Jawab Tantangan Pangan di Wilayah Kepulauan, Mahasiswa FMIPA dan FKEP UNEJ Kembangkan Akuaponik Pintar Berbasis IoT

Jember, 26 Agustus 2026

Keterbatasan lahan dan ketergantungan terhadap pasokan pangan dari daratan menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat di wilayah kepulauan, seperti Kepulauan Seribu.

Menjawab persoalan tersebut, tim mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) mengembangkan AQUATERRA, sebuah inovasi smart-aquaponics berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang untuk mengintegrasikan budidaya ikan dan pertanian secara mandiri, hemat air, serta ramah lingkungan di wilayah perairan.

Inovasi AQUATERRA digagas oleh tiga mahasiswa UNEJ, yakni Muhammad Husein Shodiq dari Program Studi Fisika (FMIPA), serta Aditya Bintang Imani dan Muhammad Reihan Rafzansani dari Program Studi Ilmu Keperawatan (FKEP).

“Pertumbuhan populasi dan keterbatasan lahan daratan membuat pengembangan pertanian konvensional menjadi sulit, sementara sebagian kebutuhan pangan masih bergantung pada pasokan dari daratan utama Jakarta. Kondisi tersebut mendorong kami untuk merancang konsep pertanian akuaponik yang tidak bergantung pada lahan daratan, tetapi dapat memanfaatkan potensi wilayah perairan secara optimal,” jelas Husein selaku ketua tim.

Potret tim ketika menghadiri final esai AKTIVA.04 secara daring

AQUATERRA mengintegrasikan sejumlah teknologi, yakni Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), Nutrient Film Technique (NFT), dan Recirculating Aquaculture System (RAS). Ketiganya dirancang menjadi satu sistem yang menggabungkan kegiatan perikanan dan pertanian. Teknologi SWRO berfungsi mengolah air laut menjadi air tawar yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan budidaya ikan lele dan tanaman. NFT membantu tanaman mendapatkan nutrisi dari air kolam ikan, sedangkan RAS berfungsi mengalirkan dan membersihkan air secara terus-menerus sehingga penggunaan air lebih hemat.

“Secara garis besar, fitur teknologi ini adalah peternakan dan pertanian secara modular yang hemat air, mandiri energi, dan dapat diletakkan mengapung di laut,” tambahnya.

Selain mengoptimalkan sumber daya air, AQUATERRA dirancang memanfaatkan panel surya sebagai sumber energi. Kondisi Kepulauan Seribu yang memperoleh intensitas cahaya matahari tinggi dinilai memiliki potensi untuk mendukung penggunaan energi surya. Dengan demikian, sistem ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap energi listrik sekaligus memanfaatkan laut yang luas.

Desain AQUATERRA, inovasi smart aquaponics berbasis Internet of things

Menurut Husein, penerapan konsep tersebut juga memiliki peluang untuk meningkatkan produktivitas pangan lokal. Kepulauan Seribu yang dikelilingi lautan memiliki potensi besar untuk mengembangkan sistem produksi pangan berbasis perairan. Terlebih, masyarakat di wilayah tersebut telah mengenal berbagai praktik urban farming yang dapat menjadi modal awal dalam pengembangan inovasi.

Melalui karya ilmiah berjudul “AQUATERRA: Inovasi Smart-Aquaponics Berbasis Internet of Things sebagai Solusi Ketahanan Pangan di Kepulauan Seribu”, gagasan inovatif ini juga berhasil mengukir prestasi dengan meraih Juara 2 pada ajang Esai AKTIVA.04 2026 yang diselenggarakan oleh Akademi Komunitas Negeri Rejang Lebong, Bengkulu, pada 23 Juli 2026 lalu.

Ke depan, Husein dan tim berharap AQUATERRA tidak berhenti sebatas konsep gagasan, tetapi dapat terus dikembangkan hingga tahap implementasi nyata di berbagai wilayah kepulauan Indonesia. Ia juga memberikan dorongan bagi rekan-rekan mahasiswa lainnya agar selalu peka terhadap isu sosial dalam berinovasi.

Tim FMIPA dan FKEP meraih juara 2 Esai AKTIVA.04 2026

“Jangan hanya mencari ide yang terlihat menarik, tetapi mulailah dari persoalan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Pastikan setiap gagasan didukung oleh data dan sumber yang terpercaya agar solusi yang ditawarkan tidak hanya kreatif, tetapi juga kuat dan relevan. Setelah itu, percaya pada proses, berani melangkah, dan jangan lupa berdoa,” pungkasnya. (dil/ajf)

#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #IKU3 #IKU7