Jember, 23 September 2026
Melimpahnya jerami padi di sekitar lingkungan pertanian Desa Karanganyar, Bondowoso belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber pakan ternak.
Kondisi ini semakin terasa saat musim kemarau ketika ketersediaan rumput hijau menurun. Padahal, dengan pengolahan yang tepat, jerami dapat diolah menjadi pakan alternatif dengan nilai nutrisi yang lebih baik untuk mendukung kebutuhan ternak.Kondisi tersebut mendorong tim Hibah Pengabdian Pemula Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Jember (UNEJ) yang diketuai Khaerani Nurlaelita, S.Hut., M.Sc. Bersama anggotanya Ir. Wagiyana, M.P., Ir. Listya Purnamasari, S.Pt., M.Sc., Ph.D., dan Ir. Bakhroini Habriantono, S.TP., M.P. untuk menghadirkan program Optimalisasi Jerami Fermentasi dan Introduksi Hijauan Pakan untuk Peningkatan Produktivitas Ternak Ruminansia di Desa Karanganyar, Bondowoso. Program yang berlangsung bulan Juni – November 2026 ini mengolah jerami dan hijauan pakan melalui proses fermentasi untuk meningkatkan kandungan nutrisi sekaligus memperpanjang masa simpannya.

“Para peternak memiliki permasalahan terhadap keterbatasan dan ketersediaan pakan hijau, khususnya pada musim kemarau yang diakibatkan rumput mengering dan sulitnya mencari pakan hijau. Selain itu, jerami padi biasanya menjadi limbah pertanian. Meskipun dapat menjadi pakan ternak, jerami belum mengalami pengolahan sehingga nutrisi yang terkandung kurang,” jelas Khaerani Nurlaelita.
Pelaksanaan program diawali dengan sosialisasi mengenai pembuatan silase dan amoniasi, termasuk penjelasan mengenai kandungan dan manfaat produk. Setelah mendapatkan materi, para peternak melakukan praktik pembuatan secara bersama-sama yang kemudian dipantau melalui kegiatan monitoring oleh tim pengabdian. Program juga dikembangkan dengan pemanfaatan limbah peternakan dan bahan alami untuk menghasilkan produk pendukung lainnya.
Salah satu produk yang diperkenalkan adalah silase, yaitu pakan hijauan yang dibuat melalui proses fermentasi. Rumput gajah atau setaria dicacah, kemudian dicampur dengan molase, EM4, dan bekatul sebelum disimpan dalam wadah kedap udara selama 14 hari. Silase yang berhasil ditandai dengan aroma seperti tape dan bebas dari kontaminasi jamur atau bakteri.
“Silase berfungsi agar pakan hijau memiliki nutrisi yang lebih baik sekaligus memperpanjang masa simpan. Dengan demikian, peternak tetap dapat memberikan pakan dengan nutrisi yang baik kepada sapi, terutama pada musim kemarau,” jelasnya.

Selain silase, Khaerani Nurlaelita juga mengenalkan amoniasi, yaitu pengolahan jerami kering dengan penambahan urea. Jerami dicacah, kemudian dicampur dengan EM4, molase, urea, dan bekatul sebelum disimpan dalam wadah kedap udara selama 14 hari. Proses ini bertujuan meningkatkan nutrisi sekaligus memperpanjang masa simpan jerami sebagai pakan ternak. Program juga mendorong pemanfaatan limbah melalui pembuatan pupuk organik dari kotoran sapi. Kotoran sapi yang telah dikeringkan dicampur dengan EM4 dan molase, kemudian disimpan hingga terurai dan berubah warna menjadi cokelat. Pupuk ini dapat menyuburkan tanah, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, sekaligus mengolah limbah peternakan menjadi produk yang bermanfaat.
Produk lainnya adalah pestisida nabati berbahan buah maja untuk membantu mengendalikan Spodoptera frugiperda dan hama ordo Lepidoptera lainnya. Ekstrak buah maja dicampur dengan alkohol dan air, kemudian difermentasi dalam wadah kedap udara selama kurang lebih dua minggu.
“Pestisida nabati dari buah maja berfungsi untuk mengendalikan hama ordo Lepidoptera dan lebih ramah lingkungan karena residu yang ditinggalkan mudah terurai. Peternak maupun petani juga dapat memanfaatkan buah maja menjadi bahan yang berguna untuk pestisida nabati yang ramah lingkungan,” jelas Khaerani.

Dalam pelaksanaannya, tim menghadapi tantangan dalam membangun pemahaman peternak mengenai solusi yang sesuai dengan kondisi lingkungan. Karena itu, tim perlu mengkaji faktor internal dan eksternal terlebih dahulu sebelum memberikan solusi. Penjelasan yang realistis juga diperlukan agar inovasi yang diperkenalkan dapat diterima dan diterapkan oleh masyarakat.
Melalui program tersebut, peternak diharapkan tidak hanya mampu menyediakan pakan dengan kandungan nutrisi yang lebih baik, tetapi juga dapat memproduksi pakan secara mandiri. Kemampuan tersebut berpotensi dikembangkan menjadi usaha bagi kelompok peternak sekaligus mendorong inovasi dalam pengolahan pakan lainnya.
“Kami berharap peternak mampu meneruskan program yang sudah digagas dan bekerja sama dengan baik dalam pengolahan fermentasi hijauan. Harapannya, peternak mampu membuat usaha dari fermentasi pakan hijau sebagai tunjangan kesejahteraan ekonomi mereka,” pungkasnya. (dil/ajf)
#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #IKU3 #IKU5 #IKU7 #IKU12

