Mau Dibawa Kemana Program Studi Agribisnis di Era Revolusi Industri 4.0 ?

[vc_row][vc_column][vc_column_text]

Jember, 3 November 2018

                Revolusi Industri 4.0. sudah di depan mata, membawa begitu banyak perubahan di banyak bidang, salah satunya di dunia pertanian, termasuk pendidikan tinggi Agribisnis. Tidak heran jika lantas muncul pertanyaan apakah masih perlu penyuluh pertanian jika sudah begitu mudah mencari informasi di youtube ? Adakah hubungan antara pertanian dengan teknologi ruang angkasa ? Apakah Program Studi Agribisnis bakal menjadi program studi monodisiplin, multidisiplin atau malah transdisiplin ? Mau dibawa kemana Program Studi Agribisnis di era revolusi Industri 4.0 ? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengemuka dalam kegiatan seminar nasional bertema Pembangunan Pertanian dan Peran Pendidikan Tinggi Agribisnis : Peluang dan Tantangan di Era Revolusi Industri 4.0. yang digelar oleh Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jember (3/11).

                Ketua Asosiasi Program Studi Agribisnis Indonesia, Iwan Setiawan, yang menjadi salah satu pemateri mencoba memberikan gambaran Program Studi Agribisnis di era Revolusi Industri 4.0. Menurutnya Program Studi Agribisnis wajib berubah menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi, dan bersifat disruptif. “Mari kita bayangkan masa sepuluh tahun mendatang ke masa kini, mau tidak mau harus ada adaptasi sehingga masa depan bisa diantisipasi,” ujar Iwan Setiawan. Ketua Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran ini lantas memberikan contoh bagaimana saat ini sudah ada perusahaan yang melakukan riset sagu sebagai bahan makanan bagi astronot yang akan ke luar angkasa. Ada metode membuat tanah yang keras jadi gembur dengan nanoteknik. Juga para desainer yang mencontoh dahan pohon dan daun sebagai sumber desainnya.

                “Artinya Program Studi Agribisnis menjadi program studi yang transdisiplin, yang terbuka berkolaborasi dengan disiplin ilmu lainnya. Mahasiswa Program Studi Agribisnis tidak melulu belajar ilmu ekonomi pertanian, namun juga ekonomi digital dan cara membaca data agar siap menjadi menghadapi era Revolusi Industri 4.0.,” jelas dosen yang aktif menulis buku ini. Dirinya lantas mengingatkan hadirin yang mayoritas dosen, mahasiswa, dan peneliti pertanian agar juga memperhatikan mahasiswa saat ini yang adalah generasi Z yang berbeda dengan mayoritas dosennya. Untuk itu sudah seharusnya jika dosen juga mengikuti perkembangan teknologi informasi dan komunikasi agar mampu berkomunikasi dengan baik dengan mahasiswanya. “Jangan lupa, walaupun kemajuan TIK sudah sedemikian canggih, mahasiswa tetap harus dibekali dengan dasar pembangunan karakter dan nilai-nilai kemanusiaan,” imbuh Iwan Setiawan.

                Apa yang disampaikan oleh Iwan Setiawan senada dengan materi yang dibawakan sebelumnya oleh guru besar ekonomi pertanian Universitas Jember, Prof. Rudi Wibowo. Dalam pemaparannya, Prof. Rudi Wibowo kembali menyampaikan tiga literasi yang harus diberikan kepada mahasiswa, termasuk mahasiswa Program Studi Agribisnis, agar siap menghadapi era Revolusi Industri 4.0. Yakni literasi data, literasi teknologi informasi dan komunikasi, serta literasi humaniora. “Bukan jamannya lagi kuliah bersifat one way traffic communication, harusnya paradigmanya adalah bagaimana kita belajar bersama, bukan menentukan mahasiswa harus belajar apa,” ungkap Prof. Rudi Wibowo.

                Direktur Pascasarjana Universitas Jember ini kemudian menjelaskan pentingnya posisi Program Studi Agribisnis jika dikaitkan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) yang sudah ditetapkan oleh PBB, dan diratifikasi oleh semua negara di dunia. “Salah satu tujuan SDGs adalah zero hunger, maka erat kaitannya dengan Program Studi Agribisnis karena tujuh puluh persen kajian Agribisnis adalah terkait pangan. Zero poverty juga menjadi tujuan SDGs, dan Agribisnis juga bicara mengenai bagaimana mengembangkan desa yang merupakan daerah dimana mayoritas penduduk Indonesia tinggal. Maka Program Studi Agribisnis tetap relevan dengan perkembangan jaman, termasuk di era Revolusi Industri 4.0,” jelas Prof. Rudi Wibowo yang juga ketua kelompok riset SDGs di Kampus Tegalboto.

                Sementara itu dalam laporannya, M. Rondhi, ketua panitia kegiatan memaparkan, selain menggelar seminar dengan pembicara utama Prof. Rudi Wibowo, dan Dr. Iwan Setiawan, pihaknya juga menghadirkan Prof. Bustanul Arifin dari Universitas Lampung, dan Prof. Masyhuri dari Universitas Gadjah Mada. “Kami juga mengadakan simposium yang diikuti oleh 102 peserta yang mengirimkan karya ilmiahnya di lima subtema, yakni tema kelembagaan pertanian, penyuluhan dan pembangunan pertanian, ekonomi pertanian dan agribisnis, perencanaan dan evaluasi pembangunan pertanian, dan agroekoteknologi,” ujar M. Rondhi.

                Acara seminar dan simposium dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Jember, Moh. Hasan. Dalam sambutannya Moh. Hasan berharap kegiatan kali ini menjadi salah satu playing ground bagi para peneliti di Kampus Tegalboto. ”Universitas Jember siap mendukung kegiatan ilmiah di Kampus Tegalboto, apalagi sudah ada 300 kelompok riset dengan beragam kajian. Semua kelompok riset mendapatkan dukungan dana tanpa terkecuali dengan tujuan agar kualitas dan kuantitas riset yang dihasilkan makin baik. Dan hasilnya mulai nampak, jadi jangan heran jika setiap akhir pekan banyak yang berebut ruangan untuk mengadakan acara ilmiah,” kata Moh. Hasan memberikan semangat bagi para peneliti Universitas Jember yang hadir di aula Fakultas Pertanian. (iim)

[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

Skip to content