JAGATARA UNEJ Dorong Rowokangkung Naik Kelas, dari Komoditas Mentah Menuju Ekonomi Sirkular Digital

Lumajang, 27 Agustus 2026

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Jember (BEM Fasilkom UNEJ) resmi meluncurkan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) bertajuk “JAGATARA: Desa Agraris Berlapis Rowokangkung sebagai Model Circular Economy Zero-Waste Berbasis Komoditas Unggulan melalui Inovasi dan Penguatan Ekosistem Digital UMKM” di Balai Desa Rowokangkung, Kabupaten Lumajang (27/08/2026).

Program ini hadir untuk mendorong transformasi ekonomi masyarakat desa melalui hilirisasi komoditas unggulan, pemanfaatan limbah, pengembangan produk inovatif, serta penguatan ekosistem digital UMKM.

Desa Rowokangkung memiliki basis ekonomi yang kuat pada sektor pertanian dan perikanan dengan tiga komoditas utama, yakni ikan gurami, jagung, dan kangkung. Dalam proposal JAGATARA, potensi tersebut diarahkan untuk dikembangkan melalui konsep ekonomi sirkular, zero-waste, akuaponik, dan digitalisasi usaha.

Ketua Tim PPK Ormawa BEM Fasilkom UNEJ, Dimas Kurniawan Hariyanto, kala memberikan keterangannya

Ketua Tim PPK Ormawa BEM Fasilkom UNEJ, Dimas Kurniawan Hariyanto, mengatakan gagasan JAGATARA berawal dari proses identifikasi potensi desa melalui dialog dan konsultasi bersama pemerintah desa serta masyarakat.

“Dari kelebihan-kelebihan yang ada di desa, kami melihat apa yang bisa dikelola dan dikembangkan. Dari hasil rundingan bersama kepala desa dan pendamping desa, kemudian muncul berbagai inovasi yang sampai saat ini cukup banyak,” ujarnya.

Sejumlah inovasi yang dikembangkan meliputi susu jagung, mie kangkung, abon gurami, bakso gurami, biofoam dari limbah jagung, pakan ikan, akuaponik, hingga website desa dan platform digital UMKM. Konsep tersebut sejalan dengan rancangan program JAGATARA yang menempatkan gurami, jagung, dan kangkung sebagai komoditas yang dapat diolah menjadi produk bernilai tambah sekaligus diintegrasikan dalam sistem ekonomi sirkular.

Menurutnya, produk yang paling mendapatkan perhatian masyarakat antara lain susu jagung dan bakso gurami. Bakso gurami dikembangkan karena masyarakat Rowokangkung memiliki potensi budidaya gurami yang cukup besar. Selama ini ikan lebih banyak dijual dalam bentuk mentah sehingga nilai tambah yang diterima pembudidaya masih terbatas.
“Kami tidak ingin pembudidaya hanya menjual ikannya saja. Kami mengajarkan bagaimana ikan tersebut dapat dikelola menjadi produk lain sehingga masyarakat dan pembudidaya memperoleh keuntungan yang lebih besar,” jelasnya.

Pendekatan pemberdayaan dilakukan bersama kader PKK, kader Posyandu, masyarakat, perangkat desa, pemerintah kecamatan, serta mitra pendukung. Kolaborasi menjadi salah satu kunci program agar inovasi yang dikembangkan tidak berhenti pada proses produksi, tetapi dapat diteruskan dan dikelola masyarakat.

Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Jember, Prof. Drs. Antonius Cahya Prihandoko, M.App.Sc., Ph.D., kala memberikan keterangannya

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Jember, Prof. Drs. Antonius Cahya Prihandoko, M.App.Sc., Ph.D., menegaskan, dukungan penuh Fasilkom UNEJ terhadap PPK Ormawa JAGATARA. Menurutnya, program tersebut merupakan bentuk nyata implementasi keilmuan mahasiswa sekaligus upaya menghadirkan kampus yang berdampak bagi masyarakat.

“Bagaimana organisasi kemahasiswaan dapat memberikan manfaat, peduli terhadap lingkungan, lebih peka terhadap apa yang dibutuhkan masyarakat, kemudian mengeksplorasi dan mengimplementasikan keilmuannya untuk memecahkan permasalahan di masyarakat,” ungkapnya.

Ia berharap program tersebut tidak berhenti pada seremoni launching. Keberlanjutan menjadi hal penting, terutama dalam pengelolaan platform digital yang nantinya dapat memperkenalkan berbagai produk dan potensi Rowokangkung kepada masyarakat yang lebih luas.

“Website ini penting untuk mengenalkan produk dan potensi Desa Rowokangkung. Siapa yang membutuhkan bisa mengetahui produknya dan menghubungi tempat untuk mendapatkannya. Potensi unik Rowokangkung nantinya bisa tereksplor ke banyak pihak,” katanya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Lumajang, Bayu Ruswantoro, S.STP. kala memberikan keterangannya

Apresiasi juga disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Lumajang, Bayu Ruswantoro, S.STP. Ia menilai JAGATARA mampu meningkatkan nilai tambah komoditas lokal dengan mengubah pola penjualan dari produk mentah menjadi produk olahan.

“Ini meningkatkan level potensi Rowokangkung. Dari yang nilainya biasa berupa produk ikan menjadi produk yang bernilai tambah. Harapannya tidak hanya menjual mentah, tetapi diolah terlebih dahulu sehingga nilainya lebih,” ujarnya.

Dirinya berharap pemerintah desa dapat melanjutkan program tersebut dengan dukungan pemerintah kabupaten. Ia juga membuka peluang agar model JAGATARA dapat direplikasi di wilayah lain di Lumajang. Dokumentasi dan panduan program dinilai penting agar inovasi yang telah dikembangkan dapat dipelajari dan diterapkan oleh desa maupun perangkat daerah lainnya. “Kalau sudah ada dokumentasinya, siapa pun bisa meniru. Tidak harus pemerintah desa, bisa dinas terkait atau perangkat desa lainnya,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lumajang, Yuli Harisma Wati, S.P., M.Ling., mengatakan, secara konseptual, JAGATARA mengintegrasikan limbah budidaya gurami sebagai pupuk untuk kangkung, sementara sisa kangkung dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif ikan. Limbah jagung juga diarahkan menjadi produk bernilai tambah seperti biofoam ramah lingkungan. Pendekatan ini dirancang untuk mengubah pola ekonomi linear menjadi sistem yang lebih sirkular dan berkelanjutan.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lumajang, Yuli Harisma Wati, S.P., M.Ling., kala memberikan keterangannya

“Program ini sekaligus memperkuat kapasitas UMKM melalui inovasi produk, standardisasi produksi, branding, desain kemasan, literasi digital, pembukuan, manajemen stok, serta pemasaran digital. Dalam rancangan program, JAGATARA menargetkan terbentuknya Sentra Wirausaha Hilirisasi sebagai pusat produksi, pengolahan, dan showcase produk masyarakat,” ulasnya.

Dirinya menilai, dengan menggabungkan potensi pertanian, perikanan, teknologi, dan kewirausahaan, JAGATARA diharapkan menjadi model pemberdayaan yang mampu membawa komoditas lokal Rowokangkung naik kelas, dari sekadar hasil panen menjadi produk inovatif, berdaya saing, dan memiliki akses pasar yang lebih luas.

“Program ini juga diarahkan dapat membangun ekosistem ekonomi desa yang tidak hanya produktif, tetapi mampu bertahan dan berkembang melalui kolaborasi masyarakat, pemerintah desa, BUMDes, pelaku UMKM, dan perguruan tinggi.” pungkasnya.(is)