Jember, 29 September 2026
Penyakit layu Fusarium menjadi salah satu persoalan yang dihadapi petani pisang di Desa Kemiri, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember.
Penyakit yang disebabkan oleh cendawan Fusarium sp. tersebut dapat mengganggu pertumbuhan tanaman hingga menyebabkan tanaman pisang mati sebelum memasuki masa panen. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada produktivitas kebun, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi bagi petani.Melihat kondisi tersebut, tim Program Mahasiswa Berdesa (Promahadesa) di bawah bimbingan Tri Handoyo, S.P., Ph.D., Kepala UPA PL2T dan anggota Sozia Dikria Aulina Amahera (Faperta), Ezra Immanuel Nugroho (FT), Muhammad Afif Aqila (FT), Rasyid Muhammad Fatchurrahman (FT), Sekar Amalya Rosemawangi (FKM), Nayla Aulia Azzahra (FK), Pangestu Eka Septiyani (Faperta), dan Muhammad Holel (Faperta) menghadirkan ECO-PROTECTION (Optimalisasi Bio Protection Trichoderma sp. untuk mengendalikan Fusarium oxysporum pada Pisang dan Alat Aplikasi Inovatif dari Barang Bekas untuk Pertanian Berkelanjutan Desa Kemiri). Program yang dilaksanakan pada Juni hingga Desember 2026 di Desa Kemiri, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, tersebut berfokus pada pemanfaatan Trichoderma sp. sebagai alternatif pengendalian hayati sekaligus pengembangan alat yang dapat digunakan oleh petani.
Salah satu inovasi yang dikembangkan dalam program ini adalah Tricho Inject, alat sederhana untuk membantu mengaplikasikan Trichoderma sp. ke dalam tanah di sekitar tanaman pisang. Inovasi ini dikembangkan sebagai salah satu alternatif pengendalian hayati yang dapat diterapkan masyarakat dengan memanfaatkan Trichoderma sp., mikroorganisme yang dikenal memiliki kemampuan antagonis terhadap berbagai patogen tanaman, termasuk patogen penyebab penyakit layu Fusarium.

Tricho Inject dirancang agar isolat Trichoderma dapat dimasukkan langsung ke dalam tanah di sekitar tanaman. Alat tersebut memiliki wadah untuk menempatkan isolat Trichoderma. Setelah alat ditancapkan di sekitar tanaman pisang, tuas ditarik sehingga isolat keluar dan masuk ke dalam tanah. Lubang atau bagian tanah yang telah diaplikasikan kemudian ditutup kembali untuk melindungi isolat dari gangguan ayam maupun hewan lainnya.
“Keunggulan alat ini yaitu mampu membantu isolat Trichoderma langsung masuk ke dalam tanah. Sebelumnya, masyarakat Desa Kemiri hanya melakukan pengendalian dengan cara menebang tanaman kemudian membiarkannya, sementara sebagian lainnya menggunakan fungisida,” jelas Sozia, anggota tim promahadesa.
Pengembangan Tricho Inject tidak hanya berfokus pada pembuatan alat. Tim promahadesa terlebih dahulu melakukan sosialisasi mengenai penyakit layu Fusarium, mulai dari pengenalan gejala hingga alternatif pengendaliannya. Masyarakat kemudian mendapatkan pelatihan perbanyakan Trichoderma sp., pembuatan Tricho Inject, serta praktik penggunaannya pada tanaman pisang. Tahapan tersebut dilakukan agar teknologi yang diperkenalkan tidak berhenti pada penggunaan alat yang diberikan. Masyarakat juga memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk memperbanyak Trichoderma serta membuat Tricho Inject secara mandiri.

Dalam proses pendampingan, tim menemukan bahwa sebagian petani sempat cenderung memilih metode pengendalian yang dianggap memberikan hasil lebih cepat ketika menghadapi serangan penyakit tanaman. Salah satunya adalah penggunaan fungisida. Untuk menjawab tantangan tersebut, tim melakukan survei dan memberikan edukasi mengenai penggunaan pestisida serta alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan. Masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai ciri-ciri setiap metode sehingga dapat mempertimbangkan penggunaan metode yang sesuai dengan kondisi tanaman dan lingkungan.
Ke depan, tim tidak ingin pemanfaatan Trichoderma sp. dan Tricho Inject berhenti setelah program selesai saja. Keduanya diharapkan dapat berkembang sebagai produk yang dapat diproduksi, dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Kemiri, dan memperkuat kemandirian petani dalam menghadapi penyakit tanaman sekaligus membuka peluang ekonomi di desa.

“Kami berharap Trichoderma sp. ini menjadi produk yang dapat dipasarkan, begitu pun dengan alat Tricho Inject, karena dapat membantu mengendalikan penyakit Fusarium dan juga mendukung perputaran ekonomi masyarakat,” pungkasnya. (dil/ajf)
#DiktisaintekBerdampak #UNEJBerdampak #IKU3 #IKU5 #IKU7 #IKU12

