Jember, 17 April 2026
Bergerak dan bermain adalah esensi pendidikan yang sering terlupakan di era digital.
Saat ini, permainan tradisional bukan lagi sekadar hiburan usang, melainkan alternatif pembelajaran inovatif yang mampu mengalihkan perhatian anak dari gadget ke akar budaya lokal. Pendekatan ini selaras dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs 4) yang menekankan pada proses pembelajaran berkualitas dan bermakna.Potret edukasi berbasis budaya ini kemudian diabadikan oleh tim mahasiswa Fasilkom UNEJ yang terdiri dari Marsha Hafiz Devara, Khairunnisa, dan Sulis Tya Wati. Melalui teknik mobile journalism, “Mojokerto Team” mendokumentasikan bagaimana Tanoker Ledokombo menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal sebagai pilar pendidikan karakter anak bangsa.
Menurut Marsha Hafiz Devara, pemilihan objek ini memiliki alasan yang menarik. Tim melihat terdapat suatu inovasi, di mana anak-anak tingkat sekolah dasar (SD) belajar dengan pendekatan berbasis budaya dan permainan tradisional egrang. Dengan adanya program ini, SDGs 4 tidak hanya memberikan akses pendidikan bermutu, namun juga menanamkan nilai budaya serta dapat mengurangi ketergantungan gadget pada anak usia SD.

“Tema lomba yang kami ikuti tentang SDGs 4 yaitu pendidikan yang berkualitas. Setelah itu kami mencari program pendidikan yang menarik dan inovatif yang sesuai dengan tema yang kami usung di daerah Jember. Kami menemukan Tanoker Ledokombo ini menyediakan pendidikan untuk anak-anak di daerah tersebut disertai pelestarian permainan tradisional, sehingga anak tidak bergantung pada gadget,” jelasnya.
Lebih lanjut, kompetisi ini tidak menciptakan suatu aplikasi digital, namun menghasilkan sebuah inovasi karya berupa video jurnalistik berbasis mobile journalism. Adapun video tersebut menampilkan aktivitas pembelajaran di Tanoker Ledokombo yang dibungkus secara menarik, edukatif dan informatif.
Sebagai lomba berbasis mobile journalism, tim langsung terjun ke lapangan untuk melakukan peliputan, pengambilan footage, riset dan wawancara dengan petugas dan peserta didik yang ada. Akan tetapi, proses ini juga mengalami sebuah tantangan berupa jarak tempuh lokasi yang cukup jauh dan keterbatasan klip video saat proses editing. Ketika menyadari kekurangan tersebut, alhasil tim harus kembali ke lokasi untuk menambahkan video liputan.

“Tentu jarak lokasi lumayan jauh yang menguras energi. Apalagi kebutuhan video klip yang kurang dan baru sadar saat hari pertama proses editing video. Jadi, besoknya kami kembali lagi ke tempat liputan,” imbuhnya.
Marsha juga memberikan motivasi bagi mahasiswa lain agar terus mencoba dari berbagai kesempatan yang ada. Meskipun, terkadang harus berhadapan dengan sebuah kegagalan. Akan tetapi, dari sanalah kita bisa membangun strategi yang lebih baik.
“Tetap mencoba kesempatan yang ada, dari beberapa percobaan dan kegagalan kita dapat mengambil pelajaran yang positif untuk membangun strategi lomba ke depannya,” pungkasnya.
Karya video jurnalistik ini tidak hanya sekadar dokumentasi, tapi juga penghantar kemenangan. Mojokerto Team sukses meraih Juara 1 dalam ajang C’MON 2026 di Universitas Muhammadiyah Malang melalui kategori Mobile Journalism. Prestasi yang diraih pada akhir Januari lalu ini menjadi validasi bahwa pesan edukasi yang dikemas secara apik memiliki daya tarik yang luar biasa.

Pencapaian ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi pendidik dan generasi muda lainnya untuk terus berinovasi. Dengan menghadirkan metode yang lebih dekat dengan dunia anak, masa depan pendidikan Indonesia akan jauh lebih berwarna, dinamis, dan tentunya lebih bermakna. (dil/rb)
#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #IKU3
