penjualan. Kami akan uji dulu di laboratorium, termasuk perizinan dan aspek lainnya. Setelah itu baru kami diskusikan dengan masyarakat agar bisa meningkatkan nilai ekonomi,” jelasnya.
Selain inovasi kesehatan gigi dan mulut, SUGIH PACE mengembangkan PANIK (Pangan Aquaponik). Sistem ini memadukan budidaya ikan dan tanaman dalam satu media sederhana. Tim memilih ikan lele dan tanaman pakcoy sebagai komponen utama karena dinilai dapat menjadi sumber protein dan sayuran yang mendukung pemenuhan nutrisi lansia.
“Untuk ikannya kami pilih lele karena tinggi protein dan mudah dibudidayakan, sedangkan tanamannya pakcoy,” katanya lagi.
Pengembangan aquaponik menjadi bagian penting karena proposal program mengidentifikasi keterbatasan akses, pengetahuan, dan kemandirian pangan sebagai salah satu persoalan pemenuhan nutrisi lansia di Desa Pace. Melalui teknologi sederhana ini, masyarakat diharapkan mampu membangun sumber pangan mandiri sekaligus meningkatkan kualitas hidup lansia.
Program SUGIH PACE dirancang dengan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD), yakni pemberdayaan masyarakat berbasis kekuatan dan potensi desa. Selain KOMPI dan PANIK, program ini mencakup edukasi kesehatan melalui NGOBRAS, posyandu lansia, pengolahan hasil aquaponik, buku resep LEZAT, edukasi mitigasi bencana SIAGA K3, serta pengembangan media informasi Desa Pace.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNEJ, Dr. Fendi Setyawan, S.H., M.H., mengapresiasi inovasi mahasiswa yang menurutnya dibangun berdasarkan potensi lokal dan kebutuhan nyata masyarakat. “Yang dilakukan di Desa Pace berbasis pada potensi lokal yang ada. Ada potensi kopi, alpukat, dan potensi lainnya. Adik-adik juga mencoba melakukan edukasi dan pemberian layanan kesehatan gigi dan mulut sesuai kompetensi yang dimiliki,” ungkapnya.
Ia menekankan, program PPK Ormawa tidak boleh berhenti ketika mahasiswa kembali ke kampus. Pengetahuan, inovasi, dan teknologi yang dibawa mahasiswa harus dapat ditransfer kepada masyarakat sehingga program tetap berjalan secara mandiri setelah masa pendampingan berakhir.
“Harapannya, ketika adik-adik kembali ke kampus, program ini masih bisa berjalan. Syukur kalau bisa dikembangkan lebih lanjut. Potensinya ada, tinggal bagaimana pendekatan teknologi dan pemasaran bisa dijalankan oleh kader-kader desa,” ujarnya.
Menurutnya, Universitas Jember pada tahun 2026 memperoleh pendanaan untuk enam subproposal PPK Ormawa. Seluruh tim akan menjalani proses monitoring dan visitasi untuk melihat kesesuaian antara program yang dijanjikan dalam proposal dengan pelaksanaannya di lapangan. Ia menilai keberadaan PPK Ormawa juga menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi membangun ekosistem perekonomian pedesaan melalui inovasi dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui rangkaian tersebut, BEM FKG UNEJ tidak sekadar membawa inovasi teknologi ke desa, tetapi berupaya membangun ekosistem pemberdayaan yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama. Program ini diharapkan menjadi model kolaborasi mahasiswa, perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam mengubah potensi lokal menjadi solusi kesehatan sekaligus peluang ekonomi yang berkelanjutan.

Sementara itu, Asisten 3 Pemerintah Kabupaten Jember Bidang Administrasi Umum, Ir. Imam Sudarmaji, M.Si., menyatakan Pemkab Jember terbuka untuk terus bersinergi dengan perguruan tinggi dalam mengembangkan inovasi berbasis potensi desa.
Menurutnya, inovasi pemanfaatan ampas kopi menjadi produk kesehatan merupakan bentuk hilirisasi yang dapat memberikan nilai tambah bagi komoditas lokal. “Ini hal yang baru. Ampas kopi bisa diekstrak lagi menjadi bahan obat kumur untuk kesehatan. Karena adik-adik dari FKG dan pertanian berkolaborasi, pemerintah kabupaten, kampus, dan masyarakat juga harus bersama-sama,” katanya.
Ia berharap inovasi tersebut tidak berhenti pada kegiatan PPK Ormawa, tetapi terus dikembangkan oleh masyarakat dengan dukungan pemerintah dan perguruan tinggi, termasuk dalam aspek pemasaran dan pengembangan usaha.
“Yang terpenting adalah bagaimana memberikan motivasi kepada masyarakat bahwa bukan hanya kopinya yang memiliki nilai, tetapi ampas kopinya pun masih bisa dimanfaatkan dan memiliki nilai tambah,” ujarnya.(is)


