Jember, 3 November 2026
Keberhasilan program pengabdian kepada masyarakat tidak hanya dilihat dari inovasi yang dihasilkan, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya dapat terus dirasakan setelah masa pendampingan berakhir.
Bagi masyarakat desa, keberlanjutan kerja sama dengan perguruan tinggi menjadi hal penting agar berbagai potensi yang telah dikembangkan tidak berhenti ketika program selesai.Harapan tersebut mengemuka dalam kegiatan Sarasehan, Expo, dan Temu Desa Binaan Universitas Jember (UNEJ) yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) di Gedung Auditorium UNEJ, Selasa (3/11). Melalui sesi lesson learned, lima desa binaan terpilih berbagi pengalaman mengenai hasil pendampingan, tantangan yang dihadapi, hingga upaya menjaga keberlanjutan program.

Berbagai praktik baik ditampilkan dalam forum tersebut. Di Desa Slateng, pendampingan pertanian melalui pemanfaatan limbah serbuk gergaji menjadi biochar membantu petani menekan biaya produksi hingga 40 persen. Sementara itu, pengembangan wisata Mini Jimbaran di Pantai Pancer, Puger Kulon, membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat melalui wisata kuliner dan kolam pemandian air asin.
Di Desa Bangsalsari, inovasi kandang ayam petelur yang terintegrasi dengan budidaya maggot dimanfaatkan untuk mendukung pemenuhan gizi balita melalui Posyandu. Desa Jambearum mengembangkan Kelompok Wanita Tani (KWT) dan pemanfaatan limbah pertanian, sedangkan di pesisir Tanjung Sekeben, Banyuwangi, kegiatan restorasi terumbu karang mulai menunjukkan hasil melalui pertumbuhan karang dan kembalinya ikan di kawasan tersebut.
Pengalaman kelima desa itu sekaligus memperlihatkan bahwa setiap wilayah memiliki kebutuhan dan tantangan yang berbeda. Selain keberhasilan, sejumlah kendala turut menjadi bahan pembelajaran, mulai dari keterbatasan sumber daya manusia, kondisi lingkungan, hingga kebutuhan pengembangan usaha dan fasilitas pendukung.

Menanggapi berbagai pengalaman tersebut, perwakilan kepala desa dan kelompok masyarakat sasaran menyampaikan lima rekomendasi untuk memperkuat pengabdian UNEJ. Rekomendasi itu dibacakan oleh Kepala Desa Sumber Kokap, Kecamatan Taman Krocok, Bondowoso, Mukhlasin, yang menekankan pentingnya kemitraan jangka panjang antara kampus dan desa.
“Kami tidak hanya membutuhkan program yang hadir di desa, tetapi kemitraan yang tumbuh bersama desa. Kami tidak hanya mengharapkan manfaat sesaat, tetapi kemandirian dan kesejahteraan yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Melalui rekomendasi tersebut, perwakilan desa berharap pendampingan dapat dilanjutkan dengan rencana tindak lanjut yang jelas dan melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan hingga evaluasi. Mereka juga mendorong penguatan ekonomi lokal melalui teknologi tepat guna, perluasan kolaborasi multipihak, serta pengukuran keberhasilan berdasarkan perubahan yang benar-benar dirasakan warga.

Sejalan dengan aspirasi tersebut, Drs. F.X. Nugroho Setijo Nagoro, M.Si., dari Kementerian Desa, dalam paparannya secara daring menekankan bahwa pembangunan desa perlu berangkat dari kebutuhan masyarakat. Menurutnya, perencanaan pembangunan harus mampu menjawab tiga pertanyaan mendasar, yakni siapa yang membutuhkan, dimana persoalannya, dan apa pilihan penyelesaiannya.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari hasil fisik atau jumlah kegiatan, melainkan dari manfaat yang diperoleh masyarakat. Karena itu, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membantu desa memetakan persoalan, mengembangkan potensi, dan meningkatkan kapasitas masyarakat agar semakin mandiri.
Sementara itu, Wakil Rektor I UNEJ, Prof. Slamin, menegaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat harus menjadi bagian dari pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi yang berorientasi pada perubahan nyata. Ia menyampaikan bahwa UNEJ memiliki sumber daya dosen dan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu yang dapat dilibatkan untuk mendukung pembangunan desa melalui kolaborasi.

“Kita ingin kampus hadir bukan sebagai menara gading, melainkan sebagai menara air yang mengalirkan keberkahan bagi semua,” ujarnya.
Menurut Prof. Slamin, hubungan antara kampus dan desa perlu dibangun melalui proses saling belajar. Perguruan tinggi hadir bukan untuk menggurui masyarakat, melainkan bekerja bersama pemerintah desa dan warga dalam mencari solusi yang sesuai dengan kondisi setempat.
Melalui forum ini, pengalaman dan aspirasi masyarakat diharapkan menjadi bahan evaluasi sekaligus pijakan bagi pengembangan program pengabdian UNEJ berikutnya. Dengan demikian, hasil pendampingan tidak berhenti sebagai capaian kegiatan, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi upaya bersama untuk memperkuat kemandirian dan kesejahteraan desa. (qf)

