Jember, 3 November 2026
Universitas Jember (UNEJ) terus memperkuat perannya dalam pemberdayaan masyarakat desa melalui penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang dikembangkan di perguruan tinggi.
Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Sarasehan, Expo, dan Temu Desa Binaan yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UNEJ di Gedung Auditorium, Selasa (3/11).Mengusung tema “Kampus Berdampak, Desa Berdaya: Kolaborasi Multipihak untuk Membangun Peradaban dan Kesejahteraan Desa”, kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-62 UNEJ ini mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah, dan mitra desa untuk berbagi pengalaman serta memperkuat kolaborasi dalam pembangunan desa. Melalui kegiatan tersebut, UNEJ juga menghadirkan praktik baik dari lima desa binaan terbaik yang terpilih melalui proses kurasi program pengabdian kepada masyarakat tahun 2026.
Rektor UNEJ, Dr. Ir. Iwan Taruna, M.Eng., IPM., ASEAN Eng., saat membuka kegiatan menegaskan bahwa desa bukan sekadar objek penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat. Desa merupakan mitra perguruan tinggi yang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kearifan lokal untuk bersama-sama menjawab berbagai persoalan pembangunan.

“Desa tidak boleh dipandang sekadar sebagai objek penelitian atau objek pengabdian. Desa adalah ruang kehidupan masyarakat tempat berkembangnya ekonomi lokal, budaya, dan berbagai persoalan pembangunan yang harus kita selesaikan bersama. Karena itu, hubungan antara kampus dan desa harus dibangun atas dasar kemitraan dan saling belajar,” tegasnya.
Menurut Iwan, keberhasilan pengabdian kepada masyarakat tidak cukup diukur dari jumlah program, pelatihan, maupun publikasi yang dihasilkan. Dampaknya harus terlihat dari peningkatan kualitas produk petani dan pelaku UMKM, pemanfaatan teknologi, hingga penguatan kelembagaan desa.
“Keberhasilan jangan hanya diukur dari berapa banyak program, pelatihan, paper yang dihasilkan, atau seberapa banyak peserta yang hadir. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah bagaimana dampaknya secara nyata,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kemajuan perguruan tinggi tidak semata-mata ditentukan oleh peringkat, jumlah publikasi, maupun fasilitas yang dimiliki, tetapi juga dari kontribusinya terhadap kehidupan masyarakat. Menurutnya, ketika petani semakin produktif, UMKM berkembang, dan masyarakat desa semakin sejahtera melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, di situlah makna kampus berdampak dapat dirasakan.
“Mari kita jadikan desa bukan sebagai halaman belakang pembangunan, melainkan sebagai salah satu fondasi utama kemajuan bangsa. Karena kampus yang hebat bukan hanya kampus yang menghasilkan IPTEK, tetapi kampus yang mampu menjadikan IPTEK tersebut sebagai kekuatan untuk memajukan kehidupan,” pesannya.

Sementara itu, Kepala LP2M UNEJ, Prof. Dr. Yuli Witono, S.TP., M.P., menyampaikan bahwa pada 2026 terdapat 183 pendaftar program pengabdian kepada masyarakat yang mengikuti proses kurasi hingga terpilih 62 desa mitra. Jumlah tersebut sekaligus diselaraskan dengan peringatan Dies Natalis ke-62 UNEJ. Dari keseluruhan desa mitra, lima desa binaan terbaik dipilih untuk memaparkan praktik baik hasil pendampingan.
Prof. Yuli menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi ruang untuk mempertemukan hasil penelitian dengan kebutuhan masyarakat. Ia berharap berbagai inovasi yang dikembangkan perguruan tinggi dapat terus dimanfaatkan dan tidak berhenti setelah program pendampingan selesai.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menjadikan pengabdian masyarakat sebagai jendela untuk mengalirkan hasil penelitian agar menjadi riset yang berdampak nyata. Pembangunan desa tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan memerlukan kolaborasi perguruan tinggi melalui pendampingan ilmu dan inovasi,” jelasnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek, Prof. I Ketut Adnyana, yang hadir secara daring, menyoroti pentingnya perubahan peran perguruan tinggi. Menurutnya, pendidikan, penelitian, dan pengabdian perlu terintegrasi agar ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menjawab persoalan nyata, seperti kemiskinan, kesehatan, dan ketimpangan pembangunan daerah.
“Paradigma perguruan tinggi kini bertransformasi dari tower of knowledge menjadi transformative university atau motor perubahan bangsa,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa transformasi tersebut membutuhkan kolaborasi multipihak, mulai dari perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, hingga masyarakat. Kemdiktisaintek juga mendorong berbagai skema pengabdian berbasis pemberdayaan masyarakat, kewirausahaan, dan pengembangan wilayah.
Selain sarasehan, kegiatan ini menghadirkan sesi lesson learned dari lima desa binaan terbaik sebagai ruang berbagi pengalaman, keberhasilan, dan tantangan selama proses pendampingan. Rangkaian kegiatan turut dilengkapi expo yang memperkenalkan hasil pengabdian serta potensi pengembangan desa.

Melalui kegiatan tersebut, UNEJ berharap kolaborasi antara kampus dan desa dapat terus berlanjut, sehingga hasil penelitian dan inovasi tidak hanya menjadi capaian akademik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat. (qf)

