Jember, 22 Oktober 2026
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember (FEB UNEJ) menggelar kuliah umum internasional bertajuk Sustainable Business in Motion: Driving Resilience through Green Transformation, Kamis (22/10).
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Gedung Soedjarwo UNEJ ini menghadirkan akademisi dari Malaysia dan Thailand untuk membahas bagaimana transformasi hijau dapat memperkuat ketahanan bisnis di tengah perubahan lingkungan dan tantangan ekonomi global.Kegiatan tersebut merupakan penyelenggaraan ketiga Global General Lecture Series on Sustainable Business Environment yang diinisiasi Program Studi Manajemen FEB UNEJ. Dua akademisi yang dihadirkan ialah Assoc. Prof. Dr. Norizah Binti Mohd Mustamil dari Universiti Malaya, Malaysia, dan Amondech Inkaew, MBA, Ph.D., dari Rajamangala University of Technology Lanna, Thailand.

Wakil Rektor Bidang Akademik UNEJ, Prof. Drs. Slamin, M.Comp.Sc., Ph.D., dalam sambutannya menekankan bahwa keberlanjutan menjadi isu penting yang perlu diperhatikan dalam perkembangan dunia usaha. Menurutnya, kegiatan bisnis tidak hanya dituntut mampu bertahan menghadapi perubahan, tetapi juga perlu mempertimbangkan tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.
“Keberlanjutan merupakan isu global yang sangat penting. Kita belajar dari pandemi COVID-19 bagaimana bisnis harus cepat beradaptasi, termasuk dari aktivitas luring ke daring. Karena itu, keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga ketahanan bisnis dan tata kelola,” ujar Prof. Slamin.
Prof. Slamin juga mengaitkan tema kegiatan dengan visi UNEJ yang berorientasi pada pengembangan pertanian dan industri berkelanjutan. Ia berharap kuliah umum internasional ini dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai perkembangan bisnis global sekaligus memperkenalkan berbagai pendekatan dalam menghadapi tantangan keberlanjutan.

Memasuki sesi materi, Prof. Norizah membahas peran manajemen sumber daya manusia dalam mendorong transformasi hijau melalui pemaparan bertajuk Ambition to Green Action: The Role of HRM in Sustainable Business Transformation. Menurutnya, transformasi hijau bukan sekadar kampanye lingkungan, melainkan perubahan yang mencakup teknologi, proses kerja, dan perilaku manusia dalam organisasi.
Ia menekankan bahwa keberhasilan transformasi hijau memerlukan komitmen organisasi, keteladanan pemimpin, serta keterlibatan karyawan. Kebijakan keberlanjutan tidak cukup hanya dituangkan dalam strategi perusahaan, tetapi perlu diterapkan dalam budaya dan aktivitas kerja sehari-hari.
“Organisasi harus berkomitmen, pemimpin harus memimpin, dan karyawan harus bertindak. Jika perusahaan ingin membangun perilaku ramah lingkungan, pemimpinnya harus terlebih dahulu menunjukkan perilaku tersebut,” jelas Prof. Norizah.
Prof. Norizah juga menyoroti perbedaan karakter antar generasi dalam dunia kerja. Menurutnya, organisasi perlu memahami perubahan pola pikir, pengalaman, dan nilai yang dimiliki setiap generasi agar strategi pengelolaan sumber daya manusia dapat berjalan efektif. Pemahaman tersebut turut menentukan keberhasilan perusahaan dalam membangun budaya kerja yang mendukung praktik bisnis berkelanjutan.
Dalam kesempatan itu, ia mengingatkan mahasiswa agar mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif, termasuk perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Selain pengetahuan akademik, mahasiswa perlu mengembangkan kemampuan beradaptasi, memecahkan masalah, berkolaborasi, serta mengambil keputusan secara etis.
“Kalian harus membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja saat ini. Apa yang dipelajari di universitas merupakan persiapan sebelum memasuki dunia kerja yang semakin kompetitif,” pesannya kepada mahasiswa.

Sementara itu, pembicara kedua, Amondech Inkaew, mengulas pentingnya ketahanan rantai pasok atau supply chain resilience dalam menghadapi gangguan bisnis. Ia menjelaskan bahwa ketahanan rantai pasok tidak hanya berkaitan dengan kecepatan perusahaan merespons perubahan, tetapi juga kemampuannya untuk tetap beroperasi, beradaptasi, dan pulih ketika menghadapi gangguan.
“Merespons perubahan dengan cepat memang penting, tetapi ketahanan rantai pasok lebih dari itu. Perusahaan harus mampu tetap beroperasi, beradaptasi, dan pulih ketika menghadapi gangguan,” jelas Amondech.
Sebagai contoh, ia mengangkat dampak banjir di Thailand terhadap industri otomotif. Menurutnya, kegiatan produksi dapat terhenti meskipun pabrik perakitan tidak terdampak banjir secara langsung. Hal ini terjadi ketika pemasok komponen atau jalur distribusi mengalami gangguan sehingga bahan yang dibutuhkan tidak dapat tiba sesuai jadwal.
Amondech menekankan bahwa perusahaan perlu mempertimbangkan risiko tersebut dalam mengelola rantai pasok. Ketergantungan pada satu pemasok atau wilayah produksi dapat meningkatkan kerentanan bisnis. Karena itu, perusahaan perlu menyiapkan alternatif pemasok, jalur distribusi, serta persediaan cadangan secara terukur.
“Efisiensi saja tidak cukup. Perusahaan perlu menyeimbangkan efisiensi dengan kemampuan menghadapi gangguan agar kegiatan produksi tetap dapat berjalan,” tegasnya.
Selain itu, ia memperkenalkan pemanfaatan teknologi seperti digital twin, otomatisasi, dan kecerdasan buatan untuk membantu perusahaan memprediksi risiko, mengevaluasi alternatif distribusi, serta meningkatkan efisiensi operasional. Namun, ia mengingatkan bahwa penggunaan teknologi tetap memerlukan pengawasan dan pengambilan keputusan oleh manusia.

Melalui kedua paparan tersebut, mahasiswa memperoleh dua perspektif yang saling melengkapi dalam membangun bisnis berkelanjutan, yakni pentingnya kesiapan sumber daya manusia untuk menjalankan perubahan dan kemampuan perusahaan menjaga ketahanan operasional ketika menghadapi gangguan.
Kuliah umum ini menjadi salah satu upaya FEB UNEJ memperluas wawasan internasional mahasiswa mengenai perkembangan dunia bisnis. Pemahaman tentang transformasi hijau, pengelolaan sumber daya manusia, dan ketahanan rantai pasok diharapkan dapat menjadi bekal bagi mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja sekaligus mendorong praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan. (qf)

