Jember, 7 September 2026
Ribuan kilometer perjalanan dari Papua Barat menuju Jember tidak menyurutkan langkah 14 mahasiswa untuk berdiri di panggung Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS) XVIII Tahun 2026.
Mereka datang membawa karya dan identitas budaya daerah untuk bersaing dalam ajang seni mahasiswa nasional yang digelar Universitas Jember (UNEJ), 8–10 September, bersama kontingen dari berbagai provinsi dan 15 tangkai seni yang diperlombakan. Bahkan, ketika erupsi Gunung Anak Krakatau mengganggu sejumlah penerbangan, semangat peserta untuk tetap tampil tidak ikut padam.PEKSIMINAS XVIII bukan sekadar panggung perlombaan. Di balik penampilan para mahasiswa, tersimpan cerita panjang tentang latihan, perjalanan, pendampingan, persiapan karya hingga perjuangan menempuh jarak dari berbagai penjuru Indonesia.
Salah satunya datang dari kontingen Papua Barat. Yusanna Buai, mahasiswa asal Papua Barat, mengaku bersyukur dapat menjadi bagian dari ajang seni mahasiswa tingkat nasional tersebut. Bersama rekan-rekannya, ia telah mempersiapkan diri untuk tampil sekaligus membawa nama daerahnya di hadapan peserta dari berbagai provinsi.

“Pertama-tama kami semua merasa bersyukur bisa ada di sini dan dapat mengikuti lomba PEKSIMINAS,” ujarnya.
Persiapan ini menurutnya, tidak hanya menyangkut penampilan di atas panggung. Tim juga harus mempersiapkan berbagai kebutuhan sebelum berangkat ke Jember, mulai dari latihan, penampilan, hingga karya yang akan diperlombakan.
Bagi kontingen yang datang dari wilayah timur Indonesia, perjalanan menuju Jember sendiri menjadi pengalaman tersendiri. Hal ini juga dirasakan oleh Nelson Mansoara, dosen pendamping kontingen Papua Barat, mengatakan persiapan telah dilakukan jauh sebelum PEKSIMINAS XVIII berlangsung.
“Kami kurang lebih satu tahun mempersiapkan diri, dimulai dari PEKSIMIDA, Pekan Seni Mahasiswa Daerah, khususnya di Papua Barat,” katanya.

Seleksi di tingkat daerah menjadi pintu masuk bagi mahasiswa terbaik untuk melanjutkan perjuangan ke tingkat nasional. Dari proses tersebut, terpilih mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi yang kemudian bergabung dalam kontingen Papua Barat.
Dia datang bersama 14 mahasiswa sebagai peserta dan didampingi dua orang pendamping. Meski harus menempuh perjalanan panjang dari kawasan timur Indonesia, ia memastikan timnya datang dengan optimisme.
“Walaupun kita dari jauh, tidak ada rasa ragu. Kami tetap optimis,” tegasnya.
Kehadiran kontingen dari berbagai wilayah Indonesia menjadi salah satu daya tarik PEKSIMINAS XVIII. Jember selama beberapa hari berubah menjadi ruang perjumpaan mahasiswa dengan latar belakang budaya, bahasa, tradisi, dan ekspresi seni yang berbeda-beda.
Namun, perjalanan menuju Jember tahun ini tidak sepenuhnya tanpa tantangan. Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau sempat mengganggu sejumlah penerbangan sehingga beberapa kontingen mengalami penundaan perjalanan.
Universitas Jember bersama BPSMI kemudian mengambil langkah adaptif. Peserta yang terlambat tetap diupayakan memperoleh kesempatan mengikuti perlombaan, sementara peserta yang benar-benar tidak memungkinkan hadir secara langsung akan difasilitasi secara daring sesuai ketentuan.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNEJ, Dr. Fendi Setyawan, S.H., M.H., mengatakan panitia berkoordinasi dengan BPSMI Pusat dan dewan juri untuk mencari solusi bagi peserta yang terdampak kendala perjalanan.
“Memang ada kendala sebagian terkait dengan Gunung Anak Krakatau yang mengganggu penerbangan. Kami sudah berbicara dengan BPSMI Pusat dan tim juri untuk mencoba mengakomodasi dengan segala hal,” ujarnya.
Menurutnya, peserta yang terlambat tiba masih dapat diberikan kesempatan tampil pada hari berikutnya atau ditempatkan pada urutan penampilan terakhir. Sementara bagi peserta yang tidak memungkinkan hadir secara langsung, panitia menyiapkan fasilitas daring.
Di balik kesibukan peserta dan panitia, ada wajah-wajah mahasiswa UNEJ yang turut memastikan kontingen dapat mengikuti kegiatan dengan nyaman. Mereka bertugas sebagai liaison officer (LO) yang menjadi penghubung antara peserta dengan panitia.
Para LO berasal antara lain dari unsur duta kampus dan duta fakultas. Mereka membantu memberikan informasi, mendampingi mobilitas kontingen, sekaligus membantu mengatasi berbagai kebutuhan peserta selama berada di Jember.
“Spiritnya adalah pembinaan,” kata Eko Sri Haryanto mewakili BPSMI Pusat.
Menurutnya, PEKSIMINAS tidak semata-mata tentang siapa yang menjadi juara. Kompetisi ini merupakan bagian dari proses pembinaan mahasiswa agar memiliki ruang untuk mengembangkan minat, bakat, kreativitas, sekaligus membangun jejaring antarmahasiswa dari berbagai daerah.
PEKSIMINAS XVIII Tahun 2026 menghadirkan 15 tangkai seni yang mencakup seni pertunjukan, sastra, hingga seni rupa. Dewan juri berasal dari unsur akademisi dan praktisi sehingga kompetisi tidak hanya mempertemukan kemampuan mahasiswa, tetapi juga mempertemukan dunia pendidikan dengan perkembangan seni dan industri kreatif.
Yang menarik, pengalaman PEKSIMINAS tidak berhenti di arena lomba. Peserta juga diajak bersentuhan dengan potensi lokal Jember. Sejumlah karya mengangkat kekayaan lokal sebagai bagian dari gagasan kreatif, sementara Pasar PEKSIMINAS menghadirkan UMKM serta ruang interaksi peserta dengan masyarakat.
Dengan demikian, PEKSIMINAS XVIII menjadi semacam miniatur Indonesia di Kampus Tegalboto. Mahasiswa dari Papua Barat hingga berbagai provinsi lainnya bertemu bukan hanya untuk berkompetisi, tetapi juga untuk saling mengenal, bertukar pengalaman, memperkenalkan budaya, dan membangun jejaring.
Selama 8–10 September 2026, panggung-panggung PEKSIMINAS akan menjadi saksi bagaimana talenta muda Indonesia menerjemahkan keberagaman menjadi karya. Ada yang datang membawa tradisi daerah, ada yang membawa eksperimen artistik, dan ada pula yang membawa cerita tentang perjuangan menempuh perjalanan panjang demi satu kesempatan tampil.
Kampus Tegalboto pun untuk sementara menjadi rumah bagi talenta-talenta muda Indonesia tempat mereka bertemu, berkarya, dan menunjukkan bahwa keberagaman Indonesia dapat menemukan satu panggung melalui seni.(is)




