Jember, 8 Oktober 2026
Sebuah pemikiran yang bermula dari ruang diskusi beberapa tahun silam mengantarkan Prof.
Dr. Akhmad Taufiq, S.S., M.Pd., Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember (UNEJ), meraih Anugerah Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) ke-10 Kategori Karya Nonfiksi. Penghargaan tersebut diraih melalui bukunya, Politika Sastra: Ruang Diskursif Ideologi dan Imajinasi Politik Kebangsaan. Penyerahan resmi plakat dan sertifikat penghargaan tingkat internasional tersebut berlangsung di Surabaya pada Rabu (7/10).Gagasan buku itu bermula pada 2020, ketika Prof. Taufiq menjadi moderator dalam sebuah seminar tentang politika sastra yang diselenggarakan bersama Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI). Diskusi yang berkembang saat itu memantik pemikirannya bahwa kajian politik sastra perlu untuk didokumentasikan dan dikembangkan secara lebih mendalam. Gagasan tersebut kemudian ia konstruksi menjadi naskah pada 2023 hingga diterbitkan oleh Intrans Publishing pada 2024.
“Selama ini masyarakat memahami dan memposisikan sastra hanya pada ruang keindahan atau estetika bahasa. Padahal, ketika kita bicara sastra tidak melulu soal estetika, tetapi ada muatan yang esensial, substantif, dan strategis, salah satunya muatan politik. Ketika kita bicara politik, maka kita juga membicarakan soal ideologi,” ujar Prof. Taufiq.

Melalui Politika Sastra, Prof. Taufiq ingin menunjukkan bahwa sastra tidak hanya berbicara tentang estetika bahasa. Di dalamnya terdapat muatan politik dan ideologi yang dapat dibaca untuk memahami perkembangan pemikiran tentang kebangsaan. Salah satu yang dibahas adalah bagaimana nasionalisme dikonseptualisasikan dan diperdebatkan oleh para pendiri bangsa maupun sastrawan dari masa ke masa.
Proses menyelesaikan buku tersebut juga memiliki tantangan tersendiri. Selain waktu, luasnya cakupan kajian politik sastra membuat Prof. Taufiq harus menentukan batas pembahasan. Ia mengaku memiliki keinginan untuk membahas keseluruhan cakupan politik sastra. Namun, ia akhirnya memusatkan buku tersebut pada muatan politik dalam teks sastra agar pembahasannya lebih terarah.
“Sebagai penulis tentu saya ingin menulis semuanya, tetapi kajian studi politik sastra ini sangat luas. Saya tidak mungkin menulis semuanya. Bagian yang belum dibahas justru menjadi ruang yang bisa dikembangkan oleh penulis lain. Kalau itu sebuah riset, masih ada gap yang bisa dikembangkan,” jelasnya.
Selain itu, perjalanan Politika Sastra hingga meraih Anugerah Mastera melalui proses seleksi secara berjenjang. Setelah diusulkan melalui Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, buku tersebut mengikuti seleksi tingkat nasional oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sebelum diajukan ke tingkat Asia Tenggara. Prof. Taufiq mengaku tidak menyangka bukunya akan terpilih dan bersanding dengan deretan nama besar sastra Indonesia yang pernah menerima penghargaan tersebut, seperti Prof. Budi Darma, Sapardi Djoko Damono, hingga Taufiq Ismail.

Penganugerahan Mastera ke-10 sebelumnya telah digelar di Kuching, Sarawak, Malaysia, pada 22 September 2026. Pada kesempatan tersebut, penerimaan penghargaan bagi pemenang dari Indonesia secara simbolis diwakili oleh Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Dr. Ganjar Harimansyah. Penyerahan fisik plakat dan sertifikat di Surabaya menjadi momen pengukuhan resmi raihan prestasi internasional tersebut.
Bagi Prof. Taufiq, penghargaan tersebut tidak hanya menjadi capaian pribadi, tetapi juga bagian dari kontribusinya kepada UNEJ sekaligus rekognisi internasional bagi institusi tempatnya mengabdi. Rektor UNEJ, Iwan Taruna, turut mengapresiasi capaian tersebut sebagai prestasi yang membanggakan.
Makna lain datang dari komunitas sastra yang dikembangkannya sejak 2015. Ia memandang penghargaan tersebut tidak berdiri sebagai capaian individu semata, tetapi juga memberikan dampak positif bagi gairah bersastra di kawasan timur Jawa.
“Penghargaan ini tidak semata-mata bernilai bagi saya pribadi, tetapi juga berdampak lebih luas bagi tempat saya mengabdi maupun komunitas. Dengan begini, denyut dan gairah bersastra tidak hanya di Jember, tetapi juga di kawasan timur Jawa,” ungkapnya.
Menutup pengalamannya, Prof. Taufiq berpesan kepada mahasiswa dan generasi muda untuk tidak ragu menekuni dunia literasi.
“Bekalnya adalah rajin membaca dan terus membangun mimpi atau harapan. Dua bekal inilah, membaca dan membangun mimpi, yang menjadi modal untuk menulis. Sambil terus menjaga jalinan komunikasi sesama penulis dan sastrawan untuk merawat gagasan dan merawat habitat,” pungkasnya. (qf)

