Jember, 4 Juni 2026
Rekam jejak internasional yang impresif tidak melulu soal latar belakang, melainkan buah dari konsistensi dan keberanian mengambil peluang.
Prinsip inilah yang dibuktikan oleh Yasinda Syifa Vardian, mahasiswi Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember (UNEJ). Setelah sukses menyelesaikan rangkaian program internasional, kini ia bersiap membawa pulang pengalaman berharganya untuk menginspirasi lingkungan kampus.Bagi Yasinda, dunia internasional bukanlah hal baru. Pengalaman masa kecilnya yang sempat tinggal di Bogota, Kolombia, menjadi pemantik awal ketertarikannya pada diplomasi budaya. Melalui kerja sama antara lembaga sekolah tempatnya bernaung dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu), sang ayah yang merupakan perwira TNI AD mendapat amanah untuk ditugaskan sebagai bagian dari Divisi Komunikasi KBRI Bogota. Selama tinggal di luar negeri tersebut, Yasinda melihat secara langsung bagaimana keluarganya aktif memperkenalkan budaya Indonesia melalui berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak kedutaan.

Menariknya, keseharian Yasinda di Kolombia—yang dikenal sebagai salah satu produsen kopi terbaik dunia—membuatnya akrab dengan komoditas tersebut. Ia mengamati bagaimana kopi tidak hanya menjadi konsumsi harian, tetapi juga identitas bangsa yang diperkenalkan secara masif ke dunia luar. Terinspirasi dari lingkungan masa kecilnya yang aktif memperkenalkan budaya Indonesia di luar negeri, Yasinda tumbuh dengan motivasi besar untuk mengukir prestasinya sendiri di panggung global melalui jalur akademik.
Langkah nyata tersebut ia buktikan saat berkesempatan mengikuti program student exchange di Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Malaysia. Selama empat bulan di sana, Yasinda tidak hanya sekadar duduk di bangku kuliah. Ia sukses menorehkan prestasi gemilang dengan meraih penghargaan Excellence in Overall Research Achievement sekaligus Juara 1 dalam International Conference yang diselenggarakan oleh IRRiS bertemakan “VISIONAIR: Vision for Sustainability and International Relations.”
Dalam konferensi tersebut, Yasinda memukau juri melalui penelitiannya yang berjudul “Coffee Diplomacy: Juan Valdez and Colombia’s National Branding Strategy.” Dengan gaya presentasi yang interaktif dan taktis, ia berhasil membedah bagaimana kopi dapat bertransformasi dari sekadar komoditas ekonomi menjadi alat diplomasi non-formal yang ampuh dalam membangun citra sebuah negara.

“Saya melihat langsung bahwa diplomasi tidak selalu terjadi di ruang formal tertutup, tetapi juga bisa berlangsung cair melalui budaya dan produk nasional,” ujar Yasinda mengingat proses kompetisinya.
Selain keunggulan akademik, pengalaman global Yasinda juga diperkaya dengan aksi kemanusiaan nyata. Selama di Malaysia, ia aktif menjadi relawan di refugee camp komunitas Rohingya di Kuala Nerus, melakukan perjalanan akademik ke Thailand, hingga terlibat dalam berbagai forum diskusi global. Baginya, seluruh proses ini adalah ruang pembentukan kesiapan diri yang menyeluruh, mulai dari adaptasi budaya hingga ketahanan mental.
Kembali dari masa pertukaran pelajar, Yasinda tidak ingin ilmu dan pengalamannya berhenti di dirinya sendiri. Sebagai tindak lanjut nyata selaku mahasiswi aktif UNEJ, ia berkomitmen untuk menginisiasi forum-forum diskusi dan sharing session di tingkat program studi maupun fakultas.

“Rencana terdekat saya adalah membagikan peta taktis dan strategi menembus peluang internasional kepada rekan-rekan sesama mahasiswa di FISIP. Saya ingin membantu menjustifikasi anggapan bahwa kompetisi internasional itu menakutkan,” ungkapnya saat ditemui di FISIP (03/06/2026).
Lebih lanjut, Yasinda berencana menyalurkan pengalamannya dalam riset Coffee Diplomacy untuk mendukung kajian-kajian komoditas lokal di Jember. Mengingat Jember merupakan salah satu daerah penghasil kopi utama, ia berharap dapat berkolaborasi dengan dosen dan mahasiswa lain untuk mengkaji potensi diplomasi kopi lokal guna mendongkrak branding daerah di kancah internasional.
Melalui langkah tindak lanjut ini, Yasinda berharap dapat memicu ekosistem kompetisi yang lebih hidup di lingkungan kampus, sekaligus membuktikan bahwa kegagalan di satu pintu—seperti saat ia sempat batal mengikuti program IISMA karena regulasi penutupan—bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pengalih rute menuju gerbang sukses yang lain.

“Kompetisi internasional bukan tentang siapa yang paling siap sejak awal, tetapi siapa yang berani melangkah meskipun belum merasa siap. Kita tidak harus sempurna untuk memulai, kita hanya perlu berani. Dan kini saatnya saya membagikan keberanian itu kepada teman-teman di UNEJ,” pungkasnya. (dil/rb)
#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #IKU3

