Jember, 21 September 2026
Dari kesenian yang tumbuh di tengah masyarakat Banyuwangi hingga kehidupan mahasiswa di luar ruang kelas, dua mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) berhasil mengubah cerita di sekitar mereka menjadi karya jurnalistik.
Melalui ajang SEMISTIK (Semarak Kompetisi Jurnalistik) yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Pers Kampus (UKMPK) Tegalboto Universitas Jember (UNEJ), keduanya meraih Juara II dan Juara III dalam kategori Feature.Vico Falerio Bagus Pratama, mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum UNEJ angkatan 2024, meraih Juara II melalui karya yang mengangkat sosok pemuda seniman Banyuwangi dengan komunitas seni Damar Art. Sementara itu, Aulia Jihan Fadilah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UNEJ angkatan 2024, meraih Juara III melalui feature yang mengangkat transisi dari ruang kelas ke ruang kerja melalui berbagai pengalaman mahasiswa di luar perkuliahan.

Bagi Vico, memilih cerita tentang kesenian Banyuwangi bukan tanpa alasan. Sebagai putra daerah, ia melihat kesenian dan budaya tradisional masih menjadi bagian yang kuat dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi. Namun, di tengah perubahan zaman, generasi muda perlu melihat seni tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ruang untuk berkarya dan mengembangkan potensi ekonomi.
“Saya ingin mengenalkan seni kepada generasi muda saat ini, bahwa seni tidak hanya sebagai hiburan, tetapi bisa juga memutar roda perekonomian,” ujar Vico.
Gagasan tersebut kemudian ia tuangkan melalui cerita tentang Damar Art dan sosok pemuda yang berada di balik aktivitas komunitas seni tersebut. Untuk memperoleh informasi, Vico melakukan wawancara dan observasi secara langsung. Lokasi yang dekat dengan tempat tinggalnya juga membuat proses peliputan lebih mudah dilakukan.
“Prosesnya sangat menyenangkan dan mudah karena dekat dengan tempat tinggal saya. Saya mengumpulkan hasil karya melalui kegiatan wawancara serta observasi,” ungkapnya.

Sementara itu, Jihan memilih melihat sisi lain dari kehidupan mahasiswa melalui sosok ‘role model’ yang ia kagumi selama masa perkuliahan. Melalui riset dan wawancara, ia mengangkat berbagai aktivitas yang dilakukan mahasiswa setelah perkuliahan berakhir yang menjadi bekal yang akan dibawa ke ruang kerja. Menurutnya, proses belajar tidak selalu berhenti ketika mahasiswa meninggalkan ruang kelas.
Dalam feature tersebut, Jihan menggambarkan mahasiswa yang mengisi waktu selepas kuliah melalui berbagai kegiatan, mulai dari organisasi, kepanitiaan, kompetisi, magang, dan kegiatan lainnya. Berbagai aktivitas itu menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman yang tidak selalu diperoleh melalui pembelajaran di kelas. Organisasi dapat melatih kepemimpinan dan kemampuan bekerja sama, kepanitiaan mengajarkan pengelolaan waktu dan tanggung jawab, sedangkan kompetisi mendorong kreativitas serta daya juang. Pengalaman magang dan pengabdian masyarakat juga mempertemukan mahasiswa dengan situasi nyata di luar lingkungan akademik.
“Saya mengangkat topik ini karena dekat dengan kehidupan nyata yang saya alami selama kuliah. Saya menyadari bahwa banyak hal yang saya pelajari justru datang dari pengalaman di luar kelas. Karena itu, saya ingin menunjukkan bahwa ruang belajar mahasiswa tidak hanya ada di ruang perkuliahan, tetapi juga melalui berbagai kegiatan dan pengalaman yang dijalani,” ungkap Jihan.

Melalui karya tersebut, Jihan menunjukkan bahwa pengalaman di luar ruang kelas dapat menjadi bagian penting dalam membentuk kemampuan mahasiswa untuk menghadapi dunia kerja. Komunikasi, kerja tim, kepemimpinan, dan kemampuan soft skill lain lain dapat berkembang melalui pengalaman langsung. Ia juga menekankan bahwa banyaknya kegiatan bukan menjadi ukuran utama dalam proses pengembangan diri mahasiswa. Hal yang lebih penting adalah kualitas pengalaman dan pembelajaran yang diperoleh dari setiap kegiatan.
Dua karya yang memperoleh juara pada 5 September 2026 di Ruang Home Theater Fakultas Ilmu Budaya UNEJ tersebut menghadirkan cerita yang berbeda, tetapi memiliki kesamaan dalam cara melihat lingkungan sekitar. Baik Vico maupun Jihan sama-sama berpesan kepada mahasiswa lain untuk lebih peka terhadap berbagai hal yang terjadi di sekitar mereka, mengangkatnya menjadi karya yang bermanfaat, dan berani mengikutsertakan pada kompetisi.

“Jangan takut untuk mencoba dan terus berkarya. Mulailah dari hal-hal sederhana yang terjadi di sekitar kita, karena setiap pengalaman memiliki cerita dan setiap cerita memiliki makna. Teruslah belajar, berani melangkah, dan jadikan proses sebagai bagian dari perjalanan untuk berkembang,” pungkas Jihan. (dil/ajf)
#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #IKU3 #IKU7

